SELAIN mengatakan bahwa tentang sesat yang tahu hanya Tuhan, kaum Islam liberal-pluralis juga mengatakan bahwa kebenaran adalah relatif. Dengan ini, seolah-olah mereka ingin menyimpulkan: bahwa manusia itu tidak bisa membedakan mana yang sesat dan mana yang benar, karena yang sesat tak dapat diketahui dan yang benar juga tak jelas yang mana. Akibat cara berpikirnya ini, maka tak aneh jika mereka tak pernah khawatir kalau berbuat salah.
Ada sebuah pertanyaan yang yang meski dijawab oleh mereka: jika Tuhan dengan tegas memerintahkan umat manusia untuk menghidari kesesatan karena akan dibalas neraka bagi pelakunya dan Tuhan juga memerintahkan untuk mengikuti kebenaran dengan balasan surga dan neraka bagi yang menolaknya, lalu bagaimana jika kesesatan dan kebenaran itu sendiri tidak bisa dimengerti dan diketahui oleh manusia. Dengan demikian, bagi Allah, perintah tersebut menjadi sia-sia, dan bagi manusia hal itu adalah tanggung jawab yang tidak akan sanggup mereka lakukan (taklif bima la yutoq), karena mereka diberi perintah dan akan diberi sanksi jika melanggar, tapi tak jelas isi perintahnya.
Jika sesat dan kebenaran tak jelas maksudnya, maka bagi manusia keduanya ibarat sebuah nama tanpa ada pemiliknya (al Ismu biduni al musamma) atau sifat tapi tak ada yang disifati (as sifat biduni al mausuf) atau lafadz tak bermakna.
Hal semacam ini sebenarnya bertentangan dengan pernyataan kaum liberal sendiri; bahwa lafadz adalah pertanda dari sebuah realitas atau ma'na dan realitas itu lebih dahulu ada dari lafadznya tsb.
Mencari Kebenaran
Faham relativisme kebenaran adalah bagian dari pluralisme agama yang mengatakan bahwa kebenaran pemahaman tentang Tuhan bagi setiap pemeluk agama adalah relatif, karena mereka sama-sama ingin mencari Tuhan, tapi Tuhan bersifat metafisik dan transendental, hingga akhirnya manusia menjadi beragam dalam memahami Tuhan yang absolut tersebut. Pemahaman manusia ini kemudian diwujudkan dengan nama-nama dan simbol-simbol yang saling berbeda antara pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya.
Agama-agama, menurut Fritjhof Schuon, penggagas faham Kesatuan Transenden Agama-agama (transcendent unity of religions) dibagi menjadi dua: tingkat eksoterik (lahiriyah) dan esoterik (batiniyah). Pada tingkat eksoterik agama-agama mempunyai Tuhan, teologi, ajaran yang berbeda. Namun pada tingkat esoterik agama-agama itu menyatu dan memiliki Tuhan yang sama yang abstrak dan tak terbatas.
Dari keterangan di atas dapat kita fahami bahwa kaum pluralis mengangap bahwa akidah semua agama adalah hasil karya manusia, dan pemahaman tentang Tuhan adalah hasil pencarian dan spekulasi manusia sendiri, tidak ada sumber dari Tuhan sendiri yang menjelaskan atau kalau boleh dikatakan manusialah yang menciptakan Tuhan-Tuhan mereka sendiri. Karena setiap agama membuat definisi sendiri-sendiri tentang siapa Tuhan, seperti apa sifat dan nama-Nya, sehinngga wajar jika hasilnya berbeda-beda.
Jika anggapan mereka demikian, maka teori pluralisme agama ini sebenarnya sudah dengan sendirinya tidak berlaku bagi agama Islam, karena asumsi kaum pluralis adalah bahwa pemahaman Tuhan oleh semua agama adalah hasil ciptaan manusia, dan asumsi tersebut ternyata berbeda dengan kenyataan yang ada di dalam agama Islam. Pengetahuan umat Islam tentang Allah, dengan nama-nama-Nya dalam asmaul husna dan segala sifat-Nya adalah bersifat "tauqifiyah", yaitu dari Allah sendiri yang diperkenalkan ke manusia lewat wahyu yang Dia turunkan kepada para Nabi yang Dia utus, mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad. Bukan ciptaan umat Islam atau Nabi itu sendiri, dan di dalam agama Islam tidak ada lahan spekulasi untuk berkata tentang Tuhan
Oleh karena itu, Allah swt. dalam Al-Quran mengatakan bahwa orang yang berkata tentang Tuhan tanpa ada landasan wahyu adalah orang yang berkata tentang Tuhan tanpa pengetahuan.
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya (yang menjelaskan antara yang hak dan yang batil).” (QS, Al Hajj:08)
"Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS, Al Baqoroh:169)
"Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha Suci Allah; Dia-lah yang Maha Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?." (QS, Yunus:68)
Orang yang ingin memahami sesuatu tanpa didasari ilmu pengetahuan maka tiada cara kecuali dengan mengira-ngira, berhipotesa atau bersepekulasi, karena kalau sudah ada ilmu pengetahuan yang meyakinkan pasti tidak perlu bersepekulsi. Dan orang yang meyakini sesuatu dari hasil spekulasi maka sebenarnya dia telah meyakini sesuatu yang dia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan hal tersebut. Meyakini sesuatu yang tidak meyakinkan adalah keyakinan problematik, lalu kenapa diyakini?!
Dari masalah ini dapat kita metahui pula tentang pentingnya diuutusnya seorang Rasul sebagai penerima wahyu Tuhan. Keyakinan awal umat manusia adalah sama, bahwa alam dunia ini memiliki sang pencipta, yang menciptakan dan yang mengatur alam dunia ini atau mereka sebut Tuhan. Tapi, manusia tak bisa mengetahui secara pasti tentang siapa itu Tuhan, siapa nama-Nya dan bagaiman sifat-sifat-Nya. Akhirnya mereka saling berspekulasi tentang Tuhan. Dengan ini menjadi pentinglah diutusnya Rasul sebagai utusan Tuhan yang menujukan tentang siapa sebenarnya itu Tuhan, dan segala hal terkait dengan keberadaan-Nya agar manusia tidak terus-menerus bersepekulasi.
Selain itu para Rasul lewat wahyu memberi tahu umat manusia bahwa di balik alam nyata ini ternyata ada alam lain, alam yang sekarang tak mampu diketahui oleh panca indera, tapi hal itu ada dan ternyata mempunyai hubungan dengan manusia, yaitu alam ghaib, seperti malaikat, jin, syaitan, surga, neraka, surga, alam mahsar, hisab. Dari semua hal yang bersifat transendental dan metafisik tersebut semuanya tidak bisa diketahui kecuali dengan informasi yang dapat dipercaya(al khobar as shodiq), yaitu wahyu dari yang Maha Mengetahui (Allah swt.) yang diturunkan kepada orang yang jujur, terpercaya dan terjaga dari kesalahan, yaitu para Rasul. Jika tidak, maka tiada pilihan lain bagi manusia kecuali tidak mengakui adanya yang transenden dan metafisik tersebut atau mengakuinya tapi dengan jalan hipotesa atau spekulasi dan hal ini tidak meyakinkan karena hipotesa tidak bisa dipastikan kebenarannya.
Bukti Kebenaran
Telah kita kita ketahui sebelumnya bahwa pengetahuan umat Islam tentang Tuhan dan yang lain yang bersifat metafisik adalah dari al khobar as shodiq, karena manusia tidak bisa mengetahui secara langsung dengan panca indera. Dan di antara hal yang membuktikan bahwa isi khobar tersebut adalah benar-benar meyakinkan, di antaranya sebagai berikut:
1. Khobar tersebut. telah diterima dari sekian banyak Rasul yang dapat dipercaya, mulai dari Nabi Adam as. Sampai Nabi Muhammad saw. dan kondisi antar satu Nabi dengan Nabi yang lainnya adalah sangat plural baik dari segi masa, tempat atau negara, tabiat umat mereka, kondisi sosial dan budaya waktu itu, dan lain-lain. tapi khobar tersebut tetap sama isinya. Hal ini bisa terjadi karena yang menurunkan wahyu tersebut adalah satu (Allah swt.) dan yang menerima(para Rasul) orang yang jujur, dan isi sebuah berita, selama tetap asli, berita tersebut tidak terpengaruh oleh kondisi waktu, tempat, sosial, dan kultur sang penerima berita, dan juga bila ada sebuah berita yang dikabarkan kepada semisal "si A", kemudian diberitakan lagi yang lain semisal ke "si B", tapi isinya ternyata berbeda, berarti ada salah satu dari keduanya yang dibohongi. Dan mustahil Allah swt berbohong kepada Rasulnya.
2. Dan sangat mustahil seandainya setiap Nabi dan Rasul berspekulasi secara sendiri-sendiri, tapi mampu menghasilkan hasil spekulasi yang sama dari segala sisi dari masalah yang dispekulasikan.
3. Masalah akidah adalah nauu' al khobar (jenis berita), oleh karena itu akidah para Nabi dan Rasul adalah sama. Berbeda dengan syari'at, syari'at adalah nuu' al insa (jenis pengadaan) sehingga bisa berbeda-beda, karena untuk mengatur kehidupan umat yang berbeda-beda.
Kesimpulan
Relativitas kebenaran pengetahuan tentang Tuhan oleh umat beragama hanya bisa terjadi bila seluruh umat beragama "tanpa terkecuali" memperoleh pengetahuan tersebut lewat akal budi mereka, dengan berhipotesa, spekulasi atau sejenisnya, tanpa ada wahyu yang dapat dijadikan petunjuk, hingga tidak bisa dipastikan mana yang benar dan mana yang salah, seperti yang dianggap kaum pluralis sendiri. Tapi, telah kita ketahui bahwa pengetahuan tentang yang transendental tersebut tidak dapat diketahui dengan benar kecuali dengan al khobar as shodiq dan sejak dahulu para Rasul telah menerima khobar tersebut.
Maka dengan ini, dari sekian banyak pengetahuan tentang Tuhan yang tadinya mungkin relatif, menjadi tidak relatif lagi, karena yang lain masih berhipotesa, dan belum bisa memastikan benar tidaknya dan al khobar as shodiq yang pasti benar telah memastikan hipotesa-hipotesa tersebut salah.
Dan realitas yang ada bahwa dari sekian banyak pemahaman umat beragama tentang Tuhan semuanya saling kontradiksi, dan sifat di antara dua hal atau lebih yang saling kontradiksi adalah saling membatalkan di antara yang satu dengan yang lainnya, tidak bisa benar secara bersamaan. Dan al khobar as shodiq telah menunjukan mana yang benar.
Di dalam akidah Islam tidak ditemukan dan diterima keyakinan yang kontradiksi, karena hal itu tidak rasional. Pluralisme agama adalah keyakinan penuh kontradiksi dan problematik, maka tidak selayaknya diyakini oleh orang yang masih mampu berpikir rasional. Dan pernyataan kaum liberal/pluralis yang mengatakan bahwa akidah Islam terpengaruh sosial dan kultur waktu turunnya wahyu adalah pernyataan yang keluar karena tidak faham objek masalah.
Ingat! Kondisi sosial dan kultur antarsatu Nabi dengan yang lainnya adalah lebih plural dari kondisi sekarang, tapi kenapa tidak berpengaruh, hal ini yang harus mereka jawab. Dan seandainya mereka mengatakan bahwa relativitas kebenaran terletak pada pemahaman wahyu tersebut, bukan pada kebenaran wahyunya, maka dengan ini ilmu matematika bukan lagi ilmu pasti lagi bagi mereka, karena wahyu mengatakan Tuhan itu hanya satu. Jika pemahaman hanya satu masih relatif kebenarannya, maka satu tambah satu belum tentu dua, tapi masih relatif, mungkin dua, tiga, dan seterusnya. Wallahu a'lam bisshowab.
10 aLasaN MenoLaK ObaMa, PreSideN NegaRa ImpeRiaLis:
1. Obama adalah kepala negara dari negara penjajah Amerika Serikat bertentangan dengan sikap politik Indonesia yang anti penjajahan
2. Kedatangan Obama untuk memastikan dan mengokohkan Indonesia sebagai negara kapitalis sekuler yang telah menjadi sumber berbagai persoalan di Indonesia.
3. Kedatangan Obama untuk mengokohkan penjajahan ekonomi lewat perusahaan Amerika yang merampok kekayaan alam Indonesia di Aceh, Riau, hingga Papua.
4. Kedatangan Obama merupakan sebagai bagian dari politik belah bambu di dunia Islam yang menampilkan citra positif Amerika untuk menutupi kejahatannya di negeri Islam lainnya.
5. Obama memerangi kaum muslimin di Afghanistan bahkan mengirim 30 ribu pasukan tambahan yang telah menewaskan ribuan umat Islam termasuk anak-anak dan ibu-ibu.
6. Obama tidak sepenuhnya menarik pasukan AS dari Irak yang selama pendudukan AS telah membunuh lebih 1 juta umat Islam
7. Obama hingga saat ini belum menutup penjara Guantanamo sesuai dengan janjinya yang menjadi tempat penahanan dan penyiksaan banyak muslim yang tidak bersalah dan tempat penghinaan terhadap Islam dan Al Qur’an
8.Obama dengan setia menjadi pendukung setia Zionis Israel yang hingga saat ini terus membantai umat Islam di Palestina.
9. Obama tidak mengecam sama sekali ketika Israel membantai lebih kurang 1300 muslim di Gaza sebaliknya bahkan mendukung tindakan kejam Zionis Israel itu
10.Status negara Amerika adalah Muhariban Fi’lan karena secara langsung membunuh umat Islam, haram melakukan hubungan dalam bentuk apapun. Islam mengharamkan kaum muslimin menyambut pembunuh umat Islam yang merupakan musuh Allah SWT dan musuh Umat Islam apalagi menjadikannya sebagai sahabat dan tamu terhormat
Rasul SAW pernah bersabda bahwa Islam itu tinggi dan tak ada yang lebih tinggi dari Islam.
Pasca Rasulullah wafat,sejarah dunia mencatat ketinggian peradaban Islam di bawah naungan ideologi Islam yang di emban oleh daulah (khilafah) islamiyah selama kurang lebih 13 abad.
Let's check it out!
1. Ketinggian sains dan ilmuwan Islam.
Jujur, hal ini diakui oleh seorang ilmuwan barat sendiri, yakni Emmanuel Deutscheu dari Jerman. Ia mengatakan," Semua ini (kemajuan peradaban Islam) telah memberikan kesempatan bagi kami untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern"
@ Ibn Sina
(di barat dikenal dengan nama aveciena), seorang pakar kedokteran terkemuka hingga abad 18.Ia meninggalkan karya sekitar 267 buku.Al Qanuun fii ath-Thibb adalah bukunya yang terkenal di bidang kedokteran.
@ Az-Zahrawi
Orang pertama yang mengenalkan teknik pembedahan organ tubuh manusia.Karyanya berupa eksiklopedia pembedahan dijadikan referensi dasar dunia kedokteran selama ratusan tahun, termasuk di berbagai universitas di barat.
@ Al-Khawarizmi
Ahli matematika, penemu angka nol, sekaligus pencipta salah satu cabang ilmu matematika, algoritma.
Beberapa bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa latin pada awal abad ke 12 dan terus digunakan selama 400 tahun (hingga abad ke 16) sebagai buku pedoman dasar oleh universitas-universitas di Eropa. Buku geografinya berjudul ' kitaab al Ard' yang memuat peta-peta dunia pun telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
@ Jabir Ibn Hayyan
Pakar ilmu kimia ddengan karyanya 'Kitaab al-Kimyaa' dan 'kitaab as Sab'iin'. Terjemahan 'Kitaab al-Kimyaa' bahkan telah diterbitkan oleh orang Inggris bernama Robert Chester pada tahun 1444 dengan judul 'The Book of Composition of Alchemy'. Berthelot juga menerjemahkan beberapa buku Jabir, diantaranya dikenal dengan judul 'Book of Kingdom', Book of the Balances' dan 'Book of Eastern Mercury'.
@ Al-Idrisi
Pakar geografi. Ia telah membuat bola dunia dari bahan perak seberat 400 kilogram untuk raja Roger II dari Sicilia. Globe buatan al-Idrisi ini secara cermat memuat pula ketujuh benua dengan rute perdagangannya,danau-danau dan sungai,kota-kota besar,dataran serta pegunungan. Beliau memasukkan beberapa informasi tentang jarak,panjang dan ketinggian secara tepat. Bola dunianya itu oleh Idrisi sengaja dilengkapi pula dengan 'kitaab ar Rujari' (Roger's Book). Al-Idrisi pula yang pertama kali memperkenalkan teknik pemetaan dengan metode proyeksi; suatu metode yang baru dikembangkan oleh ilmuwan barat, Mercator, empat abad kemudian.
@ Ibn al-Haytsam
Master ilmu alam dan ilmu pasti. Ia menulis buku berjudul Al-Manaazhir' yang berisi tentang ilmu optik. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Frederick Reysnar dan diterbitkan di Swiss pada tahun 1572 dengan judul,'Opticae Thesaurus'.
@ dan masih banyak ilmuwan Islam cemerlang lainnya yang tak tersebutkan dalam tulisan ini...
2. Bantuan Luar Negeri
Khilafah menunjukkan bahwa Islam diturunkan untuk kebaikan bagi seluruh umat manusia dengan memberikan bantuan pada orang-orang non muslim di luar wilayah daulah islam.
a. Tahun 1845, adalah awal tahun dimana terjadi kelaparan besar yang melanda Irlandia yang mengakibatkan lebih dari 1.000.000 orang meninggal. Ketika itu khalifah Utsmani,Sultan Abdulmecid menyatakan keinginannya untuk mengirimkan 10.000 sterling kepada para petani Irlandia tapi Ratu Victoria meminta sultan untuk mengirim hanya 1.000,karena dia telah mengirim hanya 2.000 sterling. Sultan secara diam-diam mengirim 3 kapal penuh makanan. Pengadilan Inggris berusaha untuk memblokir kapal itu,tapi makanan telah sampai di pelabuhan Drogheda dan ditinggalkan disana oleh para pelaut Utsmani.Dikarenakan peristiwa ini,rakyat Irlandia,khusunya mereka yang tinggal di Drogheda, menjadi sahabat orang-orang Turki.
b. Pemberian sertifikasi tanah (tahun 925 H/1519 M) kepada para pengungsi yahudi yang lari dari kekejaman inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam di Andalusia.
c. Surat ucapan terima kasih dari pemerintah Amerika Serikat atas bantuan pangan yang dikirim oleh khilafah ke Amerika Serikat yang saat itu sedang dilanda kelaparan pasca perang dengan Inggris (abad 18)
d. Surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang di usir tentara Rusia dan mencari eksil ke wilayah khilafah (30 Jumadil Awwal 1121 H/7 Agustus 1709 M)
e. Pemberian ijin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang telah berimigrasi ke Rusia namun ingin kembali ke wilayah khilafah, karena di Rusia mereka justru tidak sejahtera (13 Rabi'ul Akhir 1282/5 September 1865)
f. Khilafah membuat peraturan bebas bea cukai bagi barang bawaan orang-orang Rusia yang mencari eksil ke wilayah khilafah Utsmani pasca Revolusi Bolschevik (25 Desember 1920)
g. dan masih banyak bantuan luar negeri lainnya yang diberikan oleh khilafah kepada non muslim yang tak tersebutkan dalam tulisan ini...
Itulah beberapa jejak sang raksasa (dan belum semua nya tertulis dalam tulisan ini) yang mendunia yang sangat mungkin akan terulang saat daulah khilafah Islam tegak! So,ayo kita bangunkan raksasa yang sedang tertidur dengan dakwah mengajak umat manusia kepada ideologi Islam.
Nationalism is a concept alien to Islam because it calls for unity based on family and tribalistic ties, whereas Islam binds people together on the `Aqeedah, that is belief in Allah (swt) and His Messenger (saw). Islam calls for the ideological bond.
Grouping the Muslims on tribalism is clearly forbidden. It is narrated by Abu Da'wud that the Messenger of Allah (saw) said:
"He is not one us who calls for Asabiyyah, (nationalism/tribalism) or who fights for Asabiyyah or who dies for Asabiyyah."
And in another Hadith, the Messenger of Allah (saw) referring to nationalism, racism, and patriotism said:
"Leave it, it is rotten." [Muslim and Bukhari]
And in the Hadith recorded in Mishkat al-Masabith, the Messenger of Allah (saw) said:
"He who calls for Asabiyyah is as if he bit his father's genitals"
Also, the Messenger of Allah (saw) said, narrated by At-Tirmidhi and Abu Dawud,
"There are indeed people who boast of their dead ancestors; but in the sight of Allah they are more contemptible than the black beetle that rolls a piece of dung with its nose. Behold, Allah has removed from you the arrogance of the Time of Jahiliyyah (Ignorance) with its boast of ancestral glories. Man is but an Allah-fearing believer or an unfortunate sinner. All people are the children of Adam, and Adam was created out of dust."
Also, the Messenger of Allah (saw) said:
"Undoubtedly Allah has removed from you the pride of arrogance of the age of Jahilliyah (ignorance) and the glorification of ancestors. Now people are of two kinds. Either believers who are aware or transgressors who do wrong. You are all the children of Adam and Adam was made of clay. People should give up their pride in nations because that is a coal from the coals of Hell-fire. If they do not give this up Allah (swt) will consider them lower than the lowly worm which pushes itself through Khara (dung)."
[Abu Dawud and Tirmidhi]
There are many examples in the Seerah where the Messenger of Allah (saw) had rebuked those who upheld nationalism. One one occasion a party of Jews conspired to bring about disunity in the ranks of the Muslims after seeing the Aus and Khazraj within Islam. A youth from amongst them was sent to incite remembrance of the battle of Bu'ath where the Aus had been victorious over the Khazraj, and he recited poetry to bring about division between them. As a result there was a call to arms.
When the news reached the Messenger of Allah, he (saw) said:
"O Muslims, remember Allah, remember Allah. Will you act as pagans while I am present with you after Allah has guided you to Islam, and honored you thereby and made a clean break with paganism; delivered you thereby from disbelief; and made you friends thereby?"
When they heard this they wept, and embraced each other. This incident clearly highlights how the messenger of Allah (saw) rebuked any forms of tribalism. Allah (swt) then revealed:
"O you who believe! Fear Allah as He should be feared and die not except in a state of Islam with complete submission to Allah. And hold fast, all of you together, to the rope of Allah (i.e. Qur'an), and be not divided among yourselves; and remember with gratitude Allah's favors on you; for you were enemies and He joined your hearts in love, so that by His Grace you became brothers; and you were on the brink of the pit of fire, and He saved you from it. Thus Allah make His signs clear to you that you may be guided."
[Surah Al'Imran (3); ayah 102-103]
It is narrated by Qatada that Ibnu Abi Hathim said that in the verses quoted above Allah (swt) has ordered the Muslims to hold fast to the book of Allah, His Deen, and to his covenant, and He has forbidden the Muslims to divide amongst themselves and to dispute with each other.
In another incident, Jabir ibn `Abd Allah al Ansari, narrated what happened at the watering place of al Muraysi which led to the Munafiqun stirring up the traces of `Asabiyyah and seeking to destroy the unity of the Muslims. He said: "We were on a raid when one of the Muhajirun kicked one of the Ansar. The Ansar said, `O Ansar! Help me! (calling his tribe) and the Muhajir said, `O Muhajirun! Help me! (calling his tribe). The Messenger of Allah (saaw) heard them and said:
"Why are you stirring up something which belongs to Jahilliyah?"
The Messenger of Allah (saw) did not deal with the situation only by speaking to his men, but he walked with the men all that day until nightfall, and through the night until morning and during the following day until the sun distressed them. Then he halted them, and as soon as they touched the ground, they fell asleep. He did this to distract their minds from what had transpired.
It is transmitted by at-Tabarani and al-Hakim that in one incident some people spoke very lowly about Salman al-Farsi. They spoke of the inferiority of the Persian in relation to the Arabs, and upon hearing this the Messenger of Allah (saw) declared:
"Salman is from us, the ahl al-bayt (the Prophet's family)."
This statement of the Messenger of Allah (saw) disassociates all links based on lineage and tribal considerations.
It was also transmitted, in two different versions, by Ibn al-Mubarak in his two books, Al-Birr and As-Salah, that some disagreement occurred between Abu Dharr and Bilal and Abu Dharr said to Bilal, "You son of a black woman." The Messenger of Allah (saaw) was extremely upset by Abu Dharr's comment, so he (saaw) rebuked him by saying:
"That is too much, Abu Dharr. He who has a white mother has no advantage which makes him better than the son of a black mother."
This rebuke had a profound effect on Abu Dharr, who then put his head on the ground swearing that he would not raise it until Bilal had put his foot over it.
These incidents demonstrate that tribal ties have no place in Islam. Muslims are commanded to stick together and not to disassociate themselves from each other just because they come from different tribes. The Messenger of Allah (saw) also said:
"The believers, in their love, mutual kindness, and close ties, are like one body; when any part complains, the whole body responds to it with wakefulness and fever." [Muslim]
"The faithful are like one man: if his eyes suffers, his whole body suffers." [Muslim]
"An Arab is no better than a non-Arab. In return, a non-Arab is no better than an Arab. A red raced man was not better than a black one except in piety. Mankind are all Adam's children and Adam was created out of clay."
[Al-Bukhari and Muslim, on the authority of Abu Musa]
Meaning that the Muslims, whether they are of Chinese, African, European or Asian origin, are one Ummah and they cannot be separated from each other. No tribalistic ties should ever break their unity.
Furthermore, Allah (swt), says:
“The Faithful are but brothers..."
[Surah Al-Hujurat (49): ayah 10]
And the Messenger of Allah (saw) said:
"The Faithful are to one another like [parts of] a building - each part strengthening the others"
and
"Every Muslim is a brother to a Muslim, neither wronging him nor allowing him to be wronged. And if anyone helps his brother in need, Allah will help him in his own need; and if anyone removes a calamity from [another] Muslim, Allah will remove from him some of the calamities of the Day of Resurrection; and if anyone shields [another] Muslim from disgrace, Allah will shield him from the disgrace on the Day of Resurrection."
[Al-Bukhari and Muslim, on the authority of `Abd Allah ibn `Umar]
Some people claim that the Messenger of Allah (saw) approved of nationalism because during the migration to Madinah, he (saw) said about Makkah with tears in his (saw) eyes:
"You are the most beloved land of Allah to me."
However, this saying has nothing to do with nationalism, and this can be seen from the full saying which people often do not quote:
"You are the most beloved land of Allah to me because you are the most beloved land of Allah to Allah."
The Messenger of Allah's (saw) lover for Makkah was based on the noble status that Allah (swt) has given to Makkah, and not because he (saw) was born there. All Muslims should have this love and affection for Makkah because it is the most beloved land in the sight of Allah (swt). After all, the Muslims pray towards Makkah and go there to perform Hajj there as it houses the Ka'ba. The above saying of the Messenger of Allah (saw) therefore has nothing to do with nationalism. If Rasoolillah (saw) and the Muhajireen amongst the Sahabah (ra) were tied to the homeland (of Makkah), they would have settled in Makkah after it became part of the Islamic State.
Not only does Islam forbid people from grouping on nationalistic ties, but it also prohibits the establishment of more than one state, whether these states are based on nationalism or otherwise. The only state that is allowed for the Muslims is the Islamic State, which is a state that is governed exclusively by Islam. Allah (swt) addressed the Messenger (saw):
"And rule between them by that which Allah revealed to you, and do not follow their vain desires away from the truth which came to you"
[Surah Al-Madinah (5): ayah 48]
and
"And rule between them by that which Allah revealed to you and do not follow their whims, and beware (be on the alert) that they may deviate you away from even some part of what Allah revealed to you."
[Surah Al-Maidah (5): ayah 49]
The speech of Allah (swt) to the Messenger (saw) is a speech to his (saw) Ummah unless specific evidence comes to restrict this. In this case, there is no such restriction, and so it becomes obligatory for the Muslims to rule according to Islam. And ruling according to Islam leaves no room for nationalistic constitutions whatsoever because what is applied, and what forms the criteria for judgement, is the Book of Allah (swt) and the Sunnah of the Messenger (saw).
Ruling according to Islam can only be achieved in one state, with one Khalifah. It is reported in Muslim that Abdullah ibn Amr ibn al-'As (ra) narrated that he heard the Messenger of Allah (saw) say:
"He who gave the bay'ah to an Imam, giving him the clasp of his hand and the fruit of his heart has to obey him as long as he can. If another comes to dispute with him (his authority) strike the neck of that person."
Abu Said al-Khudri narrated that the Messenger of Allah (saw) said:
"If a bay'ah is taken for two Khalifahs, kill the latter one."
And `Arfaja said that he heard the Messenger of Allah (saw) say:
"If someone comes to you when you are united over one man and wants to break your strength and divide your unity, kill him."
This unity of the Muslims was clearly highlighted in the document that the Messenger of Allah (saw) wrote when he established the Islamic State in Madinah. In this document, which was to regulate the relationships of Muslims and non-Muslims in the Islamic State, the Messenger of Allah (saw) said regarding the Muslims:
"Allah's covenant amongst them is one" and "The Believers are brothers to the exclusion of others" and "The peace of the believers is indivisible. No separate peace shall be made with believers are fighting in the way of Allah."
These statements serve to indicate that Muslims are one body and they are not to be treated separately. Furthermore, the obligation of having one state, and not many nationalistic states, also comes from the Ijma' of the Sahabah. When the Messenger of Allah (saw) died, the Sahabah (ra) convened to discuss the appointment of the Khalifah in the courtyard of Bani Sa'ida. One person had proposed that the Ansar should elect their own Amir and the Muhajireen their own, but Abu Bakr (ra) narrated the Hadith that forbids the Ummah from having more than one leader. Thus, the Sahabah (ra) never allowed more than one ruler and their consensus is a legitimate evidence for us.
Islam therefore leaves no room for the Saudi state, and Egyptian state, a Malaysian state, an Iraninan state, or a Pakistani state. Islam calls for one state with one ruler where all Muslims are bound by the Aqeedah of Islam. And this is a matter deciddd by Islam to which we must submit to, for Allah (swt) says:
"O mankind, verily We have created you from a male and a female, and made you peoples and tribes, so that you may recognize each other. Verily, the most honored of you to Allah is (he who) safeguards himself against evil with full awareness of Divine Laws. Verily, Allah is All-Knowing, All-Aware."
[Surah Al Hujurat (49): ayah 13]
This verse was revealed immediately after the triumphant entry of the Prophet (saw) into Makkah. After the declaration of immunity to the Quraysh, the Prophet (saw) requested Bilal (ra) to give the Adhan. A group of three new Muslims were observing the proceedings when Bilal (ra) was asked to make the Adhan. One of them remarked how happy he was that his parents were not present to see such a disgusting sight. Another one, Harith bin Hisham commented that the Prophet (saw) couldn't find anybody other than a black crow to make the Adhan. The third one, Abu Sufyan, abstained from making any adverse comment, stating that if he said anything, Allah (swt) would send a revelation to Muhammad (saw) addressing his statement.
Allah (swt) sent Jibreel (as) to inform the Prophet (saw) of the discussion that had just taken place. The prophet (saw) asked the three men about their conversation, who confirmed to the Prophet (saw) what Jibreel (as) told him. The verse of the Qur'an was subsequently revealed.
Because these individuals from the Quraysh were differentiating between themselves and Bilal (ra), Allah (swt) revealed this verse, concluding that the only criteria that Allah (swt) uses to judge between Muslims is that of Taqwa, which Bilal (ra) had and of which they were devoid of. This verse destroys the basis of nationalism in Islam.
In the first part of the Ayah, Allah (swt) revealed to humanity that all human beings were created from a single pair - Adam and Eve. This statement clearly refutes any claim of certain people that humans came from animals through the process of evolution or any other such claim.
The part of the Ayah, "..and made you peoples and tribes, so that you may know each other..." is usually misinterpreted as `nations and tribes' to justify the differences created by the existing borders, specifically in the Muslim World. In addition, such misinterpretations are also used to encourage Muslims to foster pride in these affiliations.
Unfortunately, these Muslims quickly jump to conclusions without looking at what Allah (swt) says. The errant understanding of this Ayah attempts to legitimize the current situation of the Muslim Ummah as many nations - divided and powerless - resulting from the destruction of the Khilafah state on March 3rd, 1924 by the puppet of the Kuffar, Mustafa Kamal.
Furthermore, such a misunderstanding lends legitimacy to the continued division of the already divided Muslim lands that occurred throughout the twentieth century, with the division of the Indian Subcontinent into Indian, Pakistani and Kashmiri regions; the further division of Pakistan into two countries with the creation of Bangladesh; and the renting asunder of the last Islamic Khilafah by the British agent Sykes and the French agent Picot during World War I in which they used the pencil and ruler to divide the Muslim Ummah.
"It is not for a believer (male or female) that when Allah and His Messenger have decreed a matter that they should have any choice in their decision. And whoever disobeys Allah and His Messenger, he has indeed strayed in plain error."
[Surah Al-Ahzab (33): ayah 36]
And those who still uphold nationalism, remember what Allah (swt) says,
"And let those who oppose the Messenger's commandment beware, lest some Fitnah (disbelief, trials,afflictions,...) befall them or a painful torment be inflicted on them."
[Surah An-Nur (24): ayah 63]
Bersamaan dengan meninggalnya Gus Dur, isu pluralisme kembali menjadi perbincangan. Presiden SBY pun secara khusus memberikan gelar “Bapak Pluralisme” untuk Gus Dur. Padahal MUI sendiri dalam fatwanya No.7/MUNAS VII/MUI/11/2005 telah dengan jelas-jelas menyebutkan bahwa pluralisme adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan umat Islam haram mengikuti paham tersebut. Bagaimana sesungguhnya pluralisme itu dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya ?
Pluralisme didefinisikan sebagai paham yang mengakui adanya pemikiran beragam -agama, kebudayaan, peradaban, dan lain-lain. Kadang-kadang pluralisme juga diartikan sebagai paham yang menyatakan, bahwa kekuasaan negara harus diserahkan kepada beberapa golongan (kelompok), dan tidak boleh dimonopoli hanya oleh satu golongan. Merujuk pada definisi kedua ini, Ernest Gellner menyebut model masyarakat yang menjunjung tinggi hukum dan hak-hak individu sebagai masyarakat sipil (civil society). Gellner juga menyatakan bahwa civil society merupakan ide yang menggambarkan suatu masyarakat yang terdiri dari lembaga-lembaga otonom yang mampu mengimbangi kekuasaan negara.
Kemunculan ide pluralisme –terutama pluralisme agama- didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan truth claim yang dianggap sebagai pemicu munculnya ekstrimitas, radikalisme agama, perang atas nama agama, konflik horizontal, serta penindasan antar umat agama atas nama agama. Menurut kaum pluralis, konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama baru sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya paling benar (lenyapnya truth claim). Adapun dilihat dari cara menghapus truth claim, kaum pluralis terbagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama berusaha menghapus identitas agama-agama, dan menyerukan terbentuknya agama universal yang mesti dianut seluruh umat manusia. Menurut mereka, cara yang paling tepat untuk menghapus truth claim adalah mencairkan identitas agama-agama, dan mendirikan apa yang disebut dengan agama universal (global religion). Sedangkan kelompok kedua menggagas adanya kesatuan dalam hal-hal transenden (unity of transenden). Dengan kata lain, identitas agama-agama masih dipertahankan, namun semua agama harus dipandang memiliki aspek gnosis yang sama. Menurut kelompok kedua ini, semua agama pada dasarnya menyembah Tuhan yang sama, meskipun cara penyembahannya berbeda-beda. Gagasan kelompok kedua ini bertumpu pada ajaran filsafat perennial yang memandang semua agama menyembah Realitas Mutlak yang sama, dengan cara penyembahan yang berbeda-beda.
Inilah gagasan-gagasan penting seputar ide pluralisme agama yang saat ini dipropagandakan di dunia Islam melalui berbagai cara dan media, misalnya dialog lintas agama, doa bersama, dan lain sebagainya. Pada ranah politik, ide pluralisme didukung oleh kebijakan pemerintah yang harus mengacu kepada HAM dan asas demokrasi. Negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada setiap warga Negara untuk beragama, pindah agama (murtad), bahkan mendirikan agama baru. Setiap orang wajib menjunjung tinggi prinsip kebebasan berfikir dan beragama, seperti yang dicetuskan oleh para penggagas paham pluralisme.
Argumentasi Para Penggagas Pluralisme Agama dan Koreksinya
Meskipun ide pluralisme –baik yang beraliran agama global maupun kesatuan transenden — ditujukan untuk meredam konflik akibat adanya keragaman agama, dan truth claim, namun ide ini ujung-ujungnya malah menambah jumlah agama baru dengan truth claim yang baru pula. Wajar saja jika ide ini mendapat tantangan keras dari agama beserta pemeluknya, terutama Islam dan kaum Muslim. Oleh karena itu, para pengusung gagasan pluralisme berusaha dengan keras mencari pembenaran dalam teks-teks agama agar paham ini (pluralisme) bisa diterima oleh kaum Muslim. Adapun alasan-alasan yang sering mereka ketengahkan untuk membenarkan ide pluralisme tersebut adalah sebagai berikut:
a. Surat al-Hujurat Ayat 13
Allah swt telah berfirman;
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “(al-Hujurat:13).
Menurut kaum pluralis, ayat ini menunjukkan adanya pengakuan Islam terhadap ide pluralisme.
Koreksi:
Pada dasarnya, ayat ini sama sekali tidak berhubungan dengan ide pluralisme agama yang diajarkan oleh kaum pluralis. Ayat ini hanya menjelaskan keberagaman (pluralitas) suku dan bangsa. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Islam mengakui ‘klaim-klaim kebenaran” (truth claim) dari agama-agama, isme-isme, dan peradaban-peradaban selain Islam. Ayat ini juga tidak mungkin dipahami, bahwa Islam mengakui keyakinan kaum pluralis yang menyatakan, bahwa semua agama yang ada di dunia ini menyembah Satu Tuhan, seperti Tuhan yang disembah oleh kaum Muslim. Ayat ini juga tidak mungkin diartikan, bahwa Islam telah memerintahkan umatnya untuk melepaskan diri dari identitas agama Islam, dan memeluk agama global (pluralisme). Ayat ini hanya menerangkan, bahwa Islam mengakui adanya pluralitas (keragaman) suku dan bangsa, serta identitas-identitas agama selain Islam; dan sama sekali tidak mengakui kebenaran ide pluralisme.
Agar kita bisa memahami makna ayat tersebut di atas, ada baiknya kita simak kembali penjelasan para mufassir yang memiliki kredibilitas ilmu dan ketaqwaan.
Dalam kitab Shafwaat al-Tafaasir, Ali al-Shabuniy menyatakan, “Pada dasarnya, umat manusia diciptakan Allah swt dengan asal-usul yang sama, yakni keturunan Nabi Adam as. Tendensinya, agar manusia tidak membangga-banggkan nenek moyang mereka. Kemudian Allah swt menjadikan mereka bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling mengenal dan bersatu, bukan untuk bermusuhan dan berselisih. Mujahid berkata, “Agar manusia mengetahui nasabnya; sehingga bisa dikatakan bahwa si fulan bin fulan dari kabilah anu’. Syekh Zadah berkata, “Hikmah dijadikannya kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu dengan yang lain mengetahui nasabnya. Sehingga, mereka tidak menasabkan kepada yang lain….Akan tetapi semua itu tidak ada yang lebih agung dan mulia, kecuali keimanan dan ketaqwaannya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa menempuhnya ia akan menjadi manusia paling mulia, yakni, bertaqwalah kepada Allah.”
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa surat Hujurat ayat 13 hanya menunjukkan bahwa Islam mengakui adanya pluralitas (keragaman) suku, bangsa, agama, dan lain-lain. Adanya keragaman suku, bangsa, bahasa, dan agama merupakan perkara alami. Hanya saja, Islam tidak pernah mengajarkan bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya. Islam juga tidak pernah mengajarkan bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, meskipun cara penyembahannya berbeda-beda. Bahkan, Islam menolak klaim kebenaran yang dikemukakan oleh penganut-penganut agama selain Islam, dan menyeru seluruh umat manusia untuk masuk ke dalam Islam, jika mereka ingin selamat dari siksa api neraka. Perhatikan ayat-ayat berikut ini;
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ(٦٧)وَإِنْ جَادَلُوكَ فَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُونَ(٦٨)اللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ(٦٩)أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ(٧٠)وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ(٧١)
“Tiap umat mempunyai cara peribadatan sendiri, janganlah kiranya mereka membantahmu dalam hal ini. Ajaklah mereka ke jalan Rabbmu. Engkau berada di atas jalan yang benar.” Kalau mereka membantahmu juga, katakanlah, Allah tahu apa yang kalian kerjakan. Rabb akan memutuskan apa yang kami perselisihkan di hari akhir. Apa mereka tidak tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan bumi. Semua itu ada di dalam pengetahuanNya , semua itu mudah bagi Allah. Mereka menyembah selain Allah tanpa keterangan yang diturunkan Allah, tanpa dasar ilmu. Mereka adalah orang-orang dzalim yang tidak mempunyai pembela.” (al-Hajj:67-71).
Ayat ini dengan tegas menyatakan, bahwa Islam mengakui adanya pluralitas (keragaman) agama. Hanya saja, Islam tidak pernah mengakui kebenaran (truth claim) agama-agama selain Islam. Tidak hanya itu saja, ayat ini juga menegaskan bahwa agama-agama selain Islam itu sesungguhnya menyembah kepada selain Allah swt. Lalu, bagaimana bisa dinyatakan, bahwa Islam mengakui ide pluralisme yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya, dan menyembah kepada Tuhan yang sama?
Di ayat yang lain, al-Quran juga menegaskan bahwa agama yang diridloi di sisi Allah swt hanyalah agama Islam.
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama yang diridloi di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imron:19).
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imron:85).
Pada tempat yang lain, Allah swt menolak klaim kebenaran semua agama selain Islam, baik Yahudi dan Nashrani, Zoroaster, dan lain sebagainya. Al-Quran telah menyatakan masalah ini dengan sangat jelas.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Dan diantara manusia ada yang mendewa-dewakan selain daripada Allah, dan mencintainya sebagaimana mencintai Rabb, lain dengan orang yang beriman, mereka lebih mencintai Allah. Kalau orang lalim itu tahu waktu melihat adzab Allah niscaya mereka sadar sesungguhnya semua kekuatan itu milik Allah, dan Allah amat pedih siksaNya.”(al-Baqarah:165).
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (al-Taubah:30)
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Taubah:31)
وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” (al-Maidah:18)
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
“Sungguh telah kafir, mereka yang mengatakan, “Tuhan itu ialah Isa al-Masih putera Maryam.”(al-Maidah:72)
Ayat-ayat di atas –dan masih banyak ayat yang lain– menyatakan dengan sangat jelas (qath’iy), bahwa Islam telah menolak truth claim semua agama selain Islam. Islam juga menyatakan dengan tegas, bahwa konsepsi Ketuhanan Islam berbeda dengan agama selain Islam yang ada pada saat ini, alias tidak sama. Sedangkan agama Yahudi dan Nashraniy sebelum disimpangkan oleh penganutnya, dahulunya masih memiliki konsepsi ketuhanan yang sama dengan agama Islam, yakni tauhid. Hanya saja, karena keculasan para penganutnya, akhirnya dua agama menyimpang jauh dari konsepsi tauhid. Dari sini bisa dipahami, bahwa Islam tidak sama dengan agama yang lain yang ada pada saat ini, baik dari sisi cara penyembahan (bentuk empirik), maupun konsepsi ketuhanannya (aspek gnosis). Fakta nash telah menunjukkan kesimpulan ini dengan sangat jelas. Oleh karena itu, menyamakan Islam dengan agama selain Islam jelas-jelas keliru dan menyesatkan, bahkan terkesan dipaksakan.
Seandainya ide pluralisme agama ini memang diakui di dalam Islam, berarti, tidak ada satupun orang yang masuk ke neraka dan kekal di dalamnya. Padahal, al-Quran telah menjelaskan dengan sangat jelas, bahwa orang Yahudi, Nashrani, dan kaum Musyrik, tidak mungkin masuk ke surganya Allah, akan tetapi mereka kekal di dalam neraka. Perhatikan ayat berikut ini.
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (al-Baqarah:111)
Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa surat al-Hujurat ayat 13 bukanlah pembenar bagi ide pluralisme agama. Ayat tersebut hanya berbicara pada konteks pluralitas suku, bangsa, dan agama, dan sama sekali tidak berbicara pada konteks gagasan pluralisme, seperti yang diklaim para pengusung ide pluralisme. Bahkan, nash-nash al-Quran jelas-jelas telah menyatakan pertentangan Islam dengan ide pluralisme.
Demikianlah, Islam sama sekali tidak mengakui kebenaran ide pluralisme, baik ide agama global maupun kesatuan transenden. Islam hanya mengakui adanya pluralitas agama dan keyakinan, serta mengakui adanya identitas agama-agama selain Islam. Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam. Mereka dibiarkan memeluk keyakinan dan agama mereka. Hanya saja, pengakuan Islam terhadap pluralitas agama tidak boleh dipahami bahwa Islam juga mengakui kebenaran (truth claim) agama selain Islam.
Adapun untuk memecahkan masalah pluralitas agama dan keyakinan, Islam memiliki sikap dan pandangan yang jelas; yakni mengakui identitas agama-agama selain Islam, dan membiarkan pemeluknya tetap dalam agama dan keyakinannya. Islam tidak akan melenyapkan identitas agama-agama selain Islam, seperti gagasan kelompok pluralis pertama (global religion).
Akhirnya, pluralisme adalah paham sesat yang bertentangan ‘aqidah Islam. Siapapun yang mengakui kebenaran agama selain Islam, atau menyakini bahwa orang Yahudi dan Nashrani masuk ke surga, maka dia telah murtad dari Islam.
b. Islam Tidak Memaksa Manusia untuk Masuk ke Dalam Agama Islam
Ayat lain yang sering digunakan dalil untuk membenarkan ide pluralisme adalah ayat;
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah:256)
Surat al-Baqarah ayat 256 ini sering dieksploitasi untuk membenarkan ide pluralisme. Mereka menyatakan, Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk ke dalam Islam, bahkan mereka dibiarkan tetap dalam agama mereka. Ini menunjukkan, bahwa Islam mengakui kebenaran agama selain Islam (pluralisme), tidak hanya sekedar mengakui pluralitas (keragaman) agama.
Koreksi:
Sesungguhnya, ayat ini tidak bisa digunakan dalil untuk membenarkan ide pluralisme. Ayat ini hanya berbicara pada konteks “tidak ada pemaksaan bagi penganut agama lain untuk masuk Islam”. Sebab, telah tampak kebenaran Islam melalui hujjah dan dalil yang nyata. Oleh karena itu, Islam tidak akan memaksa penganut agama lain untuk masuk Islam. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan, bahwa Islam membenarkan keyakinan dan ajaran agama selain Islam. Bahkan, ayat ini telah menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa kebenaran itu ada di dalam agama Islam, sedangkan agama yang lain jelas-jelas bathilnya. Hanya saja, kaum Muslim tidak diperbolehkan memaksa penganut agama lain untuk masuk ke dalam Islam.
Imam Qurthubiy di dalam Tafsir Qurthubiy menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan al-diin pada ayat di atas (al-Baqarah:256) adalah al-mu’taqid wa al-millah (keyakinan dan agama). Sedangkan kandungan isi ayat ini, seperti yang dituturkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, adalah; sesungguhnya seorang Muslim tidak boleh memaksa orang kafir untuk masuk Islam. Sebab, kebenaran Islam telah terbukti berdasarkan hujjah yang terang dan gamblang; sehingga, tidak perlu lagi memaksa para penganut agama lain untuk masuk ke dalam Islam.
Ayat ini tidak berhubungan sama sekali dengan ide pluralisme yang diusung oleh kaum pluralis. Bahkan, ayat ini menyatakan dengan jelas, bahwa Islam adalah agama yang paling benar, sekaligus menolak truth claim agama-agama selain Islam. Tidak adanya pemaksaan atas penganut agama lain untuk masuk Islam hanya menunjukkan bahwa Islam mengakui identitas agama mereka. Akan tetapi, Islam tidak mengakui sama sekali truth claim agama mereka. Bahkan, kaum Muslim diperintahkan untuk mengajak orang-orang kafir masuk ke dalam agama Islam dengan hujjah dan hikmah.
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ
“Tiap umat mempunyai cara peribadatan sendiri, janganlah kiranya mereka membantahmu dalam hal ini. Ajaklah mereka ke jalan Rabbmu. Engkau berada di atas jalan yang benar.” (al-Hajj:67)
c. Surat al-Maidah : 69 dan Surat al-Baqarah: 62
Dua ayat ini juga sering digunakan dalil oleh kaum pluralis untuk membenarkan paham pluralisme. Mereka menyatakan, bahwa dua ayat ini menyatakan dengan sangat jelas, bahwa Islam mengakui kebenaran agama-agama selain Islam, bahkan mereka juga memiliki kans yang sama untuk masuk ke dalam surganya Allah swt. Dua ayat tersebut adalah:
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(al-Maidah:69)
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Baqarah:62).
Sesungguhnya, ayat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan penganut agama lain yang ada pada saat ini. Sebab, topik yang diperbincangkan ayat tersebut adalah umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Nabi Mohammad saw. Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa umat-umat terdahulu, baik Yahudi, Nashrani, Shabi’un, yang taat kepada ajaran agamadan Rasulnya, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah swt. Akan tetapi, ayat di atas tidak menunjukkan pengertian, bahwa Islam mengakui truth claim agama-agama lain yang ada pada saat ini, baik Yahudi, Nashrani, Zoroaster, dan sebagainya. Dua ayat di atas tidak menunjukkan pengertian, bahwa pemeluk agama lain yang ada pada saat ini juga memiliki kans yang sama untuk masuk ke dalam surganya Allah swt, seperti halnya pemeluk agama Islam. Sebab, nash-nash al-Quran dan Sunnah dengan jelas menyatakan, bahwa setelah diutusnya Mohammad saw, seluruh manusia diperintahkan untuk meninggalkan agama mereka. Bahkan, Islam telah menjelaskan kesesatan dan kekafiran semua agama yang ada pada saat ini; baik agama Yahudi, Nashrani, maupun agama kaum Musyrik (Budha, Hindu, Konghucu, dan lain-lain).
Untuk menafsirkan surat al-baqarah ayat 62, ada baiknya kita simak penuturan ahli tafsir berikut ini:
Menurut al-Sudiy, ayat ini (al-Baqarah: 62) turun berkenaan dengan shahabat-shahabatnya (pendeta-pendeta) Salman al-Farisi; tatkala ia menceritakan kepada Nabi saw kebaikan-kebaikan mereka. Salman ra bercerita kepada Nabi saw, “Mereka mengerjakan sholat, berpuasa, dan beriman kepada kenabian Anda, dan bersaksi bahwa Anda akan diutus oleh Allah swt sebagai seorang Nabi.” Tatkala Salman selesai memuji para shahabatnya, Nabi saw bersabda, “Ya Salman, mereka termasuk ke dalam penduduk neraka.” Selanjutnya, Allah swt menurunkan ayat ini. Lalu hal ini menjadi keimanan orang-orang Yahudi; yaitu, siapa saja yang berpegang teguh terhadap Taurat, serta perilaku Musa as hingga datangnya Isa as (maka ia selamat). Ketika Isa as telah diangkat menjadi Nabi, maka siapa saja yang tetap berpegang teguh kepada Taurat dan mengambil perilaku Musa as, namun tidak memeluk agama Isa as, dan tidak mau mengikuti Isa as, maka ia akan binasa. Demikian pula orang Nashraniy. Siapa saja yang berpegang teguh kepada Injil dan syariatnya Isa as hingga datangnya Mohammad saw, maka ia adalah orang Mukmin yang amal perbuatannya diterima oleh Allah swt. Namun, setelah Mohammad saw datang, siapa saja yang tidak mengikuti Nabi Mohammad saw, dan tetap beribadah seperti perilakunya Isa as dan Injil, maka ia akan mengalami kebinasaan.”
Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Setelah ayat ini diturunkan, selanjutnya Allah swt menurunkan surat, “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.”[Ali Imron:85]. Ibnu ‘Abbas menyatakan, “Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada satupun jalan (agama, kepercayaan, dll), ataupun perbuatan yang diterima di sisi Allah, kecuali jika jalan dan perbuatan itu berjalan sesuai dengan syari’atnya Mohammad saw. Adapun, umat terdahulu sebelum nabi Mohammad diutus, maka selama mereka mengikuti ajaran nabi-nabi pada zamanya dengan konsisten, maka mereka mendapatkan petunjuk dan memperoleh jalan keselamatan.” Inilah pengertian surat al-Baqarah:62; dan surat al-Maidah:59.
Dari uraian di atas jelaslah, dua ayat di atas ditujukan kepada umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Nabi Mohammad saw. Topiknya sangat jelas, bahwa umat-umat terdahulu yang mengikuti agama nabinya dengan konsisten pada zaman itu; semisal umat Yahudi yang konsisten mengikuti kitab Taurat, menyakini dan menjalankan isinya, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah swt. Adapun setelah Nabi Mohammad saw diutus di muka bumi ini, maka tidak ada satupun agama –selain Islam—yang mampu menyelamatkan pemeluknya dari kekafiran, kecuali jika mereka mau memeluk Islam. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan, bahwa ahlul kitab dan kaum musyrik –setelah diutusnya Mohammad saw—terkategori muslim, dan berhak memperoleh pahala dari Allah swt.
Selain itu, pemelintiran makna yang dilakukan oleh kelompok pluralis terhadap ayat-ayat itu [al-Baqarah:62 dan al-Maidah:69], tentu saja akan bertolak belakang dengan sabda Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Mohammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari manusia yang mendengar aku, Yahudi, dan Nashrani, kemudian mati, sedangkan ia tidak beriman dengan apa yang diturunkan kepadaku, kecuali ia menjadi penghuni neraka.” [HR. Muslim dan Ahmad]
Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada nabi, di antara aku dan ia, yakni ‘Isa as, sesungguhnya ia adalah tamu. Bila kalian melihatnya, maka kalian akan mengenalnya sebagai seorang laki-laki yang mendatangi sekelompok kaum yang berwarna merah dan putih, seakan kepalanya turun hujan, bila ia tidak menurunkan hujan, maka akan basah, Dan ia akan memerangi manusia atas Islam, menghancurkan salib, membunuhi babi, mengambil jizyah, saat itu Allah menghancurkan seluruh agama kecuali Islam, sedangkan ‘Isa as menghancurkan Dajjal. Dan ia berada di muka bumi selama 40 tahun, kemudian wafat dan kaum muslimin mensholatkannya.” (HR. Abu Dawud)
Al-Quran sendiri telah memberikan predikat Ahli Kitab –Yahudi dan Nashrani—sebagai orang-orang musyrik. Allah swt berfirman: “Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Taubah:31). Redaksi sebelumnya dinyatakan, bahwa orang-orang Yahudi berkata, “‘Uzair adalah putera Allah” dan orang Nashrani berkata,” Al Masih putera Tuhan”.
Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa orang-orang Yahudi dan Nashrani terkategori kaum musyrik, bukan Muslim. Lantas, bagaimana bisa disimpulkan; kaum Yahudi dan Nashrani yang ada sekarang ini terkategori Muslim dan berhak mendapatkan pahala dari Allah swt, sementara itu mereka telah kafir dan musyrik? Bukankah Allah swt telah berfirman di dalam al-Quran:
“Oleh karena itu, siapa yang mempersekutukan Allah, maka ia tidak diperkenankan oleh Allah masuk surga, dan tempat kembalinya adalah neraka.”(al-Maidah:72).
“Sungguh telah kafir mereka yang mengatakan bahwa Tuhan itu ketiga dari yang ke tiga, padahal Tuhan itu hanya satu. Jika mereka belum berhenti berkata demikian, tentulah mereka yang kafir itu, akan mendapat siksa yang sangat pedih.” (al-Maidah:73)
“Sesungguhnya agama yang diridloi di sisi Allah hanyalah Islam.”(Ali Imron:19)
“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imron:85).
Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa surat al-Baqarah ayat 62 dan surat al-Maidah ayat 59 sama sekali tidak berhubungan dengan paham pluralisme.
d. Ayat Tentang Kalimatun Sawa’
Para pengusung ide pluralisme juga menggunakan ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang kalimatun sawa’.
قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Ali Imron:64])
Para pengusung gagasan pluralisme mengatakan, bahwa agama Yahudi, Kristen, dan Islam merupakan agama langit yang memiliki prinsip-prinsip ketuhanan dan berasal dari Tuhan yang sama. Lebih jauh mereka juga menyatakan, bahwa umat Islam, Yahudi, dan Kristen berasal dari keturunan Ibrahim as; sehingga ketiga pemeluk agama besar itu memiliki akar kesejarahan dan nasab yang sama. Mereka pun menyimpulkan, bahwa tidak ada perbedaan antara Islam, Yahudi, dan Nashraniy dalam masalah ketuhanan. Semua menyembah kepada Allah, dan sama-sama berpegang kepada kalimat sawa’. Dengan kata lain, Islam pun pada dasarnya mengakui kebenaran konsep ketuhanan agama Yahudi dan Kristen sekarang ini. Akhirnya, agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah sama-sama benarnya dan sama-sama punya kans masuk ke surganya Allah swt. Sesungguhnya, penafsiran kaum pluralis tersebut, benar-benar telah menyimpang jauh dari makna sebenarnya.
Untuk mengetahui makna hakiki dari frase kalimat sawa’, kita dapat merujuk kepada ulama tafsir yang lebih kredibel dan netral dari kepentingan barat, diantaranya adalah Imam Ibnu Katsir.
Menurut Ibnu Katsir, frase “kalimat” di dalam surat Ali Imron ayat 64 tersebut dipakai untuk menyatakan kalimat sempurna yang dapat dipahami maknanya. Kalimat sempurna itu adalah “sawaa’ bainanaa wa bainakum” (yang sama, yang tidak ada perbedaan antara kami dengan kalian). Frase ini merupakan sifat yang menjelaskan kata “kalimat” yang memiliki makna dan pengertian tertentu. Adapun makna hakiki yang dituju oleh frase “kalimatun sawaa’ sawaa’ bainanaa wa bainakum” adalah kalimat tauhid, yaitu “allaa na’budu illaa Al-Allah” (hendaknya kita tidak menyembah selain Allah). Inilah makna sesungguhnya dari kalimat sawa’, yaitu kalimat Tauhid; yang menyatakan bahwa tidak ada sesembahan (ilah) yang berhak untuk disembah kecuali Allah swt; bukan patung, rahib, api, dan sebagainya. Kalimat ini (kalimat tauhid) adalah kalimat yang dibawa dan diajarkan oleh seluruh Rasul yang diutus oleh Allah swt, termasuk di dalamnya Musa as dan Isa as. Allah swt berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”.” (al-Nahl:36)
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (al-Anbiyaa’:25)
Dari sini dapat disimpulkan, bahwa surat Ali Imron ayat 64 di atas sama sekali tidak menyerukan kesatuan agama, atau pembenaran Islam atas truth claim agama-agama selain Islam. Sebaliknya, ayat tersebut justru berisikan ajakan kepada ahlul kitab (baik Yahudi dan Nashraniy) untuk kembali mentauhidkan Allah swt, sebagaimana yang telah diajarkan pertama kali oleh Musa as dan Isa as. Sebab, kaum Yahudi dan Nashrani telah menyimpang jauh dari konsepsi Tauhid. Mereka telah menjadikan ahbar (pendeta-pendeta) dan ruhban (rahib-rahib) sebagai sesembahan selain Allah swt. Hal ini telah dijelaskan di dalam al-Quran dengan sangat jelas. Allah swt berfirman:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Taubah:31)
Walaupun ayat ini tidak menyatakan, bahwa ahbar itu ditujukan khusus untuk kaum Yahudi, dan ruhban untuk kaum Nashrani, akan tetapi konsensus pengguna bahasa Arab telah memahami, bahwa dua kata tersebut khusus untuk orang Yahudi dan Nashrani.
Dari sinilah bisa dipahami, bahwa ayat ini merupakan seruan kepada orang Yahudi dan Nashrani agar mereka kembali ke jalan Tauhid, setelah mereka menyimpang jauh dari jalan tersebut (tauhid); yaitu ketika orang Yahudi mengatakan bahwa Uzair itu anak Allah, dan tatkala orang Nashrani mengatakan bahwa Isa as adalah putera Tuhan. Surat Ali Imron di atas tidak lain tidak bukan adalah ajakan agar orang Yahudi dan Nashraniy meninggalkan kemusyrikannya dan kembali menyembah kepada Allah swt semata, dan mengikuti ajaran Mohammad saw.
Demikianlah, ayat ini sama sekali tidak berbicara pada konteks kesatuan dan kesamaan agama seperti yang dinyatakan oleh kaum pluralis. Ayat ini sama sekali juga tidak menunjukkan, bahwa Islam mengakui gagasan pluralisme yang dijajakan di negeri kaum Muslim. Sebaliknya, ayat ini merupakan ajakan dan seruan kepada ahlul kitab agar mereka kembali kepada jalan yang lurus, yakni agama Tauhid seperti yang telah diajarkan oleh Musa dan Isa as. WaLlâh a’lam bi al-shawâb (Syamsuddin Ramadhan - Lajnah Tsaqafiyyah HTI).
Politics: An Integral Part of Islam
Sunday, 06 December 2009 18:22
Recently, Saudi Arabia 's interior minister warned the pilgrims that they should not involve politics in Hajj. The current rulers in the Muslim lands are attempting to prevent Muslims from gathering and discussing issues and ideas which are pertinent to the future of the Ummah. Politics which is the act of "taking care of the affairs of the Ummah according to Shar'a rulings" is an integral part of Islam. We must take it upon ourselves to reclaim Islam and discuss the issues affecting the Muslim Ummah in all gatherings.
Prior to the commencement of Hajj, Saudi authorities were warning pilgrims not to stage any protests during the ritual. Saudi Arabia 's interior minister Prince Nayef bin Abdul Aziz said, "It is not permitted to undertake any actions which are not part of the ritual... and we will not permit anyone to damage the hajj or the pilgrims."
Hajj is an amazing journey where Muslims have an opportunity to strengthen their relationship with Allah سبحانه وتعالى. It is also an event where Muslims from every corner of the earth gather together as one Ummah to strengthen the bonds of brotherhood. Today, the pilgrims are grouped according to the nation states they belong to. Furthermore, Muslims are not
given an opportunity to bond with each other, by getting to know one another and discuss our condition as Allah سبحانه وتعالى has revealed:
إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
"We have created you of a male and a female, and made you tribes and families that you may know each other." [Al-Hujraat, 49:13]
Obstructing the Ummah: Hajj and Beyond
The discouragement of Muslims gathering and discussing the affairs of the Ummah is not only seen at the time of Hajj. Rather, this is a recurring theme throughout the Muslim world. Rulers regularly prevent Muslims from gathering and discussing issues and ideas which are pertinent to the future of the Ummah. Such preventions are usually enforced with great hostility and aggression:
• Palestine - In November 2007, 36-year-old Hisham Baradi died in a hospital after Palestinian police shot him in cold blood. According to reports, riot police and other security forces moved in on members of Hizb-ut-Tahrir as soon as they left masjids in the cities of Ramallah, Nablus and Hebron aiming to march in non-violent demonstrations planned against the treacherous Annapolis Conference attended by Abbas and other Arab rulers.
• Turkey - In July of this year, KöklüDeğişim Magazine organized a Khilafah conference in Istanbul . Two weeks prior to the conference, the organizers received permission from the Governor of Istanbul and notified him of the speakers along with a summary of their speeches. On the day of the conference - in the early morning - the Turkish police arrested (without any resistance) 200 speakers and attendees which led to the cancellation of the conference.
• Bangladesh - In September of this year, Muslims in Bangladesh organized a peaceful rally outside the national masjid after Jummah prayers calling for the re-establishment of the Khilafah and a unified Muslim Army. The rally, which was attended by several thousand Muslims was prevented by the police. Furthermore, they arrested 30 Muslim activists.
• Pakistan - In October of this year, 30 members of Hizb-ut-Tahrir were arrested in Islamabad while they were having a seminar in a residential home.
Islam: A Complete Way of Life
Islam is more than a mere set of rituals; rather it is a complete way of life. Islam does not confine the relationship between man and his Creator to his personal sphere. Instead, Islam properly recognizes that man needs guidance from Allah سبحانه وتعالى in all affairs, especially in the matters of siyasah (politics), which is "taking care of the affairs of the Ummah according to Shar'a rulings". As such, it is part of our Deen to be concerned with the affairs of our brothers and sisters across the world. Allah سبحانه وتعالى revealed:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"The believers are nothing else than brothers. So make reconciliation between your brothers, and fear Allah, that you may receive mercy." [Al-Hujraat, 49:10]
The Prophet صلى الله عليه وسلم said: "You will see the believers in their mutual kindness, love and sympathy just like one body. When a limb complains, the whole body responds to it with wakefulness and fever." [Muslim & Bukhari]
The ayah and hadith make it clear that it is part of our Deen to be concerned about the Ummah. Just as our hearts fill with joy when we see our brothers and sisters in their success, we are also overwhelmed with sadness and pain when we see their hardship and suffering. As a result, it is only natural that when we meet our fellow Muslims - be it at Hajj or after prayer at the masjid - that we discuss our problems and the solutions on how to resolve them.
Siyasah in the Gatherings of Muslims
When we look to the example of the Prophet صلى الله عليه وسلم and the Sahabah (ra), we see that the Muslims gathered and engaged in siyasah (politics) be they in Hajj, or outside of Hajj.
In the Hujat-al-Wada sermon which occurred during the Prophet's صلى الله عليه وسلم Hajj, RasulAllah صلى الله عليه وسلم discussed many issues that concern the affairs of Muslims including the property of a Muslim, riba, the obligations of men towards women and the equality of all Muslims with the exception of their Taqwa.
The masjid itself (which today is known only as a place of Juma, Jamat, Qiyamul-Layl and maybe some Islamic education) used to be the center of all activities. During the time of RasulAllah صلى الله عليه وسلم it was a place to congregate and discuss the affairs of the Ummah. For example, the news of Zayd (ra), Jafar (ra) and Abdullah ibn Rawaha (ra) being martyred at the Battle of Mua'ta was relayed to the Muslims by the Prophet صلى الله عليه وسلم in the masjid while he was on the minbar.
After the death of RasulAllah صلى الله عليه وسلم and prior to burying his body - an action which Shar'a requires urgency - the Sahabah (ra) gathered, discussed and debated as to who should be the leader of all Muslims. It was after heated discussions that Abu Bakr (ra) was nominated as the Khaleefah. Only after the appointment of Abu Bakr (ra) was the body of the Prophet صلى الله عليه وسلم buried..
During the Khilafat of Abu Bakr (ra) the tribes in the Arabian Peninsula apostatized and rebelled against the Islamic State. He then gathered the Sahabah (ra) in the masjid to discuss whether the Muslims should declare war on the apostates and rebels. When Umar (ra) was the Khaleefah, he used to meet the Wulaa (governors) during Hajj to discuss their activities and any issues of the Muslims in the region.
We can also see throughout the Islamic history stories of how the Ummah would not let any wrong pass by their eyes without correcting it even if it was the doing of a governor or the Khaleefah himself. Those in authority did not respond by imprisoning, suppressing or torturing these people rather they were quick to correct themselves as they understood the great responsibility and accountability they had before Allah سبحانه وتعالى.
When Umar (ra) was the Khaleefah, he received some cloth and distributed it equally amongst the Muslims by giving them one piece each. When he was on the minbar it was apparent that he was wearing 2 pieces of cloth. Immediately, Salman al-Farsi (ra) said, "By Allah, we will not hear you, because you prefer yourself to your people." At this point Abdullah ibn Umar (ra) explained that he gave his father his cloth. Salman al-Farsi (ra) responded by saying: "Now we shall hear you."
In another incident, Muawiya ibn Abi Sufyan who was a governor ordered a person to sell a silver utensil received from the spoils of war for payment to the soldiers who went out in battle. The news of (this state of affairs) reached Ubada bin Samit (ra) and he stood up and said, "I heard Allah's Messenger صلى الله عليه وسلم forbidding the sale of gold by gold, and silver by silver, and wheat by wheat, and barley by barley, and dates by dates, and salt by salt, except like for like and equal for equal. So he who made an addition or who accepted an addition (committed the sin of taking) interest." So the people returned what they had received. This reached Mu'awiya and he stood up to deliver an address. He said, "What is the matter with people that they narrate from the Messenger صلى الله عليه وسلم such tradition which we did not hear though we saw him and lived in his company?" Thereupon, Ubada bin Samit (ra) stood up and repeated that narration, and then said, "We will definitely narrate what we heard from Allah's Messenger صلى الله عليه وسلم though it may be unpleasant to Mu'awiya. I do not mind if I do not remain in his troop in the dark night."
Seeking Solutions
The Ummah is seeking solutions to the problems that are currently plaguing it. The Muslims are growing tired of insincere rulers who would rather host a concert with scantily clad women than
permit our Muslim sisters to wear the niqab at universities, as has happened in Egypt. It is fear that drives these despotic rulers to try their utmost to clamp down on any sincere gathering of Muslims working to free the Ummah of the problems that ail it. They are aware that they are sitting on borrowed thrones which do not rightfully belong to them, but rather belong to a sincere leader who will rule only by what Allah سبحانه وتعالى has revealed and fear no one but Him. It is only then that we can see this great Ummah return to the state that it was. Insha-Allah we will again see rulers who follow the method of the Prophet صلى الله عليه وسلم and fulfil their covenant towards Allah سبحانه وتعالى and the Ummah.
With ample evidence that all of Islam was discussed and that there was no separation between the rituals and other aspects of Islam we must take it upon ourselves to reclaim Islam from the treacherous rulers. By obeying only the commands and prohibitions of Allah سبحانه وتعالى we must return Islam back to the norm by making Muslim gatherings such as Hajj, the masjid and even family gatherings an arena to discuss the current affairs of the Muslim Ummah.
May Allah سبحانه وتعالى replace the current rulers with one who will work with the Ummah to resolve our issues in a manner that is pleasing to Allah سبحانه وتعالى.
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ
وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"The believers, men and women, are Auliya' of one another; they enjoin (on the people) Al-Ma‘ruf, and forbid (people) from Al-Munkar; they perform As-Salat, and give the Zakat, and obey Allah and His Messenger. Allah will have His Mercy on them. Surely Allah is All-Mighty, All-Wise." [At-Tawba, 9:71]
Mbah Minah, Prita Mulya Sari, dan jutaan manusia semisal mereka adalah manusia negeri ini yang haus akan keadilan ...
Namun bagaimana mungkin mereka menemukan keadilan dalam sistem pro kapitalis yang korup dan anti rakyat semacam ini?!
Mbah Minah harus berjuang sendiri melawan Robert Tantular yang menyeretnya ke pengadilan hanya karena mencuri buah semangka, Dan Prita Mulya Sari harus berjuang sendiri melawan RS Omni internasional yang menggugatnya 204 juta hanya karena mencurahkan isi hatinya pada sahabatnya tentang ketidakpuasannya terhadap pelayanan rumah sakit tersebut via email.
Sementara di sisi lain, bank Century yang telah jelas-jelas melakukan korupsi dana nasabah serta menyengsarakan rakyat sebesar 6,7 trilyun atas rekomendasi Budiyono dan Sri Mulyani, belum tersentuh oleh jeratan sanksi hukum hingga detik ini..
Ini hanya 3 dari ribuan bahkan jutaan persoalan korupsi yang dilakukan para kapitalis dan ketidakadilan yang diderita wong cilik di negeri kaya raya namun penuh dengan rakyat miskin.
Pemerintah SBY dan atau pemerintah manapun yang akan memimpin negeri ini 5 tahun mendatang seharusnya malu melihat wajah ironis hukum indonesia warisan VOC dan warisan negara super kapitalis sekuler ala AS yang mereka terapkan atas negeri berpenduduk mayoritas muslim ini.
Malu kepada siapa?
Malu kepada rakyat
Malu kepada dunia internasional
dan terpenting,malu kepada Allah SWT
Rakyat dan dunia internasional bisa saja tak berhak menghisab perbuatan mereka
tetapi Allah? Dia pasti akan menghisab perbuatan mereka sebagaimana perbuatan manusia manapun sekecil hingga sebesar apapun..di hari dimana manusia tak bisa menyembunyikan rasa malu dan takutnya dihadapan Allah
Hari penuh terror dan penuh kecemasan itu bernama yaumil hisab
Berapa banyak manusia dunia mendambakan keadilan yang tak pernah jika jarang sekali mereka daptkan dalam sistem hidup kapitalis?Yang mereka dapatkan justru ketidakadilan alias kezaliman dalam hukum buatan manusia yang telah berulang kali :
---Mengeksekusi manusia tak bersalah
---Memenjarakan manusia tak bersalah
---Memenangkan 'maling' super kaya atas 'orang baik' super miskin
Slogan-slogan 'pro rakyat dan wong cilik' hanya pemanis bibir untuk menutupi keburukan sistem demokrasi itu sendiri.
Demokrasi~karena bersumber dari hawa nafsu manusia~maka tak heran jika ia bersikap zhalim kepada wong cilik.
Slogan-slogan 'perangi korupsi sebagaimana terorisme serta bersihkan indonesia dari korupsi' hanya lip service atau lipstick untuk menyembunyikan ketidakmampuan demokrasi dalam memberantas korupsi hingga akar-akarnya.
Sudah saatnya kita menyadari hanya hukum Allah sajalah yang mampu menyelamatkan negeri kita dan dunia dari krisis global dalam segala aspek kehidupan ...
Allah telah terang-terangan menampakkan kerusakan yang diakibatkan ulah kotor manusia dan makar para musuhNya, menampakkan kematian komunisme di masa lalu dan kini kapitalisme yang berada di ujung tanduk kematian serta menampakkan tanda-tanda kemenangan Islam, Dinullah dan Rahmatan lil alamiin...
Mari perangi korupsi dan aparat negara korup hanya dengan syariahNya yang di implementasikan secara kaffah oleh khilafah Islamiyah
Dunia komunis kapitalis sekuler bisa saja berteriak 'No!' kepada syariah dan khilafah tetapi karena khilafah adalah janji Allah dalam Qs An Nuur : 55 dan Allah maha menepati janji,apa yang mereka benci dan tak ingin ia kembali,insya Allah atas ijin Allah khilafah akan kembali memimpin dunia sebagaimana sejarah peradaban Islam membuktikan bahwa Islam dibawah naungan daulah khilafah pernah menaungi umat manusia di dunia selama kurang lebih 13 abad (1302 tahun/622-1924) meskipun menurut standard matematis manusia, 13 abad adalah waktu yang lama namun menurut standard matermatis Allah, 13 abad adalah waktu yang begitu singkat...Subhanallah!
Di bawah naungan sistem Islam, insya Allah penguasa yang biasa korup dalam sistem kapitalis takkan berani bersikap korup karena Islam tak tebang pilih dalam menghukum para kriminal termasuk para koruptor dan rakyat akan mendapatkan keadilan Allah yang selama ini tidak hanya mereka cari di akhirat tetapi juga di dunia.
Hukuman dalam islam akan berfungsi sebagai :
---Penebus dosa manusia dihadapan Allah di akhirat
---Pencegah agar manusia lain takkan berani bertindak zhalim/jahat kepada sesamanya di dunia
Di bawah naungan sistem Islam, insya Allah habis gelap (abad kejahiliyahan) terbitlah terang (abad cahaya Islam)
1 Desember hari Selasa besok adalah hari AIDS sedunia. AIDS masih jadi superstar! Di manapun ia diperbincangkan masih tetap menjadi bahan obrolan yang hangat. Bagaimana tidak, penyakit yang disebabkan oleh virus HIV ini tetap konstan menduduki posisi sebagai masalah nasional . Hanya dalam waktu 20 tahun sejak ditemukan, AIDS sudah menjadi penyakit yang paling mengerikan. Dalam rentang waktu ini, sudah lebih dari 60 juta orang di dunia yang terinfeksi HIV. Data WHO tahun 2001 menunjukkan, di dunia terdapat 40 juta orang yang terinfeksi HIV, dengan 5 juta kasus baru, dan 3 juta orang yang meninggal akibat AIDS. Saat itu, AIDS adalah pembunuh nomor 4 di dunia.
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah satu kumpulan gejala yang timbulkan oleh virus HIV atau Human Immunodeficiency Virus. Pada awalnya penyakit ini memang banyak ditemukan pada kaum homoseksual. Banyak orang yang menganggap dirinya kebal dari AIDS karena merasa berada di jalan yang "lurus". Padahal, AIDS ini bisa mengenai siapa saja. tidak kenal jenis kelamin, usia, dan ras. Data menunjukkan jumlah terbesar penderitanya adalah kaum heteroseksual, dewasa muda pada usia produktif, dan peningkatan jumlah yang mencolok pada wanita.
Jika menilik perjalanan pada saat seseorang terkena virus HIV, maka diperlukan waktu 5-10 tahun untuk sampai pada tahap yang disebut AIDS. Setelah virus masuk ke dalam tubuh manusia, maka selama 2-4 bulan keberadaan virus tersebut belum bisa terdeteksi dengan pemeriksaan darah, namun demikian virus tersebut sendiri sudah ada dalam tubuh manusia. Tahap ini disebut periode jendela (windows period). Dalam kelangsungannya, virus HIV menyerang sel CD4 (sebagai daya tahan tubuh) sehingga akan menurunkan secara drastis kekebalan tubuh penderita.
Kecenderungan naiknya laju prevalensi dari problem HIV/AIDS ini sukses membuat pemerintah kelimpungan. Pada akhir September 2006 kasus yang terdata sebanyak 11.604 kasus . Sedangkan kasus yang sebenarnya diprediksi mencapai angka 90-120 ribu dengan 53% mengenai kelompok usia 20-29 tahun, kelompok remaja 16-20 tahun dan terakhir kelompok usia 31-35 tahun (Ditjen Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI). Lebih heboh lagi, Jawa Timur menduduki peringkat keempat penyebaran HIV/AIDS se-Indonesia. Dengan Surabaya sebagai kota pencetak kasus HIV/AIDS tertinggi, bahkan di kota Madiun HIV/AIDS dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). (Ditjen PPM dan PL-Depkes RI).
Memang, perilaku seksual merupakan faktor penyebaran yang utama. Tapi banyak pula ditemukan kasus yang penularannya. Melalui transfusi darah yang tercemar, pada pencandu norkoba lewat penggunaan jarum suntik bergantian ataupun pemindahan dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya.
Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menekan laju peningkatan HIV/AIDS di Indonesia.
Salah satunya adalah kampanye ABCD :
'A' untuk Abstinentia (puasa seks),
'B' untuk Be Faithful (setia pada pasangan),
'C' untuk Condom maksudnya jika A dan B gagal maka digunakanlah kondom,
'D' untuk no drugs.
Abstinentia dan Be Faithful adalah cara yang efektif untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS. Namun, jika upaya ini hanya dilakukan sebatas kampanye belaka tanpa disertai oleh tindakan hukum yang tegas, maka hasilnya akan sia-sia belaka.
Penggunaan kondom bukan jaminan seseorang bebas tertular virus HIV, alat kontrasepsi ini memiliki pori-pori yang memungkinkan untuk ditembus virus. Karena, pada dasarnya fungsi kondom adalah untuk mencegah masuknya sperma bukan untuk membendung serangan virus. Hasil konferensi AIDS di Chiang Mai, Thailand pada tahun 1995 yang menyebutkan bahwa, Penggunaan kondom aman, tidaklah benar. Bayangkan saja, pori-pori kondom yang terbuat dari bahan lateks diameternya 1/100 mikron dalam keadaan tidak meregang dan bisa 10 kali lebih besar bila meregang. Sedangkan ukuran virus HIV hanya ber diameter 1/250 mikron.
Dengan semakin banyak juga bervariasinya kasus tentang pornoaksi dan pornografi, pemerintahpun tampakya menutup mata terkait semakin maraknya free sex. Hal ini dipertegas dengan bebasnya pimpinan redaksi majalah porno (Playboy); RUU APP disahkan menjadi UU PP sehingga sanksi bagi pelanggarnya tidak lagi menjadi tegas; semakin menjamurnya lokalisasi; ATM kondom yang justru membuka pintu bagi seks bebas. Dampaknya, sebagaimana yang diwartakan RCTI (25/5/2007), seks bebas di kota-kota besar sudah melampaui batas. Salah satu contohnya, seks bebas dikalangan remaja Makasar: di SMP sudah mencapai 40-50%, dikalangan SMA 60-90%, di tingkat mahasiswa sudah mencapai angka 90%.
Lalu bagaimana dengan kita, apakah cukup dengan memasang poster tentang AIDS, memperbanyak obrolan tentang AIDS, menjual red ribbon untuk menggalang dana, membuat acara/quiz tentang AIDS, menyebarkan booklet/brosur tentang AIDS akan menyelesaikan masalah tentang AIDS?
Jika kita merujuk pada Islam, maka akan kita temukan sebuah bentuk penjagaan yang indah agar terhindar dari seks bebas. Allah SWT memerintahkan menahan pandangan dan memelihara kemaluan.
" Hendaknya mereka menahan pandangannya dan kemaluannya "(QS.An-Nur:31).
Interaksi antara lawan jenis, juga diatur dalam Islam. Sebagaimana Rasulullah saw. Telah mengingatkan kita dalam sabdanya, " Siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, jangan ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, sebab bila demikian setanlah yang menjadi pihak ketiganya." (HR Ahmad).
Sebab dalam Islam, hubungan antara lawan jenis itu hanya diperbolehkan dalam hal-hal yang di dalamnya mengharuskan mereka berinteraksi. Seperti dalam aspek pendidikan antara guru dan murid; muamalah antara penjual dan pembeli; atau kesehatan antara dokter dan pasien.
Terbukti rasa cinta ataupun kepada lawan jenis merupakan fitrah yang dimiliki sejak manusia ada di bumi. Dari zaman Nabi Adam sampai era sinetron Adam dan Hawa, rasa itu tidak hilang ditelan bumi. Kehadian rasa ini juga membantu manusia untuk tetap lestari. Rasa cinta merupakan bagian dari naluri yang dikenal dengan naluri melestarikan jenis(gharizatul nau').
Untuk memenuhi naluri ini, Islam telah mengaturnya dalam sebuah pernikahan. Selain menganjurkan menikah, Rasulullah saw. juga mengingatkan agar kita jangan sampai menyesal jikalau meninggal dalam keadaan membujang. Beliau bersabda, " Orang meninggal di antara kalian yang berada dalam kehinaan adalah bujangan. Dan sebagian besar penghuni neraka adalah bujangan. "
Berbeda dengan masyarakat sekular yang mendorong masyarakat membujang karena alasan karier, ekonomi, menganggap nikah adalah beban tetapi menyalurkannya melalui hubungan yang tidak jelas statusnya. Islam mengharamkan perzinaan dan segala yang terkait dengannya. Allah swt berfirman:
" Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra:32).
Mewujudkan sikap dan budaya menyalurkan naluri secara Islami dalam kehidupan bukanlah perkara mudah. Peran bersama, kontrol masyarakat, dan penegakan hukum Islam oleh negara mutlak diperlukan.
Secara individual, agar kesadaran individu terwujud diperlukan adanya pendidikan dan pembinaan serius yang berkesinambungan dengan berbagai cara. Pembinaan diterapkan harusnya memiliki karakter mendasar dengan proses berpikir yang jernih. Dengan begitu, keimanan yang mendalam bisa tertanam. Dengan itu pula seorang muslim akan selalu terdorong untuk terikat dengan seluruh aturan Allah SWT.
Yang lebih penting dari sekedar peran individu dan kontrol masyarakat, tentu saja adalah penegakan hukum oleh negara. Hukum yang dimaksud adalah hukum Allah, bukan hukum sekular buatan manusia yang terbukti lemah dan tidak bisa diharapkan dalam mengatasi berbagai persoalan yang ada. Disini peran negara amatlah vital, negara sebagai perisai yang mengurusi urusan rakyatnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw," Seorang imam (Khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan dia dimintai pertanggung jawaban terhadap rakyatnya " (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, masihkah kita berpangku tangan dan belum bergerak untuk bersegera menerapkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Tentunya kita harus peduli dengan keadaan yang terjadi di sekitar kita, termasuk juga untuk mencegah lebih luasnya penyebaran AIDS
i Care. Don't you?
P.S taken from one of my sist's notes...
AS yang telah membunuhi rakyat Afganistan dan Iraq tak disebut teroris. Demikian juga, Israel yang membunuhi rakyat Palestina tidak disebut teroris
Hidayatullah.com--Terjadinya global war and terrorism diawali dengan tragedi serangan pada gedung WTC dan Pentagon. Saat itu Presiden AS George W Bush mengultimatum pihak yang dituduhnya melakukan hal tersebut, yakni jaringan Al-Qaidah.
Ancaman Bush tersebut sebenarnya bertujuan jangka panjang. Sebab Barat menilai, setelah usai perang dingin melawan Komunis, yang menjadi ancaman Barat berikutnya adalah dunia Islam. Demikian salah satu kesimpulan Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto dalam seminar bertajuk, “International Security Facing the Challenge of Terrorism: International Cooperation and Domestic Support” di Fakultas Hubungan Internasional (HI) Unair di Gedung C FISIP Unair, Selasa (10/9).
Menurut Ismail, indikasi tersebut telah dibaca oleh para ilmuwan dan pakar. Contoh Samuel P Huntinton dengan perspektifanya yang tertuang dalam buku Clash of Civilization. Oleh karena itu, pascahancurnya WTC dan Pentagon, AS berusaha memberikan efek global dengan istilah war on terrorism (perang terhadap teroris), dan itu berarti perang terhadap Islam. Karena bagi mereka, “teroris” adalah Islam.
Hal itu tak mengherankan. Sesaat setelah itu, FBI merilis daftar jaringan “teroris”, 90 persen adalah jaringan dan sel-sel Islam.
Anehnya, menurut Ismail Yusanto, kampanye ‘perang melawan teror’ yang dikampanyekan Amerika itu bertolak belakang dengan tindakan AS sendiri yang juga melakukan “teror”.
AS sendiri yang telah membunuh rakyat Afganistan dan Iraq tak disebut teroris. Bahkan, Israel yang telah membunuh, mengintimidasi, dan merebut tanah rakyat Palestina tak disebut sebagai teroris.
“Seharusnya mereka ini disebut mbahnya teroris,” ujar Ismail yang disambut tawa para peserta.
Dia menegaskan, seharusnya AS dan Israel-lah yang harus disebut teroris internasional. Seperti Obama, Presiden AS sekarang, hanya diam saja ketika Israel melancarkan agresinya terhadap warga di Gaza. Seolah-olah Obama tidak tahu hal tersebut.
Terkait masalah pengeboman di tanah air, Ismail juga sempat mempertanyakan motif serta sejumlah kejanggalan yang terjadi. Dari sejumlah kasus pengeboman yang ada, ternyata bukan ditujukan ke tempat sasaran perwakilan AS ataupun Australia secara langsung, seperti Bom Bali 1 dan 2. Padahal target yang dibidik adalah AS dan Australia.
Yang tak kalah menarik, kaum Muslim yang terkait kasus peledakan, tiba-tiba dikait-kaitkan dengan simbol-simbol Islam dan institusi pendidikan: apakah sang pelaku lulusan pesantren atau lulusan kampus tertentu. Sehingga secara tidak langsung menstigmatisasi, tidak hanya pelaku, namun juga institusinya.
Ini sangat berbeda dengan kasus korupsi. “Seharusnya, para koruptor harus diusut, lulusan dari mana? Sehingga jelas, kampus mana yang melahirkan koruptor,” tegasnya. [ans/www.hidayatullah.com]
BAITUL MAQDIS
Di sanalah Masjidil Aqsa berada
Di sanalah...
Kiblat pertama umat Islam
Tempat tujuan isra' mi'raj Rasulullah
Satu dari tiga tempat suci umat Islam
selain Masjidil haram dan masjid Nabawi
BAITUL MAQDIS
Tak pernah bebas dari keserakahan manusia
orang-orang kafir dengan misi perang salib,imperialisme,dan zionisme
Sejak masa kegemilangan Islam dan umatnya
hingga keterpurukannya sekarang
Dunia melihat
BAITUL MAQDIS
Dahulu selalu dibebaskan dari keserakahan manusia
dengan semangat kepahlawanan Islam
semacam Shalahuddin al Ayyubi
beserta Tentara-tentara (mujahidin) Islam
Selama 13 abad kegemilangan Islam dan umatnya
dibawah naungan daulah khilafah Islamiyah
dibawah naungan :
Rasulullah SAW
Khulafa'ur rasyidin
Khulafa Bani Umayyah
Khulafa Bani abbasiyah
Khulafa Bani Utsmaniyah
Meskipun kebebasan itu harus terbayar mahal
dengan harta dan darah para syuhada
Dunia melihat
BAITUL MAQDIS
Kini terenggut kebebasannya
Sejak kehancuran khilafah Islamiyah Turki Utsmaniyah
Umat Islam jatuh tertimpa tangga
tak terbilang jumlah nyawa umat Islam terenggut
Masjidil Aqsa pun jatuh ke tangan najis para zionis yahudi Israel
Masjidil Aqsa bagaikan kuburan
Umat Islam tak bebas beribadah
Senjata zionis mengotori kesucian Masjidil Aqsa
Anjing-anjing Israel dibiarkan lepas mengotori Masjidil Aqsa
kiblat pertama kita, tempat tujuan isra' mi'raj Rasulullah, dan satu dari tiga tempat di dunia yang disucikan Allah bagi umat Islam
Dunia pun juga melihat
pengkhianatan para penguasa muslim
kepada Allah,Rasulullah,Islam dan umatnya
Mereka lebih cinta pada kehidupan dunia daripada akhirat dan takut pada kematian
Mereka lebih cinta pada iblis daripada Allah
Mereka lebih cinta pada orang-orang kafir daripada orang-orang beriman
Mereka lebih cinta pada hukum thaghut daripada hukum Allah
Mereka lebih takut pada setan/iblis serta pengikutnya daripada Allah
Padahal iblis yang mereka takuti
sesungguhnya masih takut pada Nya
meskipun selama-lamanya dalam kesesatannya dan kutukan Allah
Dunia juga melihat
penguasa palestina sekarang
Semakin tenggelam dalam kemunafikannya
Setiap kali mereka berkompromi dengan zionist dalam perjanjian
selama itu pula tanah palestine terenggut
hingga rakyatnya pun tergadaikan
karena martabat rendah para penguasanya dihadapan musuh Allah
Mereka khilanati perjuangan berdarah
para syuhada dalam mempertahankan eksistensi Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsa
Semoga Allah membalas perbuatan keji mereka
Semoga Allah segera menolong hamba-hambaNya
dan menggantikan penguasa zhalim dan munafik
dengan penguasa adil, amanah dan mu'min
yaa Allah..
Bebaskan Baitul Maqdis, Masjidil Aqsa
Musnahkan zionist Israel
hanya dengan kembalinya al khilafah ar rasyidah alaa minhaaji nubuwwah