Thursday, December 23, 2010

HaTi

' Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan HATI, agar kamu bersyukur ' (Qs an Naml : 78)

Itulah tujuan Allah memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati kepada manusia. Yakni agar manusia bersyukur.

Dalam tema pembahasan note kali ini mengupas masalah HATI.

Pada faktanya, hati manusia tergolong dalam 3 kondisi :

1.Hati yang hidup dan sehat.

Yakni : hati orang-orang yang beriman (mu'min) kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizqi yang Allah anugerahkan kepada mereka, yang beriman kepada kitabullah (zabur, taurat, injil, al Qur'an), serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat (Qs al Baqarah : 3-4).

Sebagai imbalan dari Allah bagi orang-orang beriman yang memiliki hati hidup dan sehat, mereka mendapatkan : petunjukNya dan keberuntungan (Qs al Baqarah : 5).

2. Hati yang mati.

Yakni : hati orang-orang kafir. Dan imbalan bagi kekafiran mereka adalah siksa yang pedih.

' Sesungguhnya orang-orang kafir, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat ' (Qs al Baqarah : 6-7).

3. Hati yang sakit.

Yakni : hati orang-orang munafik. Dan imbalan atas kemunafikan mereka adalah : kerugian, kesesatan dan tiadanya petunjuk serta mendapatkan siksa Allah.

' Di antara manusia ada yang mengatakan : 'Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian '. Padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya. Dan bagi mereka siksa pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan bila dikatakan kepada mereka, 'janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab : sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. ' Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. Apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman', mereka menjawab, 'Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman?'. Ingatlah, sesungguhnya mereka lah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang beriman, mereka mengatakan, 'Kami telah beriman.' Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanya berolok-olok. Allah membalas olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk ' (Qs al Baqarah : 8-16).

Faktanya, dari Qs al Baqarah : 3-16 di atas, tidak semua manusia bersyukur atas n�'mat Allah yang dianugerahkan kepada mereka, berupa ni'mat pendengaran, penglihatan, dan HATI. Karena sebagian manusia 'kafir' kepada Allah dan 'munafik', hendak menipu Allah dengan menipu dan mengaku kepada orang-orang beriman bahwa mereka beriman pada Allah. Tetapi mereka tertipu oleh kemunafikannya sendiri.

Semoga kita memiliki hati yang hidup dan sehat. Bukan hati yang sakit apalagi mati.

Wallahu a'lam..

Tuesday, December 14, 2010

Merespon Ni'mat Allah ala Nabi Sulaiman ataukah Qorun?



Berbicara tentang urusan sikap kita saat menerima ni'mat Allah, sadar atau tidak, identik dengan dua figur legendaris dalam urusan harta (dan kekuasaan). Yakni Nabi Sulaiman dan Qorun. Dua figur yang mewakili citra putih dan hitam atau terang dan gelap.


RESPON NABI SULAIMAN akan NI'MAT ALLAH


Nabi Sulaiman dikaruniai oleh Allah kekayaan dan kekuasaan yang luar biasa. Besarnya tak tertandingi hingga hari kiamat kelak. Kekuasaannya bukan hanya terbatas pada manusia, namun jugga meliputi jin dan binatang-binatang yang tunduk kepada beliau. Bahkan beliau diberi kemampuan (=mu'jizat) untuk berkomunikasi dengan binatang.



Simak kisah Nabi Sulaiman saat mendengar pembicaraan semut ditengah perjalanannya,



" Hingga apabila mereka (Nabi Sulaiman dan rombongannya) sampai di lembah semut berkatalah seekor semut : ' Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.' Maka dia (Nabi Sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena mendengar perkataan semut itu. Dan dia berdo'a : ' Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri ni'matMu yang Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dia orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal sholih yang Engkau ridhoi ; dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang sholih. '..." (Qs an Naml : 18-19)




Simak pula kisah Nabi Sulaiman saat memeriksa barisan pasukannya,



" Dan dia (Nabi Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata, ' Mengapa aku tak melihat burung hud-hud, apakah dia termasuk yang tak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazhabnya dengan azhab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang'. Maka tak lama kemudian datanglah burung hud-hud, lalu ia berkata, ' Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya ; dan kubawa kepadamu berita dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah. Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah. Sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah yang telah mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.'.." (Qs an Naml : 20-25)






Nabi Sulaiman sangat kaya dan berkuasa. Namun kekayaan dan kekuasaannya tidak menjadikan hijab atau penghalang bagi beliau untuk menyempurnakan penghambaan nya kepada Allah Ta'alaa.

Perhatikan respon beliau kala mendengar perkataan semut diatas. Sungguh luar biasa..tidak sombong. Justru ni'mat berupa kemampuan (mu'jizat) yang diberikan Allah pada beliau untuk mendengar pembicaraan semut direspon nya dengan membaca do'a yang tersebut dalam Qs an Naml : 18-19 diatas.



Simak pula respon Nabi Sulaiman kala singgasana Ratu Bilqis sudah berpindah ke tangan beliau.



" Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata, ' Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari akan ni'matNya. Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku maha Kaya lagi maha Mulia " (Qs an Naml : 40).



Subhanallah! Luar biasa. Kekayaan dan kekuasaan yang begitu besarnya itu justru menjadikan Nabi Sulaiman semakin mendekatkan diri pada sang maha Pencipta dan Pengatur.





RESPON QORUN akan NI'MAT ALLAH


Berbeda dari respon Nabi Sulaiman, Qorun justru menjadi kufur dengan ni'mat kekayaannya. Kekayaan telah membuat Qorun menjadi ujub atau sombong. Ia merasa bahwa kekayaannya yang dia peroleh disebabkan oleh kepandaiannya dan ilmunya. Ucapan ujub Qorun tersebut diabadikan oleh Allah dalam firmanNya,



" Qorun berkata, ' Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.'.." (Qs al Qoshshosh : 78)



Astaghfirullah! Na'udzubillah min Dzaalik...





BAGAIMANA RESPON KITA akan NI'MAT ALLAH?


Respon manusia pada jaman ini, siapapun orangnya, sadar atau tidak, mewakili salah satu diantara dua figur legendaris diatas , Nabi Sulaiman yang mewakili figur yang rendah hati dan mensyukuri ni'matNya, dan Qorun yang mewakili figur yang ujub (sombong) dan mengkufuri ni'matNya.



Alangkah beruntunglah manusia yang merespon ni'mat Allah sebagaimana Nabi Sulaiman meresponnya. Dan alangkah meruginya manusia yang merespon ni'mat Allah sebagaimana Qorun meresponnya.

Kekayaan dan kekuasaan hendaknya senantiasa menjadikan diri kita tidak lupa diri dan selalu ingat Allah serta bersyukur padaNya, dengan menggunakan harta dan kekuasaan yang Allah berikan pada kita untuk semakin mendekat kepada Allah dan bersikap amanah serta adil terhadap kekayaan dan kekuasaan kita. Apapun kedudukan dan profesi kita.

Kekayaan tak menjadikan diri kita ujub dan ingkar pada Allah. Kekayaan dan kekuasaan tak seharusnya menjadikan diri kita semakin serakah, rakus, dan bersikap zholim pada sesama manusia. Seperti yang saat ini sudah biasa kita temui pada diri sebagian orang yang dikaruniai Allah harta kekayaan dan kekuasaan. Demi dunia yang menjadi tujuan hidup mereka, mereka menghalalkan segala cara. Demi kekayaan dan kekuasaan, mereka bersikap korup dan menipu rakyatnya. Ketika berkampanye dalam pemilu / pemilukada, mereka mengumbar janji-janji kosong. Pada saat mereka terpilih, mereka ingkar janji dan pedusta besar. Setiap kebijakan per-undang-undangan buatan mereka yang di terapkan atas rakyatnya di negeri ini seringkali bahkan selalu menzhalimi (menyakiti) rakyatnya.

Padahal, Sebaliknya, kekayaan dan kekuasaan justru seharusnya menjadikan diri kita termasuk manusia yang bertaqwa dan bersikap amanah terhadap kepemimpinannya serta adil pada sesama manusia.





" Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rizki kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menyempitkannya ; Sesungguhnya Dia maha mengetahui lagi maha Melihat akan hamba-hambaNya. " (Qs al Israa' : 30)




Sekarang, bagaimana sikap kita, umat Islam, dalam merespon segala ni'mat yang telah Allah karunia kan pada diri kita? Seperti Nabi Sulaiman-kah? Atau seperti Qorun? Hanya Allah dan diri kita yang mengetahui jawabannya.



Wallaahu A’lam

Monday, December 6, 2010

Fadhilah Sholat Tahajjud

" Seseorang dari umatku sholat malam hari, mengobati jiwanya menuju kesucian. Sementara ia terbelenggu. Jika ia berwudhu, membasuh tangannya, maka terlepas satu ikatan. Apabila ia membasuh kepalanya, maka terbebas ia dari satu ikatan. Apabila ia mencuci kedua kakinya, maka ia terlepas dari ikatan lainnya. Lalu Allah ta'alaa akan berkata kepada mereka (para malaikat) yang berada dibalik hijab, " Lihatlah hambaKu ini ; Ia obati jiwanya, ia bermohon kepadaKu. Jadi apa saja yang diminta oleh hambaKu ini, maka baginyalah permohonannya itu. " (HR Ahmad dan Ibnu Hibban-hadist shohih)


" Sesungguhnya di malam hari ada satu waktu (sesaat), dimana jika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat bertepatan dengan waktu tersebut, maka Allah ta'alaa akan mengabulkan permohonannya itu. Hal tersebut terjadi di setiap malam. " (HR Muslim)


" Keutamaan sholat di malam hari atas sholat di siang hari seperti keutamaan sedekah yang dikeluarkan secara sembunyi-sembunyi atas sedekah yang dikeluarkan secara terang-terangan. " (HR ath Thabrani-hadist shohih)


" Jagalah sholat malam, karena sholat itu merupakan jalan orang-orang sholih sebelum kamu, jalan yang dapat mendekatkanmu kepada Allah, penghapus kesalahan dan pengusir segala penyakit tubuh. " (Hadist Hasan)


" Barang siapa bangun di malam hari (untuk sholat malam) dan membangunkan keluarganya (istrinya) kemudian keduanya sholat dua raka'at, maka keduanya akan dicatat ke dalam golongan laki-laki dan wanita yang banyak berzikir. " (HR Abu Dawud, An Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al Hakim-hadist shohih)


" Waktu terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah pada bagian akhir suatu malam. Jadi jika kalian sanggup untuk menjadi orang-orang yang berzikir kepada Allah pada saat itu, maka lakukanlah. " (HR Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi-hadist shohih)


Semoga Kita termasuk orang-orang yang gemar berzikir padaNya di waktu malam hari dengan sholat tahajjud, tatkala manusia lainnya lebih memilih untuk nyenyak dalam tidurnya

Saturday, December 4, 2010

Selamat Menyongsong tahun baru Hijriyah, 1 Muharram 1432 H


Bertepatan dengan tahun 2010 di bulan Desember ini yang kan segera berakhir, Tak terasa, kita kembali bertemu dengan awal tahun baru hijrah. Kali ini kita mengakhiri tahun 1431 H dan memasuki tahun 1432 Hijrah.



Belum hilang dari benak kita,pra dan pasca ramadan dan idul fitri umat islam seluruh dunia berharap kembali dilahirkan menjadi figur manusia suci yang beriman pada Allah dan Islam. So,berbagai aktivitas bergelimang pahala dilakukan pada bulan suci tersebut. Namun hal ini tak ada bedanya dengan ritualitas muslim setahun sekali jika hanya dilakukan di bulan ramadan tanpa 'follow up' di 11 bulan lainnya.



Ini belum termasuk menjelang tahun baru,berbagai aktivitas bergelimang dosa dikemas rapi. Hotel-hotel berburu bintang, para bintang panen fulus karena teken full kontrak dengan hotel, pubs, dan tempat-tempat hiburan lainnya. Tak ketinggalan para ABG hingga orang tua kita pun berburu tempat-tempat 'cool for having fun all nite long'.



Luapan emosi sesaat ini telah melupakan teman,saudara,bahkan diri kita sendiri dari lingkungan sekitar. Jangankan berfikir tentang nasib saudara-saudara kita nun jauh di Palestina,Iraq,Afghanistan,Kashmir,Poso,Ambon,dll..,berfikir tentang mati saja lupa. Kita lupa bahwa maut bisa datang kapanpun, dimanapun tanpa permisi. Sementara bekal kita untuk menghadap yang maha kuasa sangat minim. Bukannya bertaubat tapi gemar koleksi dosa setinggi gunung kalau bukan setinggi langit.



Dan yang terpenting, ingatlah selalu pesan dan firman Allah,






وَالعَصرِ ﴿١﴾ إِنَّ الإِنسٰنَ لَفى خُسرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذينَ ءامَنوا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ﴿٣



(1Demi masa. (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran




Jadi, daripada pusing-pusing mikir 'mo ngapain ya malam tahun baru?', at best, buruan koreksi diri, yuk!



Jadikan hidup dan umur kita lebih berkah dan bermakna bagi diri kita,keluarga,dan orang lain serta sang maha pengasih dan penyayang kita,Allah SWT.



Selamat Menyongsong tahun baru Hijiriyah, 1 Muharram 1432 H dengan menjalani kehidupan yang lebih baik dan bermakna berdasarkan syariah Allah, Al Qur'an dan as sunnah




Tuesday, November 16, 2010

Sultan Abdul Hamid II: Sang Pembela Sejati Palestina




REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Sejak zaman Kesultanan Turki Utsmani, bangsa Israel sudah berusaha tinggal di tanah Palestina. Kaum zionis itu menggunakan segala macam cara, intrik, maupun kekuatan uang dan politiknya untuk merebut tanah Palestina.

Di masa Sultan Abdul Hamid II, niat jahat kaum Yahudi itu begitu terasa. Kala itu, Palestina masih menjadi wilayah kekhalifahan Turki Utsmani. Sebagaimana dikisahkan dalam buku Catatan Harian Sultan Abdul Hamid II karya Muhammad Harb, berbagai langkah dan strategi dilancarkan oleh kaum Yahudi untuk menembus dinding Kesultanan Turki Utsmani, agar mereka dapat memasuki Palestina.

Pertama, pada 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada Sultan Abdul Hamid II, untuk mendapatkan izin tinggal di Palestina. Permohonan itu dijawab Sultan dengan ucapan ''Pemerintan Utsmaniyyah memberitahukan kepada segenap kaum Yahudi yang ingin hijrah ke Turki, bahwa mereka tidak akan diizinkan menetap di Palestina''. Mendengar jawaban seperti itu kaum Yahudi terpukul berat, sehingga duta besar Amerika turut campur tangan.

Kedua, Theodor Hertzl, Bapak Yahudi Dunia sekaligus penggagas berdirinya Negara Yahudi, pada 1896 memberanikan diri menemui Sultan Abdul Hamid II sambil meminta izin mendirikan gedung di al-Quds. Permohonan itu dijawab sultan, ''Sesungguhnya Daulah Utsmani ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri''.

Melihat keteguhan Sultan, mereka kemudian membuat strategi ketiga, yaitu melakukan konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 Agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan Khilafah Utsmaniyyah. Karena gencarnya aktivitas Zionis Yahudi akhirnya pada 1900 Sultan Abdul Hamid II mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal di sana lebih dari tiga bulan, dan paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas khilafah terkait. Dan pada 1901 Sultan mengeluarkan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.

Pada 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap Sultan Abdul Hamid II. Kedatangan Hertzl kali ini untuk menyogok sang penguasa kekhalifahan Islam tersebut. Di antara sogokan yang disodorkan Hertzl adalah: uang sebesar 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan; Membayar semua hutang pemerintah Utsmaniyyah yang mencapai 33 juta poundsterling; Membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta frank; Memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga; dan Membangun Universitas Utsmaniyyah di Palestina.

Namu, kesemuanya ditolak Sultan. Sultan tetap teguh dengan pendiriannya untuk melindungi tanah Palestina dari kaum Yahudi. Bahkan Sultan tidak mau menemui Hertzl, diwakilkan kepada Tahsin Basya, perdana menterinya, sambil mengirim pesan, ''Nasihati Mr Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka.''

Sultan juga mengatakan, ''Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya. Akan tetapi, sementara aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat Tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kami masih hidup.''

Sejak saat itu kaum Yahudi dengan gerakan Zionismenya melancarkan gerakan untuk menumbangkan Sultan. Dengan menggunakan jargon-jargon "liberation", "freedom", dan sebagainya, mereka menyebut pemerintahan Abdul Hamid II sebagai "Hamidian Absolutism", dan sebagainya.

''Sesungguhnya aku tahu, bahwa nasibku semakin terancam. Aku dapat saja hijrah ke Eropa untuk menyelamatkan diri. Tetapi untuk apa? Aku adalah Khalifah yang bertanggungjawab atas umat ini. Tempatku adalah di sini. Di Istanbul!'' Tulis Sultan Abdul Hamid II dalam catatan hariannya.

Sunday, November 7, 2010

Isyarat dari Allah terhadap Ulah Manusia, Respon Rasulullah dan Sahabatnya Dibalik Gempa Bumi dan Musibah Lainnya




Suatu kali di Madinah terjadi gempa bumi. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah dan berkata,



"Tenanglah … belum datang saatnya bagimu.'' Lalu, Nabi SAW menoleh ke arah para sahabat dan berkata, "Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian … maka jawablah (buatlah Allah ridha kepada kalian)!"




Sepertinya, Umar bin Khattab RA mengingat kejadian itu. Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahannya, ia berkata kepada penduduk Madinah,



"Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!"




Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab bisa, merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana.



Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.



Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, "Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, 'Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian'.''



Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri,



" Amma ba'du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya."




"Allah berfirman,



'Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang." (QS Al-A'laa [87]:14-15). Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi."




"Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh AS, 'Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi'. Dan katakanlah doa Yunus AS, 'La ilaha illa anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim'."




Jika saja kedua Umar ada bersama kita, mereka tentu akan marah dan menegur dengan keras, karena rentetan "teguran" Allah itu tidak kita hiraukan bahkan cenderung diabaikan. Maka, sebelum Allah menegur kita lebih keras, inilah saatnya kita menjawab teguran-Nya.

Labbaika Ya Allah, kami harus kembali kepada-Mu.



Wallahu a'lam.

Thursday, November 4, 2010

'aku tahu...',kata al Hasan al Bashriy

Aku tahu RIZQIKU tak mungkin diambil orang lain. Karenanya HATIKU TENANG.

Aku tahu AMALANKU tak mungkin dilakukan orang lain. Maka aku sibukkan diriku untuk BERAMAL.

Aku tahu ALLAH SELALU MELIHATKU. Karenanya aku MALU BILA ALLAH MENDAPATIKU MELAKUKAN MAKSIYAT.

Aku tahu KEMATIAN menantiku. Maka kupersiapkan BEKAL untuk berjumpa dengan Rabbku.

Al Hasan al Bashriy

Hasan al Bashriy lahir di Madinah pada tahun 21 H. Keluarganya berasal dari Sabi Misan, sebuah desa antara Bashrah dan Wasith. Namun kemudian mereka pindah ke Madinah. Ayah Al Hasan adalah budak Zaid bin Tsabit Al Anshari Radhiyallahu anhu. Dan ibunya adalah budak Ummu Salamah (istri Nabi SAW). Beliau adalah ulama dan cendekiawan muslim yang hidup pada masa kekhilafahan Bani Umayyah. Saat usia 12 tahun, al Hasan telah hafidz Qur'an dan tidaklah beliau berpindah dari satu surat ke surat lainnya kecuali setelah mengetahui tafsir dan asbabul nuzul (sebab-sebab turunnya) surat tersebut. Beliau wafat pada malam jumat, awal bulan Rajab pada tahun 110 H. Semoga hati beliau tenang telah Bertemu dengan rabb al alamiin, Allah SWT

5 Sifat beda Rasul dari sifat kita

Sifat kita beda 'sedikit' dari sifat rasulullah.

- Rasulullah sedikit tidur. Kita sedikit-sedikit tidur.

- Rasulullah sedikit makan. Kita sedikit-sedikit makan.

- Rasulullah sedikit marah. Kita sedikit-sedikit marah.

- Rasulullah sedikit bergurau. Kita sedikit-sedikit bergurau.

- Rasulullah sedikit-sedikit beramal. Kita sedikit beramal.

Itulah sifat beda sedikit Rasulullah yang harus kita teladani. Sudahkah kita termasuk didalamnya?

Monday, October 25, 2010

Why Do I Feel So Bad? It’s All in the Mind..





Has the world gone mad? Walking down the street, it is not difficult to feel alone. Can this be so, even though we live in cities with so many people?



People seem to move along somewhere between reality and where we are. Is it just that we don’t see each other, appreciate each other, or care to do so? So many people no longer feel. Violence or injustice happens and people just move on like they never saw a thing.



The world now calls itself a global village. Maybe it’s become more like a global factory. It seems to be churning out more and more desensitized, materialistic individuals who suffer from compulsions to buy and fit into predetermined definitions of beauty and acceptability. Modern man is running a frantic race.

A ‘village’ implies a group of people who work together for the common good; people who communicate and perceive life in a similar way, sharing a common culture. If we truly belong to a village of any kind; global or otherwise, it would be impossible to see crime, poverty or injustice and just keep living as if nothing had happened. Have we forgotten the ties that bind us as humans?

Maybe we have just become numb. We rush to work, then rush home again, watch TV, eat something; junk, fast or processed food, drink too much but hardly enough water, socialize with people who think and live like us, ignore the ‘other’, ignore pain, (even our own), ignore problems and sleep. Then we awaken to the barbaric sound of an alarm clock only to do it all over again. How many people stop to think about life, how we live it, and why?

We live with pain. We do many things to suppress and hide it. As life becomes more and more complicated and expectations get more and more unrealistic, people suffer. So much energy is exerted trying to find joy and any amount of peace. We entertain ourselves with soul disturbing music, watch violent, blood thirsty, surrealistic films and live in the shadows of life. We seek to have more and more possessions, more status, and more wealth as we drift further from each other. All this enhances our already over-developed sense of unreality.

People complain of compulsive disorders, anxiety, depression, psychosis, and are given quick-fix drugs to push them back into the work force; to be good consumers and exist in a comatose state of non-being; pushed further into a vacuum where the masses exist; where everything is nice, peaceful, ‘enough’; an illusion of well-being.

The family is being slowly dismantled. The once loving, supportive extended family is often scattered throughout cities and sometimes spread out between countries. Time and space separates the hearts that need each other so much. Family members are so distant from each other that it hardly seems worth it to try and get to know each other all over again. The loving circle that used to form around the individual has been replaced with government help, community-based projects and pensions. Though such things help to cushion some of life’s blows, they can never provide the stable foundation on which children grow and learn to deal with reality with love and an open heart.

Are we losing the last strong handhold that will prevent us from sinking into the chaotic push and shove of the rat race of the modern world? We have courses teaching us how to cope with stress, tension, and the pressures of modern life but has no one thought of a way to actually get rid of all these pressures once and for all? Can anyone show us the way back to our roots; to our humanity?

In distancing ourselves from each other; in denying who we are and living in isolation; in succumbing to the pressures of this materialistic, individualistic world, we miss out on the love and joy we can share with each other. We miss out on learning from each other and giving each other chances, just by being our simple human selves, to show kindness and forgiveness. In comforting each other’s pain, in sharing our resources, in forgiving each other’s weaknesses and in offering a helping hand, we can rekindle our humanity and turn the tides.



(Quran, 78:40) “...on the Day when man shall [clearly] see what his hands have sent ahead…”


P.S copied from brother Ahmed Rahat on FB