Bersamaan dengan meninggalnya Gus Dur, isu pluralisme kembali menjadi perbincangan. Presiden SBY pun secara khusus memberikan gelar “Bapak Pluralisme” untuk Gus Dur. Padahal MUI sendiri dalam fatwanya No.7/MUNAS VII/MUI/11/2005 telah dengan jelas-jelas menyebutkan bahwa pluralisme adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan umat Islam haram mengikuti paham tersebut. Bagaimana sesungguhnya pluralisme itu dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya ?
Pluralisme didefinisikan sebagai paham yang mengakui adanya pemikiran beragam -agama, kebudayaan, peradaban, dan lain-lain. Kadang-kadang pluralisme juga diartikan sebagai paham yang menyatakan, bahwa kekuasaan negara harus diserahkan kepada beberapa golongan (kelompok), dan tidak boleh dimonopoli hanya oleh satu golongan. Merujuk pada definisi kedua ini, Ernest Gellner menyebut model masyarakat yang menjunjung tinggi hukum dan hak-hak individu sebagai masyarakat sipil (civil society). Gellner juga menyatakan bahwa civil society merupakan ide yang menggambarkan suatu masyarakat yang terdiri dari lembaga-lembaga otonom yang mampu mengimbangi kekuasaan negara.
Kemunculan ide pluralisme –terutama pluralisme agama- didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan truth claim yang dianggap sebagai pemicu munculnya ekstrimitas, radikalisme agama, perang atas nama agama, konflik horizontal, serta penindasan antar umat agama atas nama agama. Menurut kaum pluralis, konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama baru sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya paling benar (lenyapnya truth claim). Adapun dilihat dari cara menghapus truth claim, kaum pluralis terbagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama berusaha menghapus identitas agama-agama, dan menyerukan terbentuknya agama universal yang mesti dianut seluruh umat manusia. Menurut mereka, cara yang paling tepat untuk menghapus truth claim adalah mencairkan identitas agama-agama, dan mendirikan apa yang disebut dengan agama universal (global religion). Sedangkan kelompok kedua menggagas adanya kesatuan dalam hal-hal transenden (unity of transenden). Dengan kata lain, identitas agama-agama masih dipertahankan, namun semua agama harus dipandang memiliki aspek gnosis yang sama. Menurut kelompok kedua ini, semua agama pada dasarnya menyembah Tuhan yang sama, meskipun cara penyembahannya berbeda-beda. Gagasan kelompok kedua ini bertumpu pada ajaran filsafat perennial yang memandang semua agama menyembah Realitas Mutlak yang sama, dengan cara penyembahan yang berbeda-beda.
Inilah gagasan-gagasan penting seputar ide pluralisme agama yang saat ini dipropagandakan di dunia Islam melalui berbagai cara dan media, misalnya dialog lintas agama, doa bersama, dan lain sebagainya. Pada ranah politik, ide pluralisme didukung oleh kebijakan pemerintah yang harus mengacu kepada HAM dan asas demokrasi. Negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada setiap warga Negara untuk beragama, pindah agama (murtad), bahkan mendirikan agama baru. Setiap orang wajib menjunjung tinggi prinsip kebebasan berfikir dan beragama, seperti yang dicetuskan oleh para penggagas paham pluralisme.
Argumentasi Para Penggagas Pluralisme Agama dan Koreksinya
Meskipun ide pluralisme –baik yang beraliran agama global maupun kesatuan transenden — ditujukan untuk meredam konflik akibat adanya keragaman agama, dan truth claim, namun ide ini ujung-ujungnya malah menambah jumlah agama baru dengan truth claim yang baru pula. Wajar saja jika ide ini mendapat tantangan keras dari agama beserta pemeluknya, terutama Islam dan kaum Muslim. Oleh karena itu, para pengusung gagasan pluralisme berusaha dengan keras mencari pembenaran dalam teks-teks agama agar paham ini (pluralisme) bisa diterima oleh kaum Muslim. Adapun alasan-alasan yang sering mereka ketengahkan untuk membenarkan ide pluralisme tersebut adalah sebagai berikut:
a. Surat al-Hujurat Ayat 13
Allah swt telah berfirman;
يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “(al-Hujurat:13).
Menurut kaum pluralis, ayat ini menunjukkan adanya pengakuan Islam terhadap ide pluralisme.
Koreksi:
Pada dasarnya, ayat ini sama sekali tidak berhubungan dengan ide pluralisme agama yang diajarkan oleh kaum pluralis. Ayat ini hanya menjelaskan keberagaman (pluralitas) suku dan bangsa. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa Islam mengakui ‘klaim-klaim kebenaran” (truth claim) dari agama-agama, isme-isme, dan peradaban-peradaban selain Islam. Ayat ini juga tidak mungkin dipahami, bahwa Islam mengakui keyakinan kaum pluralis yang menyatakan, bahwa semua agama yang ada di dunia ini menyembah Satu Tuhan, seperti Tuhan yang disembah oleh kaum Muslim. Ayat ini juga tidak mungkin diartikan, bahwa Islam telah memerintahkan umatnya untuk melepaskan diri dari identitas agama Islam, dan memeluk agama global (pluralisme). Ayat ini hanya menerangkan, bahwa Islam mengakui adanya pluralitas (keragaman) suku dan bangsa, serta identitas-identitas agama selain Islam; dan sama sekali tidak mengakui kebenaran ide pluralisme.
Agar kita bisa memahami makna ayat tersebut di atas, ada baiknya kita simak kembali penjelasan para mufassir yang memiliki kredibilitas ilmu dan ketaqwaan.
Dalam kitab Shafwaat al-Tafaasir, Ali al-Shabuniy menyatakan, “Pada dasarnya, umat manusia diciptakan Allah swt dengan asal-usul yang sama, yakni keturunan Nabi Adam as. Tendensinya, agar manusia tidak membangga-banggkan nenek moyang mereka. Kemudian Allah swt menjadikan mereka bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling mengenal dan bersatu, bukan untuk bermusuhan dan berselisih. Mujahid berkata, “Agar manusia mengetahui nasabnya; sehingga bisa dikatakan bahwa si fulan bin fulan dari kabilah anu’. Syekh Zadah berkata, “Hikmah dijadikannya kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu dengan yang lain mengetahui nasabnya. Sehingga, mereka tidak menasabkan kepada yang lain….Akan tetapi semua itu tidak ada yang lebih agung dan mulia, kecuali keimanan dan ketaqwaannya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa menempuhnya ia akan menjadi manusia paling mulia, yakni, bertaqwalah kepada Allah.”
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa surat Hujurat ayat 13 hanya menunjukkan bahwa Islam mengakui adanya pluralitas (keragaman) suku, bangsa, agama, dan lain-lain. Adanya keragaman suku, bangsa, bahasa, dan agama merupakan perkara alami. Hanya saja, Islam tidak pernah mengajarkan bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya. Islam juga tidak pernah mengajarkan bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, meskipun cara penyembahannya berbeda-beda. Bahkan, Islam menolak klaim kebenaran yang dikemukakan oleh penganut-penganut agama selain Islam, dan menyeru seluruh umat manusia untuk masuk ke dalam Islam, jika mereka ingin selamat dari siksa api neraka. Perhatikan ayat-ayat berikut ini;
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ(٦٧)وَإِنْ جَادَلُوكَ فَقُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُونَ(٦٨)اللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ(٦٩)أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ(٧٠)وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ(٧١)
“Tiap umat mempunyai cara peribadatan sendiri, janganlah kiranya mereka membantahmu dalam hal ini. Ajaklah mereka ke jalan Rabbmu. Engkau berada di atas jalan yang benar.” Kalau mereka membantahmu juga, katakanlah, Allah tahu apa yang kalian kerjakan. Rabb akan memutuskan apa yang kami perselisihkan di hari akhir. Apa mereka tidak tahu bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan bumi. Semua itu ada di dalam pengetahuanNya , semua itu mudah bagi Allah. Mereka menyembah selain Allah tanpa keterangan yang diturunkan Allah, tanpa dasar ilmu. Mereka adalah orang-orang dzalim yang tidak mempunyai pembela.” (al-Hajj:67-71).
Ayat ini dengan tegas menyatakan, bahwa Islam mengakui adanya pluralitas (keragaman) agama. Hanya saja, Islam tidak pernah mengakui kebenaran (truth claim) agama-agama selain Islam. Tidak hanya itu saja, ayat ini juga menegaskan bahwa agama-agama selain Islam itu sesungguhnya menyembah kepada selain Allah swt. Lalu, bagaimana bisa dinyatakan, bahwa Islam mengakui ide pluralisme yang menyatakan bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya, dan menyembah kepada Tuhan yang sama?
Di ayat yang lain, al-Quran juga menegaskan bahwa agama yang diridloi di sisi Allah swt hanyalah agama Islam.
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama yang diridloi di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imron:19).
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imron:85).
Pada tempat yang lain, Allah swt menolak klaim kebenaran semua agama selain Islam, baik Yahudi dan Nashrani, Zoroaster, dan lain sebagainya. Al-Quran telah menyatakan masalah ini dengan sangat jelas.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Dan diantara manusia ada yang mendewa-dewakan selain daripada Allah, dan mencintainya sebagaimana mencintai Rabb, lain dengan orang yang beriman, mereka lebih mencintai Allah. Kalau orang lalim itu tahu waktu melihat adzab Allah niscaya mereka sadar sesungguhnya semua kekuatan itu milik Allah, dan Allah amat pedih siksaNya.”(al-Baqarah:165).
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dila`nati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (al-Taubah:30)
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Taubah:31)
وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” (al-Maidah:18)
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ
“Sungguh telah kafir, mereka yang mengatakan, “Tuhan itu ialah Isa al-Masih putera Maryam.”(al-Maidah:72)
Ayat-ayat di atas –dan masih banyak ayat yang lain– menyatakan dengan sangat jelas (qath’iy), bahwa Islam telah menolak truth claim semua agama selain Islam. Islam juga menyatakan dengan tegas, bahwa konsepsi Ketuhanan Islam berbeda dengan agama selain Islam yang ada pada saat ini, alias tidak sama. Sedangkan agama Yahudi dan Nashraniy sebelum disimpangkan oleh penganutnya, dahulunya masih memiliki konsepsi ketuhanan yang sama dengan agama Islam, yakni tauhid. Hanya saja, karena keculasan para penganutnya, akhirnya dua agama menyimpang jauh dari konsepsi tauhid. Dari sini bisa dipahami, bahwa Islam tidak sama dengan agama yang lain yang ada pada saat ini, baik dari sisi cara penyembahan (bentuk empirik), maupun konsepsi ketuhanannya (aspek gnosis). Fakta nash telah menunjukkan kesimpulan ini dengan sangat jelas. Oleh karena itu, menyamakan Islam dengan agama selain Islam jelas-jelas keliru dan menyesatkan, bahkan terkesan dipaksakan.
Seandainya ide pluralisme agama ini memang diakui di dalam Islam, berarti, tidak ada satupun orang yang masuk ke neraka dan kekal di dalamnya. Padahal, al-Quran telah menjelaskan dengan sangat jelas, bahwa orang Yahudi, Nashrani, dan kaum Musyrik, tidak mungkin masuk ke surganya Allah, akan tetapi mereka kekal di dalam neraka. Perhatikan ayat berikut ini.
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (al-Baqarah:111)
Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa surat al-Hujurat ayat 13 bukanlah pembenar bagi ide pluralisme agama. Ayat tersebut hanya berbicara pada konteks pluralitas suku, bangsa, dan agama, dan sama sekali tidak berbicara pada konteks gagasan pluralisme, seperti yang diklaim para pengusung ide pluralisme. Bahkan, nash-nash al-Quran jelas-jelas telah menyatakan pertentangan Islam dengan ide pluralisme.
Demikianlah, Islam sama sekali tidak mengakui kebenaran ide pluralisme, baik ide agama global maupun kesatuan transenden. Islam hanya mengakui adanya pluralitas agama dan keyakinan, serta mengakui adanya identitas agama-agama selain Islam. Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam. Mereka dibiarkan memeluk keyakinan dan agama mereka. Hanya saja, pengakuan Islam terhadap pluralitas agama tidak boleh dipahami bahwa Islam juga mengakui kebenaran (truth claim) agama selain Islam.
Adapun untuk memecahkan masalah pluralitas agama dan keyakinan, Islam memiliki sikap dan pandangan yang jelas; yakni mengakui identitas agama-agama selain Islam, dan membiarkan pemeluknya tetap dalam agama dan keyakinannya. Islam tidak akan melenyapkan identitas agama-agama selain Islam, seperti gagasan kelompok pluralis pertama (global religion).
Akhirnya, pluralisme adalah paham sesat yang bertentangan ‘aqidah Islam. Siapapun yang mengakui kebenaran agama selain Islam, atau menyakini bahwa orang Yahudi dan Nashrani masuk ke surga, maka dia telah murtad dari Islam.
b. Islam Tidak Memaksa Manusia untuk Masuk ke Dalam Agama Islam
Ayat lain yang sering digunakan dalil untuk membenarkan ide pluralisme adalah ayat;
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah:256)
Surat al-Baqarah ayat 256 ini sering dieksploitasi untuk membenarkan ide pluralisme. Mereka menyatakan, Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk ke dalam Islam, bahkan mereka dibiarkan tetap dalam agama mereka. Ini menunjukkan, bahwa Islam mengakui kebenaran agama selain Islam (pluralisme), tidak hanya sekedar mengakui pluralitas (keragaman) agama.
Koreksi:
Sesungguhnya, ayat ini tidak bisa digunakan dalil untuk membenarkan ide pluralisme. Ayat ini hanya berbicara pada konteks “tidak ada pemaksaan bagi penganut agama lain untuk masuk Islam”. Sebab, telah tampak kebenaran Islam melalui hujjah dan dalil yang nyata. Oleh karena itu, Islam tidak akan memaksa penganut agama lain untuk masuk Islam. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan, bahwa Islam membenarkan keyakinan dan ajaran agama selain Islam. Bahkan, ayat ini telah menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa kebenaran itu ada di dalam agama Islam, sedangkan agama yang lain jelas-jelas bathilnya. Hanya saja, kaum Muslim tidak diperbolehkan memaksa penganut agama lain untuk masuk ke dalam Islam.
Imam Qurthubiy di dalam Tafsir Qurthubiy menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan al-diin pada ayat di atas (al-Baqarah:256) adalah al-mu’taqid wa al-millah (keyakinan dan agama). Sedangkan kandungan isi ayat ini, seperti yang dituturkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, adalah; sesungguhnya seorang Muslim tidak boleh memaksa orang kafir untuk masuk Islam. Sebab, kebenaran Islam telah terbukti berdasarkan hujjah yang terang dan gamblang; sehingga, tidak perlu lagi memaksa para penganut agama lain untuk masuk ke dalam Islam.
Ayat ini tidak berhubungan sama sekali dengan ide pluralisme yang diusung oleh kaum pluralis. Bahkan, ayat ini menyatakan dengan jelas, bahwa Islam adalah agama yang paling benar, sekaligus menolak truth claim agama-agama selain Islam. Tidak adanya pemaksaan atas penganut agama lain untuk masuk Islam hanya menunjukkan bahwa Islam mengakui identitas agama mereka. Akan tetapi, Islam tidak mengakui sama sekali truth claim agama mereka. Bahkan, kaum Muslim diperintahkan untuk mengajak orang-orang kafir masuk ke dalam agama Islam dengan hujjah dan hikmah.
لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ فَلَا يُنَازِعُنَّكَ فِي الْأَمْرِ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ إِنَّكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ
“Tiap umat mempunyai cara peribadatan sendiri, janganlah kiranya mereka membantahmu dalam hal ini. Ajaklah mereka ke jalan Rabbmu. Engkau berada di atas jalan yang benar.” (al-Hajj:67)
c. Surat al-Maidah : 69 dan Surat al-Baqarah: 62
Dua ayat ini juga sering digunakan dalil oleh kaum pluralis untuk membenarkan paham pluralisme. Mereka menyatakan, bahwa dua ayat ini menyatakan dengan sangat jelas, bahwa Islam mengakui kebenaran agama-agama selain Islam, bahkan mereka juga memiliki kans yang sama untuk masuk ke dalam surganya Allah swt. Dua ayat tersebut adalah:
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”(al-Maidah:69)
إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Baqarah:62).
Sesungguhnya, ayat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan penganut agama lain yang ada pada saat ini. Sebab, topik yang diperbincangkan ayat tersebut adalah umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Nabi Mohammad saw. Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa umat-umat terdahulu, baik Yahudi, Nashrani, Shabi’un, yang taat kepada ajaran agamadan Rasulnya, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah swt. Akan tetapi, ayat di atas tidak menunjukkan pengertian, bahwa Islam mengakui truth claim agama-agama lain yang ada pada saat ini, baik Yahudi, Nashrani, Zoroaster, dan sebagainya. Dua ayat di atas tidak menunjukkan pengertian, bahwa pemeluk agama lain yang ada pada saat ini juga memiliki kans yang sama untuk masuk ke dalam surganya Allah swt, seperti halnya pemeluk agama Islam. Sebab, nash-nash al-Quran dan Sunnah dengan jelas menyatakan, bahwa setelah diutusnya Mohammad saw, seluruh manusia diperintahkan untuk meninggalkan agama mereka. Bahkan, Islam telah menjelaskan kesesatan dan kekafiran semua agama yang ada pada saat ini; baik agama Yahudi, Nashrani, maupun agama kaum Musyrik (Budha, Hindu, Konghucu, dan lain-lain).
Untuk menafsirkan surat al-baqarah ayat 62, ada baiknya kita simak penuturan ahli tafsir berikut ini:
Menurut al-Sudiy, ayat ini (al-Baqarah: 62) turun berkenaan dengan shahabat-shahabatnya (pendeta-pendeta) Salman al-Farisi; tatkala ia menceritakan kepada Nabi saw kebaikan-kebaikan mereka. Salman ra bercerita kepada Nabi saw, “Mereka mengerjakan sholat, berpuasa, dan beriman kepada kenabian Anda, dan bersaksi bahwa Anda akan diutus oleh Allah swt sebagai seorang Nabi.” Tatkala Salman selesai memuji para shahabatnya, Nabi saw bersabda, “Ya Salman, mereka termasuk ke dalam penduduk neraka.” Selanjutnya, Allah swt menurunkan ayat ini. Lalu hal ini menjadi keimanan orang-orang Yahudi; yaitu, siapa saja yang berpegang teguh terhadap Taurat, serta perilaku Musa as hingga datangnya Isa as (maka ia selamat). Ketika Isa as telah diangkat menjadi Nabi, maka siapa saja yang tetap berpegang teguh kepada Taurat dan mengambil perilaku Musa as, namun tidak memeluk agama Isa as, dan tidak mau mengikuti Isa as, maka ia akan binasa. Demikian pula orang Nashraniy. Siapa saja yang berpegang teguh kepada Injil dan syariatnya Isa as hingga datangnya Mohammad saw, maka ia adalah orang Mukmin yang amal perbuatannya diterima oleh Allah swt. Namun, setelah Mohammad saw datang, siapa saja yang tidak mengikuti Nabi Mohammad saw, dan tetap beribadah seperti perilakunya Isa as dan Injil, maka ia akan mengalami kebinasaan.”
Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Setelah ayat ini diturunkan, selanjutnya Allah swt menurunkan surat, “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.”[Ali Imron:85]. Ibnu ‘Abbas menyatakan, “Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada satupun jalan (agama, kepercayaan, dll), ataupun perbuatan yang diterima di sisi Allah, kecuali jika jalan dan perbuatan itu berjalan sesuai dengan syari’atnya Mohammad saw. Adapun, umat terdahulu sebelum nabi Mohammad diutus, maka selama mereka mengikuti ajaran nabi-nabi pada zamanya dengan konsisten, maka mereka mendapatkan petunjuk dan memperoleh jalan keselamatan.” Inilah pengertian surat al-Baqarah:62; dan surat al-Maidah:59.
Dari uraian di atas jelaslah, dua ayat di atas ditujukan kepada umat-umat terdahulu sebelum diutusnya Nabi Mohammad saw. Topiknya sangat jelas, bahwa umat-umat terdahulu yang mengikuti agama nabinya dengan konsisten pada zaman itu; semisal umat Yahudi yang konsisten mengikuti kitab Taurat, menyakini dan menjalankan isinya, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi Allah swt. Adapun setelah Nabi Mohammad saw diutus di muka bumi ini, maka tidak ada satupun agama –selain Islam—yang mampu menyelamatkan pemeluknya dari kekafiran, kecuali jika mereka mau memeluk Islam. Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan, bahwa ahlul kitab dan kaum musyrik –setelah diutusnya Mohammad saw—terkategori muslim, dan berhak memperoleh pahala dari Allah swt.
Selain itu, pemelintiran makna yang dilakukan oleh kelompok pluralis terhadap ayat-ayat itu [al-Baqarah:62 dan al-Maidah:69], tentu saja akan bertolak belakang dengan sabda Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Mohammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari manusia yang mendengar aku, Yahudi, dan Nashrani, kemudian mati, sedangkan ia tidak beriman dengan apa yang diturunkan kepadaku, kecuali ia menjadi penghuni neraka.” [HR. Muslim dan Ahmad]
Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada nabi, di antara aku dan ia, yakni ‘Isa as, sesungguhnya ia adalah tamu. Bila kalian melihatnya, maka kalian akan mengenalnya sebagai seorang laki-laki yang mendatangi sekelompok kaum yang berwarna merah dan putih, seakan kepalanya turun hujan, bila ia tidak menurunkan hujan, maka akan basah, Dan ia akan memerangi manusia atas Islam, menghancurkan salib, membunuhi babi, mengambil jizyah, saat itu Allah menghancurkan seluruh agama kecuali Islam, sedangkan ‘Isa as menghancurkan Dajjal. Dan ia berada di muka bumi selama 40 tahun, kemudian wafat dan kaum muslimin mensholatkannya.” (HR. Abu Dawud)
Al-Quran sendiri telah memberikan predikat Ahli Kitab –Yahudi dan Nashrani—sebagai orang-orang musyrik. Allah swt berfirman: “Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Taubah:31). Redaksi sebelumnya dinyatakan, bahwa orang-orang Yahudi berkata, “‘Uzair adalah putera Allah” dan orang Nashrani berkata,” Al Masih putera Tuhan”.
Ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa orang-orang Yahudi dan Nashrani terkategori kaum musyrik, bukan Muslim. Lantas, bagaimana bisa disimpulkan; kaum Yahudi dan Nashrani yang ada sekarang ini terkategori Muslim dan berhak mendapatkan pahala dari Allah swt, sementara itu mereka telah kafir dan musyrik? Bukankah Allah swt telah berfirman di dalam al-Quran:
“Oleh karena itu, siapa yang mempersekutukan Allah, maka ia tidak diperkenankan oleh Allah masuk surga, dan tempat kembalinya adalah neraka.”(al-Maidah:72).
“Sungguh telah kafir mereka yang mengatakan bahwa Tuhan itu ketiga dari yang ke tiga, padahal Tuhan itu hanya satu. Jika mereka belum berhenti berkata demikian, tentulah mereka yang kafir itu, akan mendapat siksa yang sangat pedih.” (al-Maidah:73)
“Sesungguhnya agama yang diridloi di sisi Allah hanyalah Islam.”(Ali Imron:19)
“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imron:85).
Dari seluruh uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa surat al-Baqarah ayat 62 dan surat al-Maidah ayat 59 sama sekali tidak berhubungan dengan paham pluralisme.
d. Ayat Tentang Kalimatun Sawa’
Para pengusung ide pluralisme juga menggunakan ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang kalimatun sawa’.
قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Ali Imron:64])
Para pengusung gagasan pluralisme mengatakan, bahwa agama Yahudi, Kristen, dan Islam merupakan agama langit yang memiliki prinsip-prinsip ketuhanan dan berasal dari Tuhan yang sama. Lebih jauh mereka juga menyatakan, bahwa umat Islam, Yahudi, dan Kristen berasal dari keturunan Ibrahim as; sehingga ketiga pemeluk agama besar itu memiliki akar kesejarahan dan nasab yang sama. Mereka pun menyimpulkan, bahwa tidak ada perbedaan antara Islam, Yahudi, dan Nashraniy dalam masalah ketuhanan. Semua menyembah kepada Allah, dan sama-sama berpegang kepada kalimat sawa’. Dengan kata lain, Islam pun pada dasarnya mengakui kebenaran konsep ketuhanan agama Yahudi dan Kristen sekarang ini. Akhirnya, agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah sama-sama benarnya dan sama-sama punya kans masuk ke surganya Allah swt. Sesungguhnya, penafsiran kaum pluralis tersebut, benar-benar telah menyimpang jauh dari makna sebenarnya.
Untuk mengetahui makna hakiki dari frase kalimat sawa’, kita dapat merujuk kepada ulama tafsir yang lebih kredibel dan netral dari kepentingan barat, diantaranya adalah Imam Ibnu Katsir.
Menurut Ibnu Katsir, frase “kalimat” di dalam surat Ali Imron ayat 64 tersebut dipakai untuk menyatakan kalimat sempurna yang dapat dipahami maknanya. Kalimat sempurna itu adalah “sawaa’ bainanaa wa bainakum” (yang sama, yang tidak ada perbedaan antara kami dengan kalian). Frase ini merupakan sifat yang menjelaskan kata “kalimat” yang memiliki makna dan pengertian tertentu. Adapun makna hakiki yang dituju oleh frase “kalimatun sawaa’ sawaa’ bainanaa wa bainakum” adalah kalimat tauhid, yaitu “allaa na’budu illaa Al-Allah” (hendaknya kita tidak menyembah selain Allah). Inilah makna sesungguhnya dari kalimat sawa’, yaitu kalimat Tauhid; yang menyatakan bahwa tidak ada sesembahan (ilah) yang berhak untuk disembah kecuali Allah swt; bukan patung, rahib, api, dan sebagainya. Kalimat ini (kalimat tauhid) adalah kalimat yang dibawa dan diajarkan oleh seluruh Rasul yang diutus oleh Allah swt, termasuk di dalamnya Musa as dan Isa as. Allah swt berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”.” (al-Nahl:36)
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (al-Anbiyaa’:25)
Dari sini dapat disimpulkan, bahwa surat Ali Imron ayat 64 di atas sama sekali tidak menyerukan kesatuan agama, atau pembenaran Islam atas truth claim agama-agama selain Islam. Sebaliknya, ayat tersebut justru berisikan ajakan kepada ahlul kitab (baik Yahudi dan Nashraniy) untuk kembali mentauhidkan Allah swt, sebagaimana yang telah diajarkan pertama kali oleh Musa as dan Isa as. Sebab, kaum Yahudi dan Nashrani telah menyimpang jauh dari konsepsi Tauhid. Mereka telah menjadikan ahbar (pendeta-pendeta) dan ruhban (rahib-rahib) sebagai sesembahan selain Allah swt. Hal ini telah dijelaskan di dalam al-Quran dengan sangat jelas. Allah swt berfirman:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (al-Taubah:31)
Walaupun ayat ini tidak menyatakan, bahwa ahbar itu ditujukan khusus untuk kaum Yahudi, dan ruhban untuk kaum Nashrani, akan tetapi konsensus pengguna bahasa Arab telah memahami, bahwa dua kata tersebut khusus untuk orang Yahudi dan Nashrani.
Dari sinilah bisa dipahami, bahwa ayat ini merupakan seruan kepada orang Yahudi dan Nashrani agar mereka kembali ke jalan Tauhid, setelah mereka menyimpang jauh dari jalan tersebut (tauhid); yaitu ketika orang Yahudi mengatakan bahwa Uzair itu anak Allah, dan tatkala orang Nashrani mengatakan bahwa Isa as adalah putera Tuhan. Surat Ali Imron di atas tidak lain tidak bukan adalah ajakan agar orang Yahudi dan Nashraniy meninggalkan kemusyrikannya dan kembali menyembah kepada Allah swt semata, dan mengikuti ajaran Mohammad saw.
Demikianlah, ayat ini sama sekali tidak berbicara pada konteks kesatuan dan kesamaan agama seperti yang dinyatakan oleh kaum pluralis. Ayat ini sama sekali juga tidak menunjukkan, bahwa Islam mengakui gagasan pluralisme yang dijajakan di negeri kaum Muslim. Sebaliknya, ayat ini merupakan ajakan dan seruan kepada ahlul kitab agar mereka kembali kepada jalan yang lurus, yakni agama Tauhid seperti yang telah diajarkan oleh Musa dan Isa as. WaLlâh a’lam bi al-shawâb (Syamsuddin Ramadhan - Lajnah Tsaqafiyyah HTI).
Politics: An Integral Part of Islam
Sunday, 06 December 2009 18:22
Recently, Saudi Arabia 's interior minister warned the pilgrims that they should not involve politics in Hajj. The current rulers in the Muslim lands are attempting to prevent Muslims from gathering and discussing issues and ideas which are pertinent to the future of the Ummah. Politics which is the act of "taking care of the affairs of the Ummah according to Shar'a rulings" is an integral part of Islam. We must take it upon ourselves to reclaim Islam and discuss the issues affecting the Muslim Ummah in all gatherings.
Prior to the commencement of Hajj, Saudi authorities were warning pilgrims not to stage any protests during the ritual. Saudi Arabia 's interior minister Prince Nayef bin Abdul Aziz said, "It is not permitted to undertake any actions which are not part of the ritual... and we will not permit anyone to damage the hajj or the pilgrims."
Hajj is an amazing journey where Muslims have an opportunity to strengthen their relationship with Allah سبحانه وتعالى. It is also an event where Muslims from every corner of the earth gather together as one Ummah to strengthen the bonds of brotherhood. Today, the pilgrims are grouped according to the nation states they belong to. Furthermore, Muslims are not
given an opportunity to bond with each other, by getting to know one another and discuss our condition as Allah سبحانه وتعالى has revealed:
إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
"We have created you of a male and a female, and made you tribes and families that you may know each other." [Al-Hujraat, 49:13]
Obstructing the Ummah: Hajj and Beyond
The discouragement of Muslims gathering and discussing the affairs of the Ummah is not only seen at the time of Hajj. Rather, this is a recurring theme throughout the Muslim world. Rulers regularly prevent Muslims from gathering and discussing issues and ideas which are pertinent to the future of the Ummah. Such preventions are usually enforced with great hostility and aggression:
• Palestine - In November 2007, 36-year-old Hisham Baradi died in a hospital after Palestinian police shot him in cold blood. According to reports, riot police and other security forces moved in on members of Hizb-ut-Tahrir as soon as they left masjids in the cities of Ramallah, Nablus and Hebron aiming to march in non-violent demonstrations planned against the treacherous Annapolis Conference attended by Abbas and other Arab rulers.
• Turkey - In July of this year, KöklüDeğişim Magazine organized a Khilafah conference in Istanbul . Two weeks prior to the conference, the organizers received permission from the Governor of Istanbul and notified him of the speakers along with a summary of their speeches. On the day of the conference - in the early morning - the Turkish police arrested (without any resistance) 200 speakers and attendees which led to the cancellation of the conference.
• Bangladesh - In September of this year, Muslims in Bangladesh organized a peaceful rally outside the national masjid after Jummah prayers calling for the re-establishment of the Khilafah and a unified Muslim Army. The rally, which was attended by several thousand Muslims was prevented by the police. Furthermore, they arrested 30 Muslim activists.
• Pakistan - In October of this year, 30 members of Hizb-ut-Tahrir were arrested in Islamabad while they were having a seminar in a residential home.
Islam: A Complete Way of Life
Islam is more than a mere set of rituals; rather it is a complete way of life. Islam does not confine the relationship between man and his Creator to his personal sphere. Instead, Islam properly recognizes that man needs guidance from Allah سبحانه وتعالى in all affairs, especially in the matters of siyasah (politics), which is "taking care of the affairs of the Ummah according to Shar'a rulings". As such, it is part of our Deen to be concerned with the affairs of our brothers and sisters across the world. Allah سبحانه وتعالى revealed:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"The believers are nothing else than brothers. So make reconciliation between your brothers, and fear Allah, that you may receive mercy." [Al-Hujraat, 49:10]
The Prophet صلى الله عليه وسلم said: "You will see the believers in their mutual kindness, love and sympathy just like one body. When a limb complains, the whole body responds to it with wakefulness and fever." [Muslim & Bukhari]
The ayah and hadith make it clear that it is part of our Deen to be concerned about the Ummah. Just as our hearts fill with joy when we see our brothers and sisters in their success, we are also overwhelmed with sadness and pain when we see their hardship and suffering. As a result, it is only natural that when we meet our fellow Muslims - be it at Hajj or after prayer at the masjid - that we discuss our problems and the solutions on how to resolve them.
Siyasah in the Gatherings of Muslims
When we look to the example of the Prophet صلى الله عليه وسلم and the Sahabah (ra), we see that the Muslims gathered and engaged in siyasah (politics) be they in Hajj, or outside of Hajj.
In the Hujat-al-Wada sermon which occurred during the Prophet's صلى الله عليه وسلم Hajj, RasulAllah صلى الله عليه وسلم discussed many issues that concern the affairs of Muslims including the property of a Muslim, riba, the obligations of men towards women and the equality of all Muslims with the exception of their Taqwa.
The masjid itself (which today is known only as a place of Juma, Jamat, Qiyamul-Layl and maybe some Islamic education) used to be the center of all activities. During the time of RasulAllah صلى الله عليه وسلم it was a place to congregate and discuss the affairs of the Ummah. For example, the news of Zayd (ra), Jafar (ra) and Abdullah ibn Rawaha (ra) being martyred at the Battle of Mua'ta was relayed to the Muslims by the Prophet صلى الله عليه وسلم in the masjid while he was on the minbar.
After the death of RasulAllah صلى الله عليه وسلم and prior to burying his body - an action which Shar'a requires urgency - the Sahabah (ra) gathered, discussed and debated as to who should be the leader of all Muslims. It was after heated discussions that Abu Bakr (ra) was nominated as the Khaleefah. Only after the appointment of Abu Bakr (ra) was the body of the Prophet صلى الله عليه وسلم buried..
During the Khilafat of Abu Bakr (ra) the tribes in the Arabian Peninsula apostatized and rebelled against the Islamic State. He then gathered the Sahabah (ra) in the masjid to discuss whether the Muslims should declare war on the apostates and rebels. When Umar (ra) was the Khaleefah, he used to meet the Wulaa (governors) during Hajj to discuss their activities and any issues of the Muslims in the region.
We can also see throughout the Islamic history stories of how the Ummah would not let any wrong pass by their eyes without correcting it even if it was the doing of a governor or the Khaleefah himself. Those in authority did not respond by imprisoning, suppressing or torturing these people rather they were quick to correct themselves as they understood the great responsibility and accountability they had before Allah سبحانه وتعالى.
When Umar (ra) was the Khaleefah, he received some cloth and distributed it equally amongst the Muslims by giving them one piece each. When he was on the minbar it was apparent that he was wearing 2 pieces of cloth. Immediately, Salman al-Farsi (ra) said, "By Allah, we will not hear you, because you prefer yourself to your people." At this point Abdullah ibn Umar (ra) explained that he gave his father his cloth. Salman al-Farsi (ra) responded by saying: "Now we shall hear you."
In another incident, Muawiya ibn Abi Sufyan who was a governor ordered a person to sell a silver utensil received from the spoils of war for payment to the soldiers who went out in battle. The news of (this state of affairs) reached Ubada bin Samit (ra) and he stood up and said, "I heard Allah's Messenger صلى الله عليه وسلم forbidding the sale of gold by gold, and silver by silver, and wheat by wheat, and barley by barley, and dates by dates, and salt by salt, except like for like and equal for equal. So he who made an addition or who accepted an addition (committed the sin of taking) interest." So the people returned what they had received. This reached Mu'awiya and he stood up to deliver an address. He said, "What is the matter with people that they narrate from the Messenger صلى الله عليه وسلم such tradition which we did not hear though we saw him and lived in his company?" Thereupon, Ubada bin Samit (ra) stood up and repeated that narration, and then said, "We will definitely narrate what we heard from Allah's Messenger صلى الله عليه وسلم though it may be unpleasant to Mu'awiya. I do not mind if I do not remain in his troop in the dark night."
Seeking Solutions
The Ummah is seeking solutions to the problems that are currently plaguing it. The Muslims are growing tired of insincere rulers who would rather host a concert with scantily clad women than
permit our Muslim sisters to wear the niqab at universities, as has happened in Egypt. It is fear that drives these despotic rulers to try their utmost to clamp down on any sincere gathering of Muslims working to free the Ummah of the problems that ail it. They are aware that they are sitting on borrowed thrones which do not rightfully belong to them, but rather belong to a sincere leader who will rule only by what Allah سبحانه وتعالى has revealed and fear no one but Him. It is only then that we can see this great Ummah return to the state that it was. Insha-Allah we will again see rulers who follow the method of the Prophet صلى الله عليه وسلم and fulfil their covenant towards Allah سبحانه وتعالى and the Ummah.
With ample evidence that all of Islam was discussed and that there was no separation between the rituals and other aspects of Islam we must take it upon ourselves to reclaim Islam from the treacherous rulers. By obeying only the commands and prohibitions of Allah سبحانه وتعالى we must return Islam back to the norm by making Muslim gatherings such as Hajj, the masjid and even family gatherings an arena to discuss the current affairs of the Muslim Ummah.
May Allah سبحانه وتعالى replace the current rulers with one who will work with the Ummah to resolve our issues in a manner that is pleasing to Allah سبحانه وتعالى.
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ
وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللّهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَـئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"The believers, men and women, are Auliya' of one another; they enjoin (on the people) Al-Ma‘ruf, and forbid (people) from Al-Munkar; they perform As-Salat, and give the Zakat, and obey Allah and His Messenger. Allah will have His Mercy on them. Surely Allah is All-Mighty, All-Wise." [At-Tawba, 9:71]
Mbah Minah, Prita Mulya Sari, dan jutaan manusia semisal mereka adalah manusia negeri ini yang haus akan keadilan ...
Namun bagaimana mungkin mereka menemukan keadilan dalam sistem pro kapitalis yang korup dan anti rakyat semacam ini?!
Mbah Minah harus berjuang sendiri melawan Robert Tantular yang menyeretnya ke pengadilan hanya karena mencuri buah semangka, Dan Prita Mulya Sari harus berjuang sendiri melawan RS Omni internasional yang menggugatnya 204 juta hanya karena mencurahkan isi hatinya pada sahabatnya tentang ketidakpuasannya terhadap pelayanan rumah sakit tersebut via email.
Sementara di sisi lain, bank Century yang telah jelas-jelas melakukan korupsi dana nasabah serta menyengsarakan rakyat sebesar 6,7 trilyun atas rekomendasi Budiyono dan Sri Mulyani, belum tersentuh oleh jeratan sanksi hukum hingga detik ini..
Ini hanya 3 dari ribuan bahkan jutaan persoalan korupsi yang dilakukan para kapitalis dan ketidakadilan yang diderita wong cilik di negeri kaya raya namun penuh dengan rakyat miskin.
Pemerintah SBY dan atau pemerintah manapun yang akan memimpin negeri ini 5 tahun mendatang seharusnya malu melihat wajah ironis hukum indonesia warisan VOC dan warisan negara super kapitalis sekuler ala AS yang mereka terapkan atas negeri berpenduduk mayoritas muslim ini.
Malu kepada siapa?
Malu kepada rakyat
Malu kepada dunia internasional
dan terpenting,malu kepada Allah SWT
Rakyat dan dunia internasional bisa saja tak berhak menghisab perbuatan mereka
tetapi Allah? Dia pasti akan menghisab perbuatan mereka sebagaimana perbuatan manusia manapun sekecil hingga sebesar apapun..di hari dimana manusia tak bisa menyembunyikan rasa malu dan takutnya dihadapan Allah
Hari penuh terror dan penuh kecemasan itu bernama yaumil hisab
Berapa banyak manusia dunia mendambakan keadilan yang tak pernah jika jarang sekali mereka daptkan dalam sistem hidup kapitalis?Yang mereka dapatkan justru ketidakadilan alias kezaliman dalam hukum buatan manusia yang telah berulang kali :
---Mengeksekusi manusia tak bersalah
---Memenjarakan manusia tak bersalah
---Memenangkan 'maling' super kaya atas 'orang baik' super miskin
Slogan-slogan 'pro rakyat dan wong cilik' hanya pemanis bibir untuk menutupi keburukan sistem demokrasi itu sendiri.
Demokrasi~karena bersumber dari hawa nafsu manusia~maka tak heran jika ia bersikap zhalim kepada wong cilik.
Slogan-slogan 'perangi korupsi sebagaimana terorisme serta bersihkan indonesia dari korupsi' hanya lip service atau lipstick untuk menyembunyikan ketidakmampuan demokrasi dalam memberantas korupsi hingga akar-akarnya.
Sudah saatnya kita menyadari hanya hukum Allah sajalah yang mampu menyelamatkan negeri kita dan dunia dari krisis global dalam segala aspek kehidupan ...
Allah telah terang-terangan menampakkan kerusakan yang diakibatkan ulah kotor manusia dan makar para musuhNya, menampakkan kematian komunisme di masa lalu dan kini kapitalisme yang berada di ujung tanduk kematian serta menampakkan tanda-tanda kemenangan Islam, Dinullah dan Rahmatan lil alamiin...
Mari perangi korupsi dan aparat negara korup hanya dengan syariahNya yang di implementasikan secara kaffah oleh khilafah Islamiyah
Dunia komunis kapitalis sekuler bisa saja berteriak 'No!' kepada syariah dan khilafah tetapi karena khilafah adalah janji Allah dalam Qs An Nuur : 55 dan Allah maha menepati janji,apa yang mereka benci dan tak ingin ia kembali,insya Allah atas ijin Allah khilafah akan kembali memimpin dunia sebagaimana sejarah peradaban Islam membuktikan bahwa Islam dibawah naungan daulah khilafah pernah menaungi umat manusia di dunia selama kurang lebih 13 abad (1302 tahun/622-1924) meskipun menurut standard matematis manusia, 13 abad adalah waktu yang lama namun menurut standard matermatis Allah, 13 abad adalah waktu yang begitu singkat...Subhanallah!
Di bawah naungan sistem Islam, insya Allah penguasa yang biasa korup dalam sistem kapitalis takkan berani bersikap korup karena Islam tak tebang pilih dalam menghukum para kriminal termasuk para koruptor dan rakyat akan mendapatkan keadilan Allah yang selama ini tidak hanya mereka cari di akhirat tetapi juga di dunia.
Hukuman dalam islam akan berfungsi sebagai :
---Penebus dosa manusia dihadapan Allah di akhirat
---Pencegah agar manusia lain takkan berani bertindak zhalim/jahat kepada sesamanya di dunia
Di bawah naungan sistem Islam, insya Allah habis gelap (abad kejahiliyahan) terbitlah terang (abad cahaya Islam)
1 Desember hari Selasa besok adalah hari AIDS sedunia. AIDS masih jadi superstar! Di manapun ia diperbincangkan masih tetap menjadi bahan obrolan yang hangat. Bagaimana tidak, penyakit yang disebabkan oleh virus HIV ini tetap konstan menduduki posisi sebagai masalah nasional . Hanya dalam waktu 20 tahun sejak ditemukan, AIDS sudah menjadi penyakit yang paling mengerikan. Dalam rentang waktu ini, sudah lebih dari 60 juta orang di dunia yang terinfeksi HIV. Data WHO tahun 2001 menunjukkan, di dunia terdapat 40 juta orang yang terinfeksi HIV, dengan 5 juta kasus baru, dan 3 juta orang yang meninggal akibat AIDS. Saat itu, AIDS adalah pembunuh nomor 4 di dunia.
AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah satu kumpulan gejala yang timbulkan oleh virus HIV atau Human Immunodeficiency Virus. Pada awalnya penyakit ini memang banyak ditemukan pada kaum homoseksual. Banyak orang yang menganggap dirinya kebal dari AIDS karena merasa berada di jalan yang "lurus". Padahal, AIDS ini bisa mengenai siapa saja. tidak kenal jenis kelamin, usia, dan ras. Data menunjukkan jumlah terbesar penderitanya adalah kaum heteroseksual, dewasa muda pada usia produktif, dan peningkatan jumlah yang mencolok pada wanita.
Jika menilik perjalanan pada saat seseorang terkena virus HIV, maka diperlukan waktu 5-10 tahun untuk sampai pada tahap yang disebut AIDS. Setelah virus masuk ke dalam tubuh manusia, maka selama 2-4 bulan keberadaan virus tersebut belum bisa terdeteksi dengan pemeriksaan darah, namun demikian virus tersebut sendiri sudah ada dalam tubuh manusia. Tahap ini disebut periode jendela (windows period). Dalam kelangsungannya, virus HIV menyerang sel CD4 (sebagai daya tahan tubuh) sehingga akan menurunkan secara drastis kekebalan tubuh penderita.
Kecenderungan naiknya laju prevalensi dari problem HIV/AIDS ini sukses membuat pemerintah kelimpungan. Pada akhir September 2006 kasus yang terdata sebanyak 11.604 kasus . Sedangkan kasus yang sebenarnya diprediksi mencapai angka 90-120 ribu dengan 53% mengenai kelompok usia 20-29 tahun, kelompok remaja 16-20 tahun dan terakhir kelompok usia 31-35 tahun (Ditjen Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI). Lebih heboh lagi, Jawa Timur menduduki peringkat keempat penyebaran HIV/AIDS se-Indonesia. Dengan Surabaya sebagai kota pencetak kasus HIV/AIDS tertinggi, bahkan di kota Madiun HIV/AIDS dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). (Ditjen PPM dan PL-Depkes RI).
Memang, perilaku seksual merupakan faktor penyebaran yang utama. Tapi banyak pula ditemukan kasus yang penularannya. Melalui transfusi darah yang tercemar, pada pencandu norkoba lewat penggunaan jarum suntik bergantian ataupun pemindahan dari ibu hamil ke janin yang dikandungnya.
Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menekan laju peningkatan HIV/AIDS di Indonesia.
Salah satunya adalah kampanye ABCD :
'A' untuk Abstinentia (puasa seks),
'B' untuk Be Faithful (setia pada pasangan),
'C' untuk Condom maksudnya jika A dan B gagal maka digunakanlah kondom,
'D' untuk no drugs.
Abstinentia dan Be Faithful adalah cara yang efektif untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS. Namun, jika upaya ini hanya dilakukan sebatas kampanye belaka tanpa disertai oleh tindakan hukum yang tegas, maka hasilnya akan sia-sia belaka.
Penggunaan kondom bukan jaminan seseorang bebas tertular virus HIV, alat kontrasepsi ini memiliki pori-pori yang memungkinkan untuk ditembus virus. Karena, pada dasarnya fungsi kondom adalah untuk mencegah masuknya sperma bukan untuk membendung serangan virus. Hasil konferensi AIDS di Chiang Mai, Thailand pada tahun 1995 yang menyebutkan bahwa, Penggunaan kondom aman, tidaklah benar. Bayangkan saja, pori-pori kondom yang terbuat dari bahan lateks diameternya 1/100 mikron dalam keadaan tidak meregang dan bisa 10 kali lebih besar bila meregang. Sedangkan ukuran virus HIV hanya ber diameter 1/250 mikron.
Dengan semakin banyak juga bervariasinya kasus tentang pornoaksi dan pornografi, pemerintahpun tampakya menutup mata terkait semakin maraknya free sex. Hal ini dipertegas dengan bebasnya pimpinan redaksi majalah porno (Playboy); RUU APP disahkan menjadi UU PP sehingga sanksi bagi pelanggarnya tidak lagi menjadi tegas; semakin menjamurnya lokalisasi; ATM kondom yang justru membuka pintu bagi seks bebas. Dampaknya, sebagaimana yang diwartakan RCTI (25/5/2007), seks bebas di kota-kota besar sudah melampaui batas. Salah satu contohnya, seks bebas dikalangan remaja Makasar: di SMP sudah mencapai 40-50%, dikalangan SMA 60-90%, di tingkat mahasiswa sudah mencapai angka 90%.
Lalu bagaimana dengan kita, apakah cukup dengan memasang poster tentang AIDS, memperbanyak obrolan tentang AIDS, menjual red ribbon untuk menggalang dana, membuat acara/quiz tentang AIDS, menyebarkan booklet/brosur tentang AIDS akan menyelesaikan masalah tentang AIDS?
Jika kita merujuk pada Islam, maka akan kita temukan sebuah bentuk penjagaan yang indah agar terhindar dari seks bebas. Allah SWT memerintahkan menahan pandangan dan memelihara kemaluan.
" Hendaknya mereka menahan pandangannya dan kemaluannya "(QS.An-Nur:31).
Interaksi antara lawan jenis, juga diatur dalam Islam. Sebagaimana Rasulullah saw. Telah mengingatkan kita dalam sabdanya, " Siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, jangan ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, sebab bila demikian setanlah yang menjadi pihak ketiganya." (HR Ahmad).
Sebab dalam Islam, hubungan antara lawan jenis itu hanya diperbolehkan dalam hal-hal yang di dalamnya mengharuskan mereka berinteraksi. Seperti dalam aspek pendidikan antara guru dan murid; muamalah antara penjual dan pembeli; atau kesehatan antara dokter dan pasien.
Terbukti rasa cinta ataupun kepada lawan jenis merupakan fitrah yang dimiliki sejak manusia ada di bumi. Dari zaman Nabi Adam sampai era sinetron Adam dan Hawa, rasa itu tidak hilang ditelan bumi. Kehadian rasa ini juga membantu manusia untuk tetap lestari. Rasa cinta merupakan bagian dari naluri yang dikenal dengan naluri melestarikan jenis(gharizatul nau').
Untuk memenuhi naluri ini, Islam telah mengaturnya dalam sebuah pernikahan. Selain menganjurkan menikah, Rasulullah saw. juga mengingatkan agar kita jangan sampai menyesal jikalau meninggal dalam keadaan membujang. Beliau bersabda, " Orang meninggal di antara kalian yang berada dalam kehinaan adalah bujangan. Dan sebagian besar penghuni neraka adalah bujangan. "
Berbeda dengan masyarakat sekular yang mendorong masyarakat membujang karena alasan karier, ekonomi, menganggap nikah adalah beban tetapi menyalurkannya melalui hubungan yang tidak jelas statusnya. Islam mengharamkan perzinaan dan segala yang terkait dengannya. Allah swt berfirman:
" Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra:32).
Mewujudkan sikap dan budaya menyalurkan naluri secara Islami dalam kehidupan bukanlah perkara mudah. Peran bersama, kontrol masyarakat, dan penegakan hukum Islam oleh negara mutlak diperlukan.
Secara individual, agar kesadaran individu terwujud diperlukan adanya pendidikan dan pembinaan serius yang berkesinambungan dengan berbagai cara. Pembinaan diterapkan harusnya memiliki karakter mendasar dengan proses berpikir yang jernih. Dengan begitu, keimanan yang mendalam bisa tertanam. Dengan itu pula seorang muslim akan selalu terdorong untuk terikat dengan seluruh aturan Allah SWT.
Yang lebih penting dari sekedar peran individu dan kontrol masyarakat, tentu saja adalah penegakan hukum oleh negara. Hukum yang dimaksud adalah hukum Allah, bukan hukum sekular buatan manusia yang terbukti lemah dan tidak bisa diharapkan dalam mengatasi berbagai persoalan yang ada. Disini peran negara amatlah vital, negara sebagai perisai yang mengurusi urusan rakyatnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw," Seorang imam (Khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan dia dimintai pertanggung jawaban terhadap rakyatnya " (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, masihkah kita berpangku tangan dan belum bergerak untuk bersegera menerapkan syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Tentunya kita harus peduli dengan keadaan yang terjadi di sekitar kita, termasuk juga untuk mencegah lebih luasnya penyebaran AIDS
i Care. Don't you?
P.S taken from one of my sist's notes...
AS yang telah membunuhi rakyat Afganistan dan Iraq tak disebut teroris. Demikian juga, Israel yang membunuhi rakyat Palestina tidak disebut teroris
Hidayatullah.com--Terjadinya global war and terrorism diawali dengan tragedi serangan pada gedung WTC dan Pentagon. Saat itu Presiden AS George W Bush mengultimatum pihak yang dituduhnya melakukan hal tersebut, yakni jaringan Al-Qaidah.
Ancaman Bush tersebut sebenarnya bertujuan jangka panjang. Sebab Barat menilai, setelah usai perang dingin melawan Komunis, yang menjadi ancaman Barat berikutnya adalah dunia Islam. Demikian salah satu kesimpulan Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto dalam seminar bertajuk, “International Security Facing the Challenge of Terrorism: International Cooperation and Domestic Support” di Fakultas Hubungan Internasional (HI) Unair di Gedung C FISIP Unair, Selasa (10/9).
Menurut Ismail, indikasi tersebut telah dibaca oleh para ilmuwan dan pakar. Contoh Samuel P Huntinton dengan perspektifanya yang tertuang dalam buku Clash of Civilization. Oleh karena itu, pascahancurnya WTC dan Pentagon, AS berusaha memberikan efek global dengan istilah war on terrorism (perang terhadap teroris), dan itu berarti perang terhadap Islam. Karena bagi mereka, “teroris” adalah Islam.
Hal itu tak mengherankan. Sesaat setelah itu, FBI merilis daftar jaringan “teroris”, 90 persen adalah jaringan dan sel-sel Islam.
Anehnya, menurut Ismail Yusanto, kampanye ‘perang melawan teror’ yang dikampanyekan Amerika itu bertolak belakang dengan tindakan AS sendiri yang juga melakukan “teror”.
AS sendiri yang telah membunuh rakyat Afganistan dan Iraq tak disebut teroris. Bahkan, Israel yang telah membunuh, mengintimidasi, dan merebut tanah rakyat Palestina tak disebut sebagai teroris.
“Seharusnya mereka ini disebut mbahnya teroris,” ujar Ismail yang disambut tawa para peserta.
Dia menegaskan, seharusnya AS dan Israel-lah yang harus disebut teroris internasional. Seperti Obama, Presiden AS sekarang, hanya diam saja ketika Israel melancarkan agresinya terhadap warga di Gaza. Seolah-olah Obama tidak tahu hal tersebut.
Terkait masalah pengeboman di tanah air, Ismail juga sempat mempertanyakan motif serta sejumlah kejanggalan yang terjadi. Dari sejumlah kasus pengeboman yang ada, ternyata bukan ditujukan ke tempat sasaran perwakilan AS ataupun Australia secara langsung, seperti Bom Bali 1 dan 2. Padahal target yang dibidik adalah AS dan Australia.
Yang tak kalah menarik, kaum Muslim yang terkait kasus peledakan, tiba-tiba dikait-kaitkan dengan simbol-simbol Islam dan institusi pendidikan: apakah sang pelaku lulusan pesantren atau lulusan kampus tertentu. Sehingga secara tidak langsung menstigmatisasi, tidak hanya pelaku, namun juga institusinya.
Ini sangat berbeda dengan kasus korupsi. “Seharusnya, para koruptor harus diusut, lulusan dari mana? Sehingga jelas, kampus mana yang melahirkan koruptor,” tegasnya. [ans/www.hidayatullah.com]
BAITUL MAQDIS
Di sanalah Masjidil Aqsa berada
Di sanalah...
Kiblat pertama umat Islam
Tempat tujuan isra' mi'raj Rasulullah
Satu dari tiga tempat suci umat Islam
selain Masjidil haram dan masjid Nabawi
BAITUL MAQDIS
Tak pernah bebas dari keserakahan manusia
orang-orang kafir dengan misi perang salib,imperialisme,dan zionisme
Sejak masa kegemilangan Islam dan umatnya
hingga keterpurukannya sekarang
Dunia melihat
BAITUL MAQDIS
Dahulu selalu dibebaskan dari keserakahan manusia
dengan semangat kepahlawanan Islam
semacam Shalahuddin al Ayyubi
beserta Tentara-tentara (mujahidin) Islam
Selama 13 abad kegemilangan Islam dan umatnya
dibawah naungan daulah khilafah Islamiyah
dibawah naungan :
Rasulullah SAW
Khulafa'ur rasyidin
Khulafa Bani Umayyah
Khulafa Bani abbasiyah
Khulafa Bani Utsmaniyah
Meskipun kebebasan itu harus terbayar mahal
dengan harta dan darah para syuhada
Dunia melihat
BAITUL MAQDIS
Kini terenggut kebebasannya
Sejak kehancuran khilafah Islamiyah Turki Utsmaniyah
Umat Islam jatuh tertimpa tangga
tak terbilang jumlah nyawa umat Islam terenggut
Masjidil Aqsa pun jatuh ke tangan najis para zionis yahudi Israel
Masjidil Aqsa bagaikan kuburan
Umat Islam tak bebas beribadah
Senjata zionis mengotori kesucian Masjidil Aqsa
Anjing-anjing Israel dibiarkan lepas mengotori Masjidil Aqsa
kiblat pertama kita, tempat tujuan isra' mi'raj Rasulullah, dan satu dari tiga tempat di dunia yang disucikan Allah bagi umat Islam
Dunia pun juga melihat
pengkhianatan para penguasa muslim
kepada Allah,Rasulullah,Islam dan umatnya
Mereka lebih cinta pada kehidupan dunia daripada akhirat dan takut pada kematian
Mereka lebih cinta pada iblis daripada Allah
Mereka lebih cinta pada orang-orang kafir daripada orang-orang beriman
Mereka lebih cinta pada hukum thaghut daripada hukum Allah
Mereka lebih takut pada setan/iblis serta pengikutnya daripada Allah
Padahal iblis yang mereka takuti
sesungguhnya masih takut pada Nya
meskipun selama-lamanya dalam kesesatannya dan kutukan Allah
Dunia juga melihat
penguasa palestina sekarang
Semakin tenggelam dalam kemunafikannya
Setiap kali mereka berkompromi dengan zionist dalam perjanjian
selama itu pula tanah palestine terenggut
hingga rakyatnya pun tergadaikan
karena martabat rendah para penguasanya dihadapan musuh Allah
Mereka khilanati perjuangan berdarah
para syuhada dalam mempertahankan eksistensi Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsa
Semoga Allah membalas perbuatan keji mereka
Semoga Allah segera menolong hamba-hambaNya
dan menggantikan penguasa zhalim dan munafik
dengan penguasa adil, amanah dan mu'min
yaa Allah..
Bebaskan Baitul Maqdis, Masjidil Aqsa
Musnahkan zionist Israel
hanya dengan kembalinya al khilafah ar rasyidah alaa minhaaji nubuwwah
Oleh: Andi Perdana G (Bendum BKIM IPB 2006-2007, Ketum Al-Marjan FPIK 2007-2008)
Syabab.Com - Sebagaimana kita ketahui bersama setiap tanggal 28 Oktober diperingati sebagai hari sumpah pemuda, sumpah pemuda diyakini oleh bangsa Indonesia sebagai momen pemersatu bangsa dan juga momen mengkokohkan nasionalisme. Masih mampukah nasionalisme itu menjadi ikatan untuk menyatukan bangsa?
Hakikat Nasionalisme
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, dengan jernih menjelaskan nasionalisme ini dalam bukunya, Nizham al-Islam, beliau membedakan nasionalisme/kebangsaan dengan patriotisme. Meskipun sama-sama lahir dari naluri mempertahankan diri. Dalam patriotisme, perasaan yang dominan adalah upaya untuk mempertahankan diri dari ancaman luar, sementara dalam nasionalisme yang dominan adalah keinginan yang muncul dari kecintaan akan kekuasaan, terutama atas bangsa-bangsa lain.
Pada awalnya keinginan mempertahankan diri atau mencintai kekuasaan adalah sah-sah saja. Namun kemudian, ia menjadi berbahaya tatkala dijadikan sebagai ikatan untuk mempersatukan manusia atas dasar ras/etnik sebagai sesuatu yang paling suci dan paling tinggi. Nasionalismelah yang menyebabkan konflik terus-menerus, karena satu nation (bangsa/suku) sering bersaing untuk saling menguasai dan menaklukkan bangsa/suku yang lain. Semangat nasionalisme ini pula yang turut mendompleng ambisi bangsa-bangsa kapitalis untuk melakukan kolonialisasi yang penuh darah atas bangsa-bangsa lain.
Sama halnya nasionalisme yang merusak, patriotisme merupakan ikatan yang lemah, rapuh dan tidak kekal. Pasalnya, patriotisme akan muncul kalau ada ancaman/musuh dari luar. Setelah ancaman/musuh ini hilang, pudarlah ikatan ini; Di beberapa negara patriotisme menjadi senjata ampuh untuk melawan kolonialisme, namun menjadi lumpuh setelah penjajah lenyap. Ironisnya, kaum patriotis dan kaum nasionalis ini kemudian menerima dan mengadopsi sistem politik, ekonomi, dan pemerintahan warisan bangsa penjajah. Walhasil penjajahan sesungguhnya masih langgeng hingga kini.
Lagipula, nasionalisme maupun patriotisme tidak memiliki konsepsi untuk menyelesaikan persoalan kehidupan. Rasa kesatuan kebangsaan hanya dimanfaatkan untuk memadukan kekuatan demi mengusir penjajah dan tidak dijabarkan dalam strategi penataan struktur sosial, politik, dan ekonomi yang merealisasikan kesatuan dan kedaulatan bangsa-bangsa pasca penjajahan.
Pandangan Islam tentang Nasionalisme
Dalam konteks inilah Syaikh Taqiyuddin menyebutkan bahwa ikatan yang terkuat bagi suatu masyarakat/bangsa adalah ikatan ideologis yang memiliki solusi komprehensif atas seluruh persoalan manusia. Untuk itu, dalam konteks dunia Islam, ideologi Kapitalisme hanya akan bisa dilawan dengan ideologi islam, bukan dengan nasionalisme.
Lebih dari itu, dalam pandangan Islam, nasionalisme maupun patriotisme jelas diharamkan. Bahwa umat islam harus mempertahankan dirinya, itu benar. Namun, dorongannya bukanlah nasionalisme/patriotisme, tetapi perintah Allah SWT untuk berjihad. Islam tidak melarang kaum muslim untuk meraih kekuasaan dan memperluas kekuasaan. Namun, kekuasaan dalam islam bukanlah kekuasaan itu sendiri. Tetapi untuk menerapkan syariah di tengah-tengah umat Islam sekaligus menyebarluaskan dakwah Islam ke seluruh dunia.
Ikatan nasionalisme ini semakin jelas keharamannya ketika menjadi tujuan tertinggi dan mengalahkan ikatan akidah islam. Dalam islam, ikatan tertinggi yang menyatukan manusia adalah akidah islam. Dengan tegas Allah SWT berfirman yang artinya: "sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara" (QS al-Hujurat [49] : 10). Artinya, bangsa atau etnis manapun, selama ia mukmin, adalah saling bersaudara.
Ikatan nasionalisme sesungguhnya telah memecah belah umat islam dalam negara bangsa (nation state) yang berbeda- beda. Padahal, sebelum itu mereka dipersatukan selama berabad-abad dalam wadah Daulah Islamiyah. Sepertinya sikap mementingkan keselamatan bangsa sendiri ini akan menyelamatkan. Nyatanya tidak. Tindakan seperti itu justru akan memperkuat penjajah kapitalis seperti AS untuk memperluas penjajahannya. Diamnya umat islam karena lebih mendahulukan kepentingan bangsanya membuat AS secara leluasa menyerang negeri-negeri islam dulu hingga sekarang seperti Afganistan dan Irak sekaligus mendukung Israel menyerang palestina. Iran pun berada dalam ancaman AS. Bukan mustahil, Indonesia adalah giliran selanjutnya.
Namun, perlu juga kita tegaskan, menolak nasionalisme sebagai paham bukan berarti kita tidak mencintai bangsa. Perjuangan kaum muslimin seharusnya untuk menolak kapitalisme sekaligus berupaya menerapkan syariah Islam dalam wadah Khilafah justru didorong oleh rasa cinta kepada bangsa ini. Bukankah akibat penerapan ideologi kapitalisme bangsa ini termasuk bangsa-bangsa lain di dunia islam menderita? Bukankah pula hanya syariah Islam yang akan menjadi solusinya?
Menolak nasionalisme bukan pula berarti kita menginginkan negara dan bangsa ini terpecah-belah. Justru syariah Islam akan memperkuat sekaligus memperluas persatuan dan kesatuan bangsa dan negara ini. Sebab, syariah Islam telah mengharamkan setiap upaya pemisahan dan disintegrasi umat. Khilafah Islam akan menjadi negara global yang lintas bangsa, suku, warna kulit, bahkan agama. Ikatan yang mengikat mereka adalah ikatan ideologi bukan ikatan nasionalisme. Oleh karena itu maka sudah saatnya kaum muslim pada umumnya dan para pemuda atau mahasiswa pada khususnya berjuang menegakkan syariah dan khilafah sebagai konsekuensi keimanan kita kepada Allah SWT.
Terselengaranya Kongres Mahasiswa Islam Indonesia yang dihadiri lebih dari 5000 mahasiswa Islam dari berbagai perguruan tinggi se-Indonesia yang bersumpah untuk perjuangkan syariah dan khilafah yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) pada 18 Oktober 2009 yang lalu harus direspon positif karena sebagai wujud koreksi atas pergerakan mahasiswa atau pemuda yang selama ini ada dan momentum tonggak perubahan sejarah mahasiswa atau pemuda menuju kehidupan yang lebih baik.
Sumpah generasi muda negeri ini, telah menyatakan secara intelektual solusi mendasar atas segala persoalan yang menimpa negeri ini. Mereka menyatakan, bahwa syariah Islam dalam naungan Khilafah Islamiyyah sebagai solusi tuntas persoalan yang menimpa masyarakat Indonesia dan juga negeri-negeri Muslim lainnya. Semoga, Allah SWT mendengarkan sumpah yang telah mereka nyatakan. Semoga, sumpah ini menjadi titik awal kebangkitan para intelektual muda Muslim untuk menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Insya Allah, Khilafah Rasyidah yang telah dijanjikan tidak akan lama lagi segera berdiri, amin. Allahu Akbar! Wallah a’lam bi ash-shawab. [opini/pemuda/syabab.com]

بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamu’alaikum wr.wb,…
Allah meninggikan Islam dan umatnya :
" Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedi hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang beriman " (Qs ali Imran : 139)
" Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman pada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka ; diantara mereka ada yang beriman. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik " (Qs ali Imran : 110)
Jika Allah berfirman demikian tentang Islam dan umatnya, dunia pun tidak kuasa berkata tidak! termasuk musuh-musuhNya semisal :
~ Snouck Hurgronje (Orientalis)
" Islam di masa depan akan meluas ke penjuru dunia, tidak melalui penyiaran, melainkan melalui perjuangan "
~ Robert D. Caplan ( pakar AS tentang dunia ke-3) :
" Di asia tengah, di bagian bumi ini, Islam akan menjadi daya tarik terbesar karena dukungan mutlak dari orang-orang yang terindas dan terzhalimi. Agama yang banyak tersebar luas di level dunia ini adalah satu-satunya yang siap bertempur dan berjuang "
Cukuplah dua musuh Allah ini mengakui 'kejujuran' mereka tentang islam.
Kebenaran firman Allah diatas tak bisa ditolak oleh dunia termasuk musuhNya apalagi oleh seorang muslim yang mengaku dirinya beriman pada Allah,nabi,agama,dan kitabNya. Sebagaimana yang dikatakan oleh shahabat Umar Bin Khaththab Ra :
" Jika ada 1000 orang yang membela kebenaran (Islam), aku salah seorang diantaranya. Jika ada 100 orang membela kebenaran, aku tetap berada diantaranya. Jika ada 10 orang pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu. Dan jika ada 1 orang yang tetap membela kebenaran, akulah orangnya "
Lalu, mengapa kita, umat Muhammad SAW di era millenium ini, harus berfikir 1000 kali untuk mencintai dan membela Islam dengan sepenuh hati?
Sejarah mencatat, Islam lahir, tumbuh besar hingga bangkit dan berjaya karena diperjuangkan oleh umatnya bahkan oleh negara Islam (daulah Islam) selama 13 abad melalui dawah dan perjuangan (jihad).
Umat Islam mencerminkan gambaran figur muslim yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Qs ali Imran : 110 dan 139 diatas.
Mereka adalah pejuang Islam yang hanya memiliki dua pilihan : hidup mulia dibawah naungan Islam atau mati syahid karena membela Islam.
Mereka mencintai kehidupan dan menjalaninya sesuai Al Qur'an dan as sunnah. Mereka pun tak segan untuk mati jika Allah hendak meminta nyawa mereka sewaktu-waktu.
Lebih dari itu, sejarah juga membuktikan, pertolongan pertama berupa kemenangan yang Allah anugerahkan pada baginda Muhammad SAW dan para pengikutnya terjadi ketika negara Islam pertama berdiri di Madinah. Sejak saat itu, Islam tumbuh besar dan bangkit hingga mampu menaklukan sebagian dunia termasuk Makkah. Sepeninggal rasulullah, eksistensi daulah Islam dilanjutkan secara estafet oleh khulafa'ur rasyidin,khulafa' bani Umayyah,Abbasiyah,dan Utsmaniyah selama 13 abad.
Bagaimana mungkin Islam berjaya selama 13 abad tanpa adanya daulah, sementara musuh-musuh Allah pada akhirnya juga bisa bangkit hanya dengan adanya daulah? (e.g Uni Sovyet dengan komunismenya-namun hancur pada 1991 ; AS dan uni eropa dengan kapitalismenya namun kini sedang di ujung tanduk )
Perbedaannya yang tajam terletak pada kebenaran/kebathilan fondasi bernama akidah yang melandasi tegaknya daulah dengan karakteristik ideologinya masing-masing.
Islam ditakdirkan Allah sebagai al haq (kebenaran). Selain Islam ditakdirkan Allah sebagai al bathil (kebathilan). Maka Allah tidak akan ridha melihat diin Nya terkalahkan oleh selain diinul Islam (meskipun perjalanan kehidupan Islam dan umatnya berputar seperti perputaran bumi).
Perbedaan tajam lainnya juga terletak pada keadilan/kezhaliman negara adidaya terhadap warga negara dunianya, baik di dalam dan luar negeri.
Daulah Islam menjamin segala aspek kehidupan umat manusia-lintas agama,negara,budaya(suku/ras),bahasa.Di satu sisi, negara Islam menjaga akidah umat Islam agar mereka masuk Islam secara kaffah dan tetap konsisten dalam kebenarannya. Di sisi lain, Islam tidak memaksa non muslim untuk masuk Islam. Bahkan menjamin kebebasannya untuk menjalankan syariahnya sendiri dalam urusan makan/minum, pakaian, ibadah, pernikahan/perceraian, hingga kematian (selama hak-hak tersebut mereka gunakan sebatas dalam komunitas mereka dan tidak mengganggu stabilitas keamanan iman dan Islam umat Islam)
Di bawah naungan daulah (khilafah) Islam :
~ Musuh Allah segan dan takut untuk memerangi dan menindas umat Islam bahkan manusia. Karena negara akan melindunginya dan takkan membiarkan hal itu terjadi,sebagaimana seorang ibu yang melindungi anaknya dari ancaman para penjahat.
~ Setiap warga negara,apapun agama dan bangsanya,berhak mendapatkan haknya untuk menikmati kehidupan yang layak dalam segala aspek selama mereka bersedia untuk melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara yang dinaungi oleh daulah Islam.
~ Bahkan ketika terjadi perseteruan diantara 2 musuh Allah hingga memaksa salah seorang diantara mereka meminta suaka, negara akan melindunginya dan membuat perjanjian diantara mereka.
~ Ada saatnya bagi daulah untuk menyerukan perdamaian ketika mereka terikat perjanjian damai dengan musuh-musuh Allah. Ada saatnya bagi daulah untuk menyerukan jihad/perang ketika perjanjian damai itu dilanggar oleh musuh-musuhNya.
Itulah kondisi kehidupan manusia dibawah naungan daulah Islam. Tatkala daulah Islam terakhir dihancurkan oleh agen Inggris, Mustafa Kemal Attaturk, kondisi kehidupan manusia khususnya kaum muslimin berubah menjadi buruk. Kesatuan negeri-negeri mereka tercabik-cabik oleh sekat nasionalisme dibawah kepemimpinan para penguasa zhalim. Bahasa Arab digantikan oleh bahasa Inggris sebagai bahasa pemersatu dunia. Identitas muslimah dengan jilbab dan khimarnya ditanggalkan dan diganti dengan identitas barat oleh institusi pemerintahan yang kufur.
Segala upaya umat Islam untuk mengembalikan khilafah diperangi oleh rejim Attaturk dan rejim-rejim Inggris lainnya. Hingga tak satupun tersisa. Lambat laun, kenangan tentang khilafah terhapus dari benak umat Islam. Seiring perjalanan waktu, umat Islam telah melupakan kejayaan dan keterpurukan mereka di masa lalu. Bahkan dengan atau tanpa mereka sadari, mereka menikmati keterpurukannya hingga saat ini.
Islam tergantikan oleh sistem kufur bernama Demokrasi. Dalam sistem ini, Allah disekutukan oleh dua hal yang kontradiktif dilakukan oleh hambaNya. Di satu sisi, mereka taat pada sebagian syariahNya dan disisi lain, mereka mencampakkan sebagian syariahNya sekehendak hawa nafsu mereka. Allah 'tersakiti' oleh kekafiran,kefasikan,kemunafikan dan kezhaliman manusia ; meskipun Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Dia telah menciptakan manusia dan 'bekerja keras' sepanjang masa memenuhi kebutuhan hidup dan nalurinya. Tetapi manusia tak pandai bersyukur bahkan mengkufuri nikmat Nya yang tak terhingga.
Ketika daulah Islam lenyap, otomatis tak ada naungan bagi manusia untuk berlindung dari ancaman imperialisme,zionisme,liberalisme,pluralisme,dan demokrasi dalam segala bentuknya.
Hak-hak mereka terabaikan dengan berbagai kasus kriminalitas,pornografi-aksi,pengangguran,tuna wisma,drop out sekolah,kemiskinan sistemik,dan persoalan lainnya.
Lebih parahnya, para pengemban dan pembela Islam dicurigai dan di beri lebel 'terrorist,fundamentalis,ekstrimis,radikal-dan julukan ekstrim lainnya--istilah yang sudah tak asing dalam kondisi Islam yang terasingkan dan kemaksiyatan merajalela. Islam, bagi sebagian penganutnya, bukan menjadi kebanggaan, bahkan dianggap sebagai monster yang menakutkan. Jika tak menakutkan-dengan segala keterbatasan pemahaman yang mereka miliki yang didasari niat ikhlas membela Islam-pembelaan mereka terkesan malu-malu kucing dan kurang berani.Ketika musuh Allah mengklaim bahwa Islam tak demokratis, mereka terburu-buru mengatakan,'siapa bilang Islam tak sejalan dengan demokrasi? Islam demokratis!'
Inilah puncak dari segala kesedihan kita sebagai hamba Allah dan umat Muhammad yang seharusnya menjadi pembela dan pejuang agamaNya.
Kita tak merasa begitu tersakiti ketika melihat rasulullah SAW dinistakan dan dihina melalui publikasi karikatur/kartun tak sepatutnya disandangkan pada seorang nabi yang agung.
Kita tak merasa begitu tersakiti ketika mendengar al Qur'anul kariim yang suci dilemparkan oleh tentara iblis AS ke dalam toilet yang najis, ketika melihat saudara-saudara kita teraniaya hingga syahid di Guantanamo,Abu Gharib,penjara-penjara penguasa zhalim dan belahan bumi manapun.
Kita tak merasa begitu murka melihat semua ini.
Namun, tiba-tiba kita merasa begitu murka ketika melihat semua ini menimpa musuh-musuh Allah---atas nama perang melawan terorisme dan terorist yang pertama kali dicanangkan oleh G.W Bush---padahal semua itu penuh dengan rekayasa dan konspirasi kotor musuh Allah untuk membunuh karakter seorang muslim yang shalih--dengan cara memfitnahnya atau menjebaknya dalam permainan dan tipu daya musuh-musuh Allah hingga mereka ikut bermain untuk memperjuangkan Islam sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh musuh-musuhNya.
Allah maha besar. Semoga Allah membalas konspirasi kotor mereka. Minimal,itulah do'a yang kita panjatkan. Namun, kita tak cukup berpuas diri dengan berdoa tanpa berusaha menghentikan kezhaliman yang menimpa agama dan saudara-saudara kita.
Allah menghendaki yang terbaik dari apa yang kita miliki. Allah hendak membeli harta,tenaga,waktu hingga nyawa yang kita cintai dengan ganjaran pahala dan syurgaNya. Lantas,mengapa kita menolaknya?
Sudah saatnya kita umat Islam,untuk menyadari bahwa :
~ Allah dan Islam sajalah yang besar
~ Allah hanya mengandalkan diri kita untuk menolong agamaNya dan mendapatkan pertolonganNya dengan kemenangan Islam
~ Allah memuliakan dan meninggikan kita dengan Islam dan menghilangkan ketakutan dan ketidak percayaan diri kita pada potensi luar biasa yang kita miliki.
Allah menciptakan potensi luar biasa di dunia Islam
Jumlah sumber daya manusia yang beragama Islam di dunia paling banyak
berdasarkan laporan CNN, hampir di dunia ini,setiap 1 dari 4 orang beragama Islam. Dan kemungkinan bisa bertambah http://www.cnn.com/2009/WORLD/asiapcf/10/07/muslim.world.population/index.html .
Allah juga menciptakan sumber daya alam yang tak pernah habis meskipun diperas dan dirampas oleh keserakahan imperialis kafir. Bahkan kekayaan itu juga diberikan Allah pada sebuah negeri muslim yang memiliki provonsi berpenduduk mayoritas non muslim, yakni Papua.Keserakahan manusia tak kan sanggup menghabiskan nikmat Allah.
Sudah saatnya kita menjadi umat Muhammad yang tersanjung dan percaya diri karena pujian Allah. Serta merasa bangga menjadi seorang muslim karena dipercaya Allah untuk membela dan memperjuangkan Islam, meski untuk itu, kita butuh mengembalikan sebuah institusi yang telah lama hilang dalam hidup kita. Institusi itu bernama daulah khilafah Islamiyah.
" Allahumma innaa nas'aluuka ridhaaka wal jannah bi 'iqaamati daulah khilafah rasyida tu'izzu bihaal islaama wa ahlahu wa tudzillu bihaal kufra wa ahlahu. Innaka alaa kulli syai'in qadiir.Innaka ni'mal maulaa wa ni'man nasyiir. Allahumma laa tahrimnaa ajrahaa wa laa tahrimnaal aisya fii dhillihaa, wa akrimnaa birof'i liwaa'ihaa yaa rabbal alamiin "
Jadikan setiap dari diri kita salah seorang dari ribuan bahkan jutaan manusia semisal Umar Bin Khaththab Ra...
I'm proud to be a muslim
for I love Allah and Islam
بســــــــــــــــــــــــــــــم الله الرحمـــــــــن الرحيــــــــم
" Sesungguhnya kelak di hari kiamat Allah akan berfirman,' di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagunganKu? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naunganKu disaat tidak ada naungan kecuali naunganKu " (HR Muslim)
" Sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir " (Qs ali imran : 32)
" Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut pada Allah hingga air susu kembali lagi ke payudara. Dan tidak akan berkumpul debu perang fii sabilillah dengan asap neraka jahannam " (HR At Tirmidzi)
Yaa Allah..
Tak ada cinta dalam diriku kecuali cinta karenaMu
Tak ada benci dalam diriku kecuali benci karenaMu
Tak ada takut dalam diriku kecuali takut karenaMu,takut pada murka dan azhabMu
" Maka apakah penduduk negeri-negeri tersebut merasa aman dari kedatangan siksa Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri tersebut merasa aman dari kedatangan siksa Kami kepada mereka disaat matahari sepenggalan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azhab Allah yang tidak terduga? Tiadalah yang merasa aman dari azhab Allah kecuali orang-orang yang merugi " (Qs al A'raaf : 97-99)
" Dan peliharalah dirimu dari siksa yang tak khusus menimpa orang-orang yang zhalim diantara kalian. Dan ketahuilah, bahwa Allah amat dahsyat siksaNya " (Qs al Anfaal : 25)
Yaa Allah...
Ku merasa aman dalam naunganMu dan perlindunganMu
amankanlah hamba dalam naunganMu
Ku tak merasa aman dari azhab dan murkaMu
lindungilah hamba dari azhab dan murkaMu
Selama hamba bernafas,hamba masih ber-asa :
Allahumma innaa nas'aluka ridhaaKa wal jannah
bi iqaamati daulah khilafah rasyidah
alaa minhaaji nubuwwah
tu'idzdzu bihaal islaama wa ahlahu
wa tudzdzilu bihaal kufra wa ahlahu
innaka alaa kullii syai'in Qadiir
innaka ni'mal maulaa wa ni'ma nasyiir
Allahumma laa tahrimnaa ajrahaa
wa laa tahrimnaal aisya fii dhillihaa
wa akrimnaa bi rof'in liwaa'ihaa
yaa Rabbal Alamiin
yaa Allah
Hamba memohon keridhoan-dan syurgaMu
dengan berdirinya daulah khilafah rasyidah
atas manhaj kenabian
yang dengannya
Engkau muliakan Islam dan umatnya
yang dengannya
Engkau hinakan kekufuran dan pengikutnya
Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu
Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemimpin dan pelindung
(Perkenankanlah asa dan do'a hamba)
Janganlah Engkau haramkan atas diri kami
untuk mendapatkan pahala
dengan perjuangan mendirikan/menegakkan khilafah
dan Janganlah Engkau haramkan atas kami
untuk hidup dibawah naungannya
serta muliakanlah kami
dengan ikut mengibarkan al liwaa
yaa Rabbal alamiin...

Difficult times are at every hand
I've clearly seen them nearest by
* in December 26,2004 tsunami shook and came down on acheh.
Afterwards,line of (natural)disasters never stopped dropping by some lands of the country as yet e.g.earthquake,massive flood,...on and on. The lastest one is the earthquake in west sumatra
All above disasters led to large number of material (infrastructure) and immaterial (casualties) loss.
* instead of natural disasters,we have also been through hard times in the life of :
~ Politics---Corruption,trick/fast-talk
~ Social intercourse---Free sex and drugs causing the increasing number of HIV AIDS and abortion
~ Health---Sick people are more and more.Only the rich can afford to pay for their cure.Health is not free but expensive
~ Laws---Man-made laws are so weak to punish the criminals.Notwithstanding the punishment,the criminals remain at large.When money talks,the case is close.
~ Education---Many students dropped out of their study for their parents' poor economy. Capitalistic education does not bring about the ideal pious muslim scholars but liberal ones far away from their values of deen
~ Economy---In islam,riba is haraam and trading is halaal (Qs al baqarah : 275). But in capitalism,riba is allowed in people's every way of life.Riba is the heart of capitalistic economy.The gap between the haves and the have-nots are widely open.Whilst trading and the fair distribution of wealth are the heart of islamic economy.
~ Many more...
Islam seems to be looked upon as a mere spiritual but not political belief.Yet,in capitalistic life,I've seen the more and more muslims seem to 'look down' on their spiritual side of belief such as praying,fasting,zakat,hajj i.e.when they do not pray,get fasting in ramadan,or pay zakat,they do not feel ashamed of the Lord and they do not fear Him.They also have no fear of sins.
What makes this happen?
This happens since capitalism brings forth democracy,liberalism,freedom in all ways of life.
Capitalism through its derivation allows one's nafs to take over the Lord (Allah)'s role as God.
Whilst Allah has admonished us :
" Seest thou such a one as taketh for his god His own passion (or impulse)?Couldst thou be a disposer of affairs for him?or thinkst thou that most of them listen or understand?They are only like cattle - nay,they are farther astray from the way " (Qs al Furqaan : 43-44)
IS IT A TEST OR WRATH?
Looking at these frequent hard times through natural and unnatural disasters, I wonder if it's just a test or wrath of Allah or even both of which.
Whatsoever it is, it always reminds me of Allah's admonition :
~ Qs al A'raaf (7): 96-99 :
" If the people of the towns had but believed and feared Allah, We should indeed have opened out to them all kinds of blessings from heaven and earth; But they rejected the truth,and We brought them to book for their misdeeds . Did the people of the towns feel secure against the coming of our wrath by night while they were asleep? Or else did they feel secure against its coming in bright daylight while they played about care-free? Did they then feel secure against Allah's devising but noone can feel secure from the plan of Allah except those (doomed) to win ! "
~ Qs al Israa' (17) : 16 :
" When We decide to destroy a town, We command those among them who are given the good things of the life to be obedient but they continued to transgress ; so that the word is proved true against them; then We destroy them utterly "
IF IT'S A WRATH,ONLY ISLAM CAN STOP ALLAH'S WRATH
If it's a test, may Allah give strenght of faith and patience with His reward jannah for those muslims who're patient of this test.
If it's a wrath, It's no doubt that only islam can stop Allah's wrath upon the people of the world.
Only Islam with its shari'a implemented whole-heartedly by its state,ad daulah al khilafah ar rashida,can please Allah; then we'll gain His pleasure of the world and hereafter.
Allahu Akbar!