Mencari teman gampang-gampang susah. Butuh kejelian dan mata hati untuk menangkap getaran keikhlasan. Apa yang keluar dari hati, niscaya akan bermuara pada hati pula.
Karena itu, jika ingin berteman, kata Ustadzah Iffah Ainur Rochmah, agar memperhatikan sejumlah hal. Pertama, pilihlah yang bisa menambah motivasi ke arah yang lebih baik.
Rasulullah saw bersabda, berteman dengan penjual parfum, maka harum semerbaklah yang akan lengket, bergaul dengan pandai besi, maka aroma asaplah yang akan didapat.
Kedua, pegangan dalam berteman adalah ideologi, keimanan. Hal ini ditegaskan dalam Alquran, kata Iffah, bahwa janganlah menjadikan orang kafir sebagai tumpuan kepercayaan.
Ini bukan berarti larangan bermuamalah dengan non-Muslim, melainkan yang dimaksud ialah mendaulat orang tersebut sebagai kepercayaan satu-satunya. “Itu yang dilarang,” katanya menjelaskan.
Ia bertutur, Rasulullah saw menyerukan agar menjaga hubungan dengan umat yang lain, dalam hal ini kebanyakan dengan ahli kitab.
Hubungan yang dilakukan dengan umat di luar umat Islam, kata Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir ini, bisa dalam bermuamalah, saling mengunjungi, menikmati makanan yang disembelihnya.
Agar hubungan sesama teman berjalan langgeng, menurut Iffah, harus dilandasi dengan saling menjaga ukhuwah Islamiyah. Jika landasan ini kuat, bisa menjadi pertemanan jangka panjang.
Pertemanan dilakukan pula dengan tulus, bukan untuk kepentingan tertentu. Kalau tujuan mencari teman sebanyak-banyaknya, tapi untuk mencari keuntungan, itu namanya berdagang, tidak akan langgeng.
“Namun, pertemanan yang tulus, pamrih, tanpa berharap mendapat imbalan apa pun, bisa sampai kakek-nenek,” ujar Iffah menjelaskan.
Dalam pertemanan perlu juga menjaga etika. Di antaranya, kata Iffah, harus selalu berbaik sangka serta memiliki rasa empati bila teman dalam kesusahan dan berusaha meringankan bebannya.
Sesama teman harus saling menasihati dan sabar. Jika ada selisih pendapat, sikapi secara proposional, bukan dengan memutuskan silaturahim. “Selama tidak melanggar syariat, harus saling menghormati,” ujarnya.
Berteman yang diajarkan dalam Islam, menurut Ustadz Andi Hidayat, mesti dilandasi dengan rasa cinta kepada Allah SWT karenanya Allah akan mengumpulkan mereka di akhirat kelak.
Teman yang baik, ungkap Pembina Rumah Tahfiz Alquran Condet Jakarta Timur ini, selalu mengingatkan di jalan Allah. Sebaliknya, lanjut Andi, bukan termasuk teman yang baik jika kehadirannya hanya untuk bermain-main, bersenang-senang, mengurus kesibukan dunia.
Pertemanan yang hanya memikirkan dunia, di akhirat kelak mereka ini dituntut dan saling menyalahkan. “Di sinilah letak perbedaan teman duniawi dan ukhrawi,” katanya.
Agar pertemanan tetap terjalin dengan mulus, jelas Andi, harus saling menghargai hak masing-masing. Jika bertemu mengucapkan salam, saling mendoakan, dan rutin melakukan silaturahim.
Setiap pertemuan penuh dengan nasihat untuk kebaikan sehingga pertemuannya itu tidak sia-sia. Tidak ada salahnya sesekali membahagiakan teman dengan memberikan hadiah.
Menurut mahasiswa jurusan syariah LIPIA Jakarta ini, kehadiran teman sejati sangat dibutuhkan ketika mendapat musibah.
Doa yang tulus serta nasihat yang diberikan teman sejati lebih mengena dibandingkan teman yang hanya bergaul untuk urusan dunia.
Al mar'u 'ala dini khalilihi, perangai seseorang sedikit banyak akan memengaruhi teman terdekatnya. Ini tak lain karena intensitas dan kedekatan emosi antarkeduanya. Karena itu, Islam sangat memperhatikan ikatan pertemanan.
Menurut dosen Universitas Yarsi Jakarta, Dr Andian Parlindungan, pertemanan yang dilandaskan dengan spirit dan prinsip-prinsip keislaman pasti membawa keberkahan. Ini lantaran, jalinan itu dihiasi dengan saling mengingatkan dalam kebaikan, mengajak kebenaran, menjaga kesabaran, serta keadilan.
Keimanan dan nilai-nilai kebajikan itulah yang menjadi perekat utama. “Inilah pertemanan yang sesungguhnya,” ungkapnya. Bandingkan dengan ikatan atas asas duniawi, bisnis contohnya. Bisnis kelar, pertemanan pun pudar.
Alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini tak menampik di balik pertemanan pasti ada kepentingan. Bisa sebatas maslahat duniawi atau akhirat.
Namun, ia menegaskan pertemanan yang ideal adalah jalinan dengan rida Allah SWT di dalamnya. Ia menyarankan agar mengutamakan berteman dengan teman seagama.
Ia menegaskan, Islam meletakkan rambu-rambu agar terhindar dari pergaulan yang salah. Akibat pertemanan negatif, dikhawatirkan akan ikut menyeret yang bersangkutan terjerumus.
Meski demikian, bukan berarti mereka yang berperangi buruk harus dijauhi secara mutlak. Justru, celah ini menjadi tantangan sebagai ladang dakwah. Selama masih mampu, maka berbagilah nasihat kebajikan. “Jika tetap sulit maka lebih baik menghindar,” ujarnya.
Ini dengan catatan, imbuhnya, tetap menjaga tali silaturahim. Sulitkah mencari teman yang baik? Tentu tidak, kata Andian.
Sederhananya, paling tidak mencari teman itu bisa lewat majelis-majelis ilmu. Secara garis besar, teman yang berasal dari majelis ilmu itu memiliki tujuan mulia yang sama, menuntut ilmu.
Ustadz Abdul Shamad Mahuse mengatakan, landasan pertemanan itu bertemu karena Allah SWT dan berpisah pun harus karena-Nya. Jadi, pertemanan yang sejati semata-mata karena Allah, bukan karena yang lain. Dan, ini hanya bisa dilakukan dengan teman seakidah.
Staf pengajar di Pesantren Nuu Waar Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) ini mengutip surah al-Hujuraat ayat 10. Ia menyimpulkan, dari ayat itu diperoleh garis tegas mencari teman, yakni mereka yang mengajak pada kebaikan. “Utamakan Muslim dan niatkan beribadah,” ujarnya.
Shamad menegaskan, hendaknya pertemanan tidak boleh berdasarkan kultur, fisik, latar belakang pendidikan, kekayaan, atau status sosial di masyarakat.
Karena, percuma saja, Allah tidak melihat wajah, fisik, serta harta mereka, tetapi tolok ukur adalah amal perbuatan dan persahabatan yang dijalinnya karena Allah.
Meski demikian, Rasulullah saw, tuturnya, sebagai teladan tidak pernah melarang umatnya agar jangan berteman dengan pihak-pihak tertentu. Pertemanan memang melintas batas suku, agama, bahasa, dan sebagainya.
Justru Rasulullah saw menjalin pertemanan dengan siapa pun. Bahkan, ketika orang Yahudi yang menghalangi dakwah Rasulullah saw jatuh sakit, Nabi Muhammad menjenguknya.
Rasul mengajarkan agar membina hubungan dengan segenap umat manusia, lalu menghargai satu sama lain. “Yang dikecam ialah akidahnya, bukan orangnya,” jelas alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab Makasar ini. ''Itulah makna dari menjalin hubungan sesama manusia (hablun minannas),'' imbuhnya.
Sumber : ROL (republika online)
Friday, May 10, 2013
Memilih Teman. Ini Kiatnya
Mencari teman gampang-gampang susah. Butuh kejelian dan mata hati untuk menangkap getaran keikhlasan. Apa yang keluar dari hati, niscaya akan bermuara pada hati pula.
Karena itu, jika ingin berteman, kata Ustadzah Iffah Ainur Rochmah, agar memperhatikan sejumlah hal. Pertama, pilihlah yang bisa menambah motivasi ke arah yang lebih baik.
Rasulullah saw bersabda, berteman dengan penjual parfum, maka harum semerbaklah yang akan lengket, bergaul dengan pandai besi, maka aroma asaplah yang akan didapat.
Kedua, pegangan dalam berteman adalah ideologi, keimanan. Hal ini ditegaskan dalam Alquran, kata Iffah, bahwa janganlah menjadikan orang kafir sebagai tumpuan kepercayaan.
Ini bukan berarti larangan bermuamalah dengan non-Muslim, melainkan yang dimaksud ialah mendaulat orang tersebut sebagai kepercayaan satu-satunya. “Itu yang dilarang,” katanya menjelaskan.
Ia bertutur, Rasulullah saw menyerukan agar menjaga hubungan dengan umat yang lain, dalam hal ini kebanyakan dengan ahli kitab.
Hubungan yang dilakukan dengan umat di luar umat Islam, kata Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir ini, bisa dalam bermuamalah, saling mengunjungi, menikmati makanan yang disembelihnya.
Agar hubungan sesama teman berjalan langgeng, menurut Iffah, harus dilandasi dengan saling menjaga ukhuwah Islamiyah. Jika landasan ini kuat, bisa menjadi pertemanan jangka panjang.
Pertemanan dilakukan pula dengan tulus, bukan untuk kepentingan tertentu. Kalau tujuan mencari teman sebanyak-banyaknya, tapi untuk mencari keuntungan, itu namanya berdagang, tidak akan langgeng.
“Namun, pertemanan yang tulus, pamrih, tanpa berharap mendapat imbalan apa pun, bisa sampai kakek-nenek,” ujar Iffah menjelaskan.
Dalam pertemanan perlu juga menjaga etika. Di antaranya, kata Iffah, harus selalu berbaik sangka serta memiliki rasa empati bila teman dalam kesusahan dan berusaha meringankan bebannya.
Sesama teman harus saling menasihati dan sabar. Jika ada selisih pendapat, sikapi secara proposional, bukan dengan memutuskan silaturahim. “Selama tidak melanggar syariat, harus saling menghormati,” ujarnya.
Berteman yang diajarkan dalam Islam, menurut Ustadz Andi Hidayat, mesti dilandasi dengan rasa cinta kepada Allah SWT karenanya Allah akan mengumpulkan mereka di akhirat kelak.
Teman yang baik, ungkap Pembina Rumah Tahfiz Alquran Condet Jakarta Timur ini, selalu mengingatkan di jalan Allah. Sebaliknya, lanjut Andi, bukan termasuk teman yang baik jika kehadirannya hanya untuk bermain-main, bersenang-senang, mengurus kesibukan dunia.
Pertemanan yang hanya memikirkan dunia, di akhirat kelak mereka ini dituntut dan saling menyalahkan. “Di sinilah letak perbedaan teman duniawi dan ukhrawi,” katanya.
Agar pertemanan tetap terjalin dengan mulus, jelas Andi, harus saling menghargai hak masing-masing. Jika bertemu mengucapkan salam, saling mendoakan, dan rutin melakukan silaturahim.
Setiap pertemuan penuh dengan nasihat untuk kebaikan sehingga pertemuannya itu tidak sia-sia. Tidak ada salahnya sesekali membahagiakan teman dengan memberikan hadiah.
Menurut mahasiswa jurusan syariah LIPIA Jakarta ini, kehadiran teman sejati sangat dibutuhkan ketika mendapat musibah.
Doa yang tulus serta nasihat yang diberikan teman sejati lebih mengena dibandingkan teman yang hanya bergaul untuk urusan dunia.
Al mar'u 'ala dini khalilihi, perangai seseorang sedikit banyak akan memengaruhi teman terdekatnya. Ini tak lain karena intensitas dan kedekatan emosi antarkeduanya. Karena itu, Islam sangat memperhatikan ikatan pertemanan.
Menurut dosen Universitas Yarsi Jakarta, Dr Andian Parlindungan, pertemanan yang dilandaskan dengan spirit dan prinsip-prinsip keislaman pasti membawa keberkahan. Ini lantaran, jalinan itu dihiasi dengan saling mengingatkan dalam kebaikan, mengajak kebenaran, menjaga kesabaran, serta keadilan.
Keimanan dan nilai-nilai kebajikan itulah yang menjadi perekat utama. “Inilah pertemanan yang sesungguhnya,” ungkapnya. Bandingkan dengan ikatan atas asas duniawi, bisnis contohnya. Bisnis kelar, pertemanan pun pudar.
Alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini tak menampik di balik pertemanan pasti ada kepentingan. Bisa sebatas maslahat duniawi atau akhirat.
Namun, ia menegaskan pertemanan yang ideal adalah jalinan dengan rida Allah SWT di dalamnya. Ia menyarankan agar mengutamakan berteman dengan teman seagama.
Ia menegaskan, Islam meletakkan rambu-rambu agar terhindar dari pergaulan yang salah. Akibat pertemanan negatif, dikhawatirkan akan ikut menyeret yang bersangkutan terjerumus.
Meski demikian, bukan berarti mereka yang berperangi buruk harus dijauhi secara mutlak. Justru, celah ini menjadi tantangan sebagai ladang dakwah. Selama masih mampu, maka berbagilah nasihat kebajikan. “Jika tetap sulit maka lebih baik menghindar,” ujarnya.
Ini dengan catatan, imbuhnya, tetap menjaga tali silaturahim. Sulitkah mencari teman yang baik? Tentu tidak, kata Andian.
Sederhananya, paling tidak mencari teman itu bisa lewat majelis-majelis ilmu. Secara garis besar, teman yang berasal dari majelis ilmu itu memiliki tujuan mulia yang sama, menuntut ilmu.
Ustadz Abdul Shamad Mahuse mengatakan, landasan pertemanan itu bertemu karena Allah SWT dan berpisah pun harus karena-Nya. Jadi, pertemanan yang sejati semata-mata karena Allah, bukan karena yang lain. Dan, ini hanya bisa dilakukan dengan teman seakidah.
Staf pengajar di Pesantren Nuu Waar Al-Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) ini mengutip surah al-Hujuraat ayat 10. Ia menyimpulkan, dari ayat itu diperoleh garis tegas mencari teman, yakni mereka yang mengajak pada kebaikan. “Utamakan Muslim dan niatkan beribadah,” ujarnya.
Shamad menegaskan, hendaknya pertemanan tidak boleh berdasarkan kultur, fisik, latar belakang pendidikan, kekayaan, atau status sosial di masyarakat.
Karena, percuma saja, Allah tidak melihat wajah, fisik, serta harta mereka, tetapi tolok ukur adalah amal perbuatan dan persahabatan yang dijalinnya karena Allah.
Meski demikian, Rasulullah saw, tuturnya, sebagai teladan tidak pernah melarang umatnya agar jangan berteman dengan pihak-pihak tertentu. Pertemanan memang melintas batas suku, agama, bahasa, dan sebagainya.
Justru Rasulullah saw menjalin pertemanan dengan siapa pun. Bahkan, ketika orang Yahudi yang menghalangi dakwah Rasulullah saw jatuh sakit, Nabi Muhammad menjenguknya.
Rasul mengajarkan agar membina hubungan dengan segenap umat manusia, lalu menghargai satu sama lain. “Yang dikecam ialah akidahnya, bukan orangnya,” jelas alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab Makasar ini. ''Itulah makna dari menjalin hubungan sesama manusia (hablun minannas),'' imbuhnya.
Sumber : ROL (republika online)
Saturday, April 13, 2013
Mewaspadai Sikap Rejim Represif ala orba di balik RUU ormas
Minus berita RUU ormas di media Indonesia dibandingkan berita KKN dan kondisi carut marut dunia perpolitikan di Indonesia bukan berarti RUU ormas tanpa polemik, bagi mereka yang kritis tentang hal ini. Bagi mereka yang kurang kritis, bisa jadi menganggap RUU ormas sebagai hal remeh yang tak perlu di fikirkan sampai pusing tujuh keliling.
Di balik pihak yang pro RUU ini, banyak juga ormas yang menolak RUU ini. diantaranya : ormas-ormas Islam, koalisi akbar masyarakat sipil Indonesia (KAMSI), koalisi perjuangan hak sipil dan buruh (KAPAK), federasi serikat pekerja metal Indonesia ( FSPMI), komisi untuk orang hilang dan korban tiindak kekerasan (KONTRAS), IMPARSIAL, pusat studi hukum dan kebijakan (PSHK), Elsam dan LSM.
ADA APA DIBALIK RUU ORMAS?
Bagi yang mencermati isi RUU Ormas ini, akan melihat ada draft pasal karet yang menuai kontroversi dan mengancam kebebasan untuk bersikap kritis kepada penguasa. Diantara pasal tersebut:
1. Unsur pemaksaan pancasila dan UUD 1945 sebagai asas tunggal utama dan pertama melebihi asas yang mencirikan karakter ormas
Draft pasal 2 : "Asas ormas adalah pancasila dan undang-undang dasar negara Republik Indonesia 1945, serta dapat mencantumkan asas lainnya yang tidak bertentangan dengan pancasila dan undang-undang dasar negara Republik Indonesia 1945"
Ini merupakan langkah mundur ke belakang dan penghkianatan terhadap reformasi yang menelan banyak korban jiwa. Ini juga mengingatkan pada trauma kita, akan sikap represif rejim orde baru terhadap sikap kritis rakyatnya.
2. Definisi ormas dalam draft pasal yang mencakup semua elemen di masyarakat (kecuali parpol dan organisasi sayap parpol yang dikecualikan dalam pasal 4) beserta ketentuannya akan menjadikan pemerintah sangat berkuasa terhadap ormas, dan ini bisa menjadi pasal karet untuk mengontrol dan mengawasi dinamika sikap kritis masyarakat kepada penguasa agar sejalan dengan keinginan rejim yang berkuasa.
Draft pasal yang mendefinisikan " Ormas adalah organisasi yang didirikan dan dibentuk oleh masyarakat secara sukarela berdasarkan kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan, kepentingan, kegiatan, dan tujuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya tujuan NKRI yang berdasarkan pancasila "
Selain itu syarat administratif untuk mendapatkan surat keterangan terdaftar (SKT) bagi ormas tidak berbadan hukum bisa dijadikan sebagai alat 'memaksa' ormas agar sesuai dengan keinginan pemerintah.
Draft pasal tersebut (61) : " Ormas dilarang melakukan kegiatan apabila tidak memiliki surat pengesahan badan hukum atau tidak terdaftar pada pemerintah ".
Terdaftar pada pemerintah itu buktinya SKT. SKT bukan sekedar bukti surat keterangan terdaftar tetapi juga surat ijin. Artinya, 'silahkan membentuk ormas dan menjalankan aktivitas sebagai ormas asal diijinkan oleh pemerintah'.
3. RUU ormas memuat sejumlah larangan (pasal 61) yang bersifat multi tafsir dan standard serta kriterianya belum jelas.
Larangan dalam draft pasal 61 (2)a. melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras, dan golongan..d. melakukan kekerasan, mengganggu ketentraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum; dan larangan lainnya, apa standard, kriteria, tingkatannya, semuanya belum jelas. Ini bisa jadi pasal karet sebab standard, kriteria, penafsiran, dan implementasinya tergantung pada selera pembuat undang-undangnya.
Larangan dalam draft pasal 61 (3)c. menerima sumbangan berupa uang, barang, ataupun jasa dari pihak manapun tanpa mencamtumkan identitas yang jelas. Dengan larangan ini, yayasan yatim piatu, pembangunan masjid dan sarana sosial, organisasi pada umumnya, dan semua yang tercakup dalam definisi ormas tak boleh menerima sumbangan dari orang yang hanya menulis identitasnya 'hamba Allah', dsb..
Peluang untuk membuka sikap represif rejim ala orba semakin terasa manakala ada ancaman sanksi ketika terjadi pelanggaran; mulai dari surat peringatan tertulis, penghentian bantuan/hibah, penghentian sementara kegiatan hingga pencabutan SKT untuk ormas tidak berbadan hukum atau ormas berbadan hukum. Hanya pembubaran ormas berbadan hukum yang harus berdasarkan keputusan pengadilan. Sementara pencabutan SKT, pemerintah hanya wajib meminta pendapat hukum dari MA. Pencabutan SKT pada dasarnya adalah pelarangan, sebab ormas yang tak punya SKT dilarang beraktivitas (pasal 61 ayat 6).
BAHAYA RUU ORMAS
Jika RUU ormas ini gol jadi UU, maka akan menjadi ujian/cobaan berat khususnya bagi orang-orang beriman untuk bersikap kritis dan beramar ma'ruf nahi munkar kepada sesamanya termasuk aktivitas muhasabah mereka kepada penguasanya. Maka bagi para pembuat RUU ini dan siapapun yang terlibat di dalamnya, hendaklah segera bertaubat pada Allah dan mengurungkan niatnya untuk menimpakan cobaan berat kepada saudaranya sesama muslim atau Allah akan benar-benar menimpakan ancamanNya kepada mereka,
" Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan berat kepada orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azhab jahannam dan bagi mereka azhab neraka yang membakar " (Qs. al buruj : 10).
Cukuplah ayat Allah ini sebagai peringatan keras bagi manusia, khususnya kita, umat islam
Tuesday, April 2, 2013
-Curhat Islami ku-
waktu demi waktu berganti
sejak daulah khilafah islam terakhir di turki hancur
waktu demi waktu kian terasa
betapa jahiliyahnya kehidupan ini tanpa pembumian al Qur'an dan as sunnah
dalam bingkai negara berasazkan Islam,rahmatan lil alamiin...
waktu demi waktu berlalu
sejak daulah khilafah islam terakhir di turki hancur
semakin kami rasakan
'sempitnya' kehidupan umat manusia
kondisi poleksosbudhankam yang carut marut
KKN marak
bencana alam dimana-mana
elit politik sibuk dengan partai dan kepentingannya sendiri
hingga kepentingan rakyat terbengkalai
ibarat anak kehilangan ibunya
atau ibu yang tak becus mengurus anaknya
musibah datang silih berganti
entah sampai kapan
waktu terus bergulir
sejak daulah khilafah islam terakhir di turki hancur
sudah tak terbilang berapa nyawa muslim melayang ditangan begundal kuffar
zionis yahudi israel membantai muslim palestine
ekstrimis hindu india membantai muslim kashmir
ekstrimis kristen ortodox serbia membantai muslim bosnia, albania
ekstrimis kristen ambon membantai muslim ambon
tentara kuffar AS dan konco-konconya membantai muslim di afghanistan, iraq, pakistan,
belum termasuk nyawa muslim terduga (belum tentu benar terdakwa) teroris yang melayang di tangan rejim penguasa zhalim
dan kini ;
rejim sesat syiah ala bashar al assad dibantu kroni syiah nya di iran dan lebanon
tega nian membantai rakyatnya yang muslim dengan keji
dan entah akan berapa banyak nyawa muslim melayang dan dimana...
ya Allah
tak semua apa yang kutumpahkan dalam curahan hatiku ini
akan membuat hati orang lain termasuk sebagian saudara muslim ku senang
bahkan mungkin mereka akan mencela apa yang kutumpahkan dengan penaku
bisanya hanya mengeluh,koar-koar,teriak-teriak,NATO alias no action talk only...
tapi semua anggapan sinis itu tak masalah bagiku, meski terasa panas di telingaku
karena apa yang kudapatkan akibat tulisanku yang ala kadarnya ini
tak sebanding dengan apa yang dialami saudara-saudaraku seiman di bumi Allah manapun yang meregang nyawa ditangan musuh-musuhMu, ya Allah
tak sebanding dengan apa yang dialami sesama ku di bumi Allah manapun yang menghadapi berbagai kesulitan dalam hidupnya
sementara disini aku, dan orang lain semisal aku, hanya berdiam diri, dan mengeluh akan kehidupan yang aku dan keluargaku jalani
atau hanya menikmati kenikmatan yang Kau berikan kepada keluargaku dan orang-orang yang kucintai karenaMu.
Seharusnya, dalam kondisi ini, tak layak seorang muslim yang mengaku dirinya beriman, masih merasa nyaman dan tentram dengan kehidupannya yang damai dan tentram
dan tak layak baginya untuk merasa bahwa segala persoalan yang menghampiri mereka menunjukkan seolah-olah dunia ini beserta masalahnya milik mereka saja
tanpa sama sekali memikirkan kepentingan dan masalah saudaranya yang lain...di bumi Allah manapun,tanpa batas
betapa egoisnya jika muslim berlaku demikian.
ya Allah, jadikanlah aku seorang muslim yang benar-benar mencintai agama dan saudaranya karenaMu, berdaya guna bagi islam, dan umat manusia umumnya serta umat islam khususnya ; dengan memberikan kontribusi yang berarti bagi perkembangan da'wah islam saat ini hingga ajalku menjemput
berkahilah usia ku dengan banyak taubatan nasuha atas dosa-dosaku dan amalan sholih serta perjuangan dan pengorbanan di jalan yang Kau ridhoi, Islam
seberapa pun banyak/sedikit usia yang Kau inginkan dalam hidupku
Monday, March 25, 2013
Amalan FB yang sia-sia
Siapa tak punya akun facebook. Ini sudah 2013, masa akun facebook saja tak punya.. Ada pula yang berujar, “Facebook, plus minus sih ya..”.
Ya, ya. Facebook adalah sebuah produk peradaban. Masalah ia mengandung nilai budaya tertentu, masing-masing akan berbeda paham.
Ada yang berkata, budaya yang dianut facebook itu budaya All Seing Eye, budayanya Dajjal si Mata Satu. Budaya pengintaian dan pengendalian massa oleh invisible hand, ada tangan di balik layar yang mengontrol dan menggiring penggunanya pada target tertentu. Dimana kita menyetorkan sederet data pribadi kita pada pihak yang tidak kita sadari yang sangat mungkin memiliki kepentingan dibaliknya. Apapun kepentingannya, ekonomi, pengendalian informasi dan opini, transfer budaya, sampai agenda politik praktis.
Ada pula yang menganggap analisa di atas berlebihan. Facebook toh hanya produk teknologi yang bebas nilai. Hanya madaniyyah (benda) saja, bukan hadhoroh (mengandung nilai dan pemikiran tertentu), kata sebagian kawan-kawan. Seperti pisau. Tergantung pemakainya. Mau dipakai mengiris bawang bisa, mau dipakai untuk tindak kriminal pun bisa. Jadi dikembalikan pada niat dan awareness (kemawasan) pengguna facebook itu sendiri.
Terlepas dari itu semua, memang ada poin-poin yang agaknya banyak dirasakan oleh para facebookers sendiri dan itu sangat merugikan. Ulasan berikut mungkin dapat memberikan sedikit gambaran.
Ujian itu Bernama Informasi
Pertama, derasnya informasi yang ditampilkan oleh sistem jejaring sosial tersebut ketika kita baru saja membuka akun kerap membuat kita tak kuasa mengelolanya. Kita terdisorientasi dan limbung. Kita terbawa pada rasa penasaran yang sering kali mencelakakan. Tadinya hanya mau mengunjungi kawan yang sudah lama tidak kontak yang ada menjelajah kesana kemari tak tentu arah. Selanjutnya hanya tinggal penyesalan, itu pun jika kita mengevaluasi diri. Bukan tidak mungkin kita malah terlalaikan oleh banjir informasi tersebut lantas kecanduan. Naudzubillahi min dzalik.
Informasi memang demikian, jika sudah datang maka tak dapat kita cegah dan jika sudah kita sosialisasikan tak dapat diperbaharui. Ia bersifat irreversible, tidak bisa ditarik kembali. Kita mungkin dapat meralat tapi informasi yang sudah kita lepaskan kemarin tetap ada, tetap tercatat. Maka, di sini pentingnya pengelolaan atas informasi tersebut.
Kita harus benar-benar mawas terhadap informasi ini, karena setiap informasi yang datang biasanya akan mempengaruhi diri kita. Bisa berpengaruh buruk ataupun berpengaruh baik. Besarnya pengaruh itu sangat tergantung pada integritas dan kualitas jiwa kita.
Hanya mereka dengan orientasi hidup yang shahih dan berakar sehat yang mampu mengelola informasi yang datang menjadi charger positif pada dirinya. Karena biasanya mereka memiliki agenda harian yang jelas dan berkualitas. Karena karakter fikrah yang shahih selalu membawa pengembannya pada amalan-amalan nyata yang bermanfaat dunia akhirat. Dan agenda harian adalah eksekusi logis setelah seseorang membuat rancangan hidup yang visioner.
Maka, agenda harian ini membuat rangkaian waktu mereka -yang visioner itu- sarat dengan prioritas amal dan terarah. Langkah-langkah hariannya tidak gampang menyerong tersedot informasi-infomasi tak berguna. Ia khusu pada perbaikan kualitas amalnya, baik amalan muamalah maupun amalan fardhiyyah. Agenda harian membantunya tak mudah mencampuri urusan yang bukan urusannya atau amal-amal buruk yang hanya memasung tujuan dan nilai-nilai yang hendak ia wujudkan. Ia dengan mudahnya meng-cut aktivitas facebooknya jika dirasa itu sudah merusak agendanya. Maka, ia tinggalkan mereka yang memakan bangkai di facebook , ia tinggalkan riya, namimah, perkataan dusta dan sia-sia.
Maka, mari kita belajar beragenda! Namun, yang mesti diingat bahwa agenda hanya tinggallah agenda tanpa keyakinan yang terus disegarkan dan langkah yang terus dihentakkan. Disini perlunya kita terus menimba ilmu dan bergabung dengan orang-orang yang shalih dan wara’ (mawas).
Mari kita renungi sekali lagi kalamullah yang sering dilantunkan anak-anak kita dalam rangkaian hafalannya:
“Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu di dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman, beramal soleh dan berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan kesabaran.” (Al ‘Asr 103: 1-3)
Hal diatas adalah langkah agar banjir informasi tersebut tidak menenggelamkan kita, lantas bagaimana jika kitalah yang hendak menjadi sumber informasi. Jauh-jauh hari Rasulullah Muhammad Salallahu’alaihi wasalam sudah mengajarkan kita bagaimana pengelolaan informasi terbaik.
”Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.”(HR. Muslim).
Imam Malik –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan,
”Ketahuilah, sesungguhnya seseorang tidak akan selamat jika dia menceritakan setiap yang didengarnya, dan dia tidak layak menjadi seorang imam (yang menjadi panutan, pen), sedangkan dia selalu menceritakan setiap yang didengarnya.
(Dinukil dari Muntahal Amani bi Fawa’id Mushtholahil Hadits lil Muhaddits Al Albani).1
Allah berfirman dalam Al Quran:
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya.”(QS. an-Nisa’: 83)
Ibnu Katsir menafsirkan:
“(ayat tersebut) Adalah pengingkaran terhadap orang yang bersegera dalam berbagai urusan sebelum memastikan kebenarannya, lalu ia mengabarkannya, menyiarkannya, dan menyebarluaskannya, padahal terkadang perkara itu tidak benar.”
Bersosialisasi adalah fitrah manusia. Manusia dengan segenap potensi dalam dirinya tak dapat hidup sendiri. Ia banyak berkebutuhan dan pemenuhan kebutuhannya ada dalam interaksi sosial (muamalah). Di sini manusia akan saling menguji satu sama lain. Dan siapa yang paling tunduk pada rambu-rambu Allah dalam muamalahnya, dialah yang selamat. Dialah orang yang beruntung dengan kemenangan yang besar.
Jejaring sosial bernama facebook ini menyediakan wadah muamalah dengan spektrum yang cukup luas -yang sebenarnya agak berlebihan dan melelahkan- jika kita tenggelam tanpa reserve, seperangkat adab dan aturan.
Ada ‘Kesakralan’ Ukhuwah Yang Pantang Dinodai
Satu aspek dalam muamalah adalah ukhuwah Islamiyah. Ukhuwah ialah bertautnya hati dan jiwa dengan ikatan akidah. Akidah adalah ikatan paling kuat dan mahal. Ukhuwah itu saudara iman dan perpecahan itu saudara kufur.
Ukhuwah adalah saat para penghuni penjara yang lain berkelahi memperebutkan selimut yang tak cukup, air yang kurang, makanan yang minim dan bangsal yang penuh sesak, mereka telah selesai menata siapa yang lebih banyak hafalan, sepenuh Al Quran, sepertiganya, setengahnya dan seterusnya. Atau yang lebih dalam dan luas ilmunya, untuk kemudian segera memulai program kuliah penjara dan lainnya. Mereka keluar dengan peningkatan prestasi hafalan Al Quran, tambahan bahasa asing dan selesai berbagai strata kuliah dengan gemilang. Kamar yang sesak tak jadi soal. Yang tidur belakangan merelakan pangkuannya menjadi bantal bagi saudaranya dan sebaliknya. Demikian uraian hikmah seorang guru.
Banyak orang bersaudara karena kesatuan suku, usaha atau partai, ormas atau jamaah. Tidak sepetutnya ukhuwah Islamiyah dibatasi oleh tembok-tembok rapuh. Astaghfirullah. Karenanya, membicarakan keburukan orang lain (ghibah), membawa berita yang menimbulkan permusuhan (namimah), serta memata-matai orang lain (tajasus) tidak serta merta menjadi halal, hanya karena mereka bukan saudara seorganisasi, hanya karena berbeda titik pandang dalam strategi perjuangan. Siapapun mereka, dalam ikatan iman, telah memiliki ‘kesakralan’ ukhuwah yang pantang dinodai.
Betapa mengerikan kelakuan beruang, singa dan harimau yang mencabik-cabik dan memakan daging mangsanya. Lebih mengerikan lagi makhluk berkerudung, berjubah, bercadar, berpeci, berkopiah, bercelana cingkrang, bersorban, berdasi, dan ‘berperadaban’ memakan daging saudaranya sendiri.
Lagi-lagi pada dimensi ini amalan facebook kita terjerembab, masuk ke dalam lubang biawak, sejengkal-sejengkal atau telak dalam sekali pukulan. Kita ikuti hawa nafsu orang-orang kafir yang tertawa di atas terpotong-potongnya tubuh kita. Tubuh kita sendiri, ukhuwah Islamiyah.
Betapa pertanyaan hipnotis berupa, What’s in your mind?, menyihir kita untuk serta merta menumpahkan ganjalan-ganjalan, kemasygulan, atau bahkan kegeraman, kejengkelan , dan olok-olokan pada saudara kita sendiri seketika emosi itu meluap. Tanpa mawas dengan hak-hak ukhuwah yang mesti kita penuhi. Tanpa menimbang terlebih dulu efek-efek yang akan terjadi akibat dari -apa yang kita namakan- status itu. Kita kunyah daging-daging saudara kita, kita ghibahi kesalahan saudara kita. Padahal yang mereka butuhkan adalah sepotong nasihat yang tulus. Rengkuhan hangat seorang saudara yang rela berkurban sabar untuk meluruskan, seberapapun ia terganggu dan terluka akibat kesalahan-kesalahan rekannya itu. Di sinilah mengapa aspek muamalah berefek sangat besar pada nasib kita di akhirat kelak.
Berstatemen dan mencurahkan isi hati gaya facebook dengan budaya show up per detiknya, pada situasi-situasi tertentu yang sensitif sangat mungkin menjadi pemicu saudara-saudara yang berbeda langkah saling memata-matai, saling mencari celah aib dan kelemahan. Jika memata-matai sudah menjadi halal, kondisi berikutnya tentu lebih buruk lagi. Ukhuwah tanpa tabayun (klarifikasi), ukhuwah dengan ghibah dan tajasus, hanya menyisakan hasad (kedengkian), permusuhan dan perpecahan. Perpecahan adalah saudara kufur. Ukhuwah adalah saudara iman.
Kita seperti sekor anjing yang tak segan-segan menceburkan diri ke dalam kolam untuk merebut tulang –yang tampaknya lebih besar- dari mulut rekan, yang ternyata bayangan dirinya sendiri. Ya, kita dan saudara seiman adalah diri yang sama. Astaghfirullahal ‘adzhim…
Seharusnya memang kita sedari awal berhati-hati, bahwa produk impor buatan kaum yang terlaknat ini lebih dari sekedar find friend, notifikasi, message, home, poke, group, fan page, dan fitur-fitur bersosialisasi lainnya. Ia tak lain adalah alat perang. Dan ternyata kita sudah kalah perang sedari masih di dalam kamar, di depan layar, ketika persiapan perang pun hanya sekedarnya kita lakukan. Allahumma fanshurna ‘alal kaumil kafirin..Aamiin.
Amal apapun memerlukan kesungguhan untuk menunaikannya, termasuk kesungguhan berukhuwah dalam tempat bernama facebook ini. Semoga Allah memberikan kita kemawasan diri dan bashirah (kejernihan hati) agar amalan facebook kita berdaya ishlah (perbaikan) bagi apa yang kita perjuangkan bukan lagi adegan berebut tulang kemudian menyesal.
Masuk ke dalam media sosial bernama facebook seperti masuk ke dalam parlemen demokrasi. What’s on your mind? Apa yang sedang kau pikirkan? Mari, tetaskan disini!
Ketika Rasa Malu Berekspresi Diuji
Teringat dengan tanda-tanda akhir zaman yakni banyaknya tulisan, tersebarnya kebodohan dan kemaksiatan juga masalah diserahkan tidak kepada ahlinya. Mungkin facebook salah satu fenomenanya. Ketika ada suatu berita dinaikkan menjadi status, siapa saja. Beramai-ramai semua mengomentari, begini dan begitu, komentar baik, komentar buruk. Dan semua komentar bernilai sama. Sama-sama terakomodasi. Sama-sama boleh dan sah-sah saja.
Kotak komentar menghipnotis siapa saja untuk ringan dan mudah berkata-kata, dan sayangnya lebih sering tanpa pertimbangan atas efek dari apa yang dikatakan. Spontan. Jauh dari kesan mendalam, khusu’ dan beradab. Tentu saja mereka yang ahli enggan berada di sini. Mereka yang ahli tak bisa menangani, karena masalah sudah dilemparkan pada mereka yang bukan ahlinya.
Berisik sekali media sosial yang satu ini. Kita rasanya sudah sampai titik jenuh menerima informasi yang minim maslahat. Betapa sia-sia dan konyolnya mencurahkan isi hati ke hadapan banyak orang. Apalagi jika itu menyangkut keretakan muamalah kita dengan saudara kita sendiri. Hanya menyisakan tanda tanya, fitnah, ghibah, adu domba, dan perpecahan.
Dulu kita tidak seperti ini. Dulu kita diam ketika marah. Dulu kita hanya mengadukan permasalahan kita pada orang yang kita percaya dapat berbagi solusi. Tapi kini kita kehilangan arah ketika gusar. Kita memang duduk dari berdiri, tapi sambil mengetik status. Kita menjadi kekanak-kanakan, reaktif dan mentah. Sudah cukup perpecahan ukhuwah ini menyiksa batin kita.
Betapa konyolnya ketika seorang perempuan meletup-letupkan hasrat ingin menikah dalam media sosial ini. Mungkin karena saking ringannya curhat di jejaring sosial sampai lupa menimbang bahwa yang dilakukannya laksana ikan segar yang menarik naluri banyak kucing. Masya Allah. Betapa sedihnya ketika ribuan remaja kita menghiasi statusnya dengan kelabilan sehingga dengan mudahnya diperalat orang-orang jahat. Ngobrol ngalor-ngidul, diimingi pulsa, hingga diajak kencan dan dikerjai. Na’udzubillah min dzalik. Tapi, begini memang akhir zaman, tulisan tersebar, fitnah tersebar. Lapangkan dada kita untuk tidak sampai kehilangan daya mafhum. Beginilah adanya, dan dari sini kita memulai apa-apa yang masih bisa kita perbaiki dan selamatkan.
Belum lagi kehinaan yang dilontarkan oleh seorang lelaki, “Sekarang nyari cewe mah gampang, sambil di closet juga bisa, buka aja facebook…”. Miris rasanya. Tapi, ungkapannya memang tidak salah. Facebook menjadi tempat penggunanya meng-artiskan diri. Semua pengguna seolah dijadikan pusat perhatian, pusat kendali. Di sini kita berlomba-lomba berekspresi, dengan segala bentuk ekspresi. Ada profile picture, ada kotak status, ada kotak komentar, notes, galeri foto, dan lain-lain.
Ketika dulu seorang lelaki hendak melamar seorang perempuan ia mencari tahu profil perempuan tersebut melalui kerabat dan kawan-kawan terdekat, sekarang dengan facebook semakin dimudahkan. Buka saja akunnya, hampir semua kehidupannya dapat kita lihat. Biodata diri, gaya berkata-katanya, gaya bercandanya, gaya berkawannya, gambar-gambar dirinya terdisplay demikian lengkap dan rapi.
Bahkan, bukan hanya mereka yang sudah siap melamar, mereka yang masih berkata, “Lima tahun lagi ya Ukhtiy..” pun tergoda untuk senantiasa memantau akunnya. Entah bagaimana nasib hatinya setelah aktivitas memantau itu. Dan ini berlaku pula untuk perempuan. Ada akun-akun sumber fitnah yang menggoda untuk selalu dibuka. Padahal hanya iseng, hanya menuntaskan keingintahuan, tidak penting. Tapi banyak membawa petaka. Sudah banyak keluarga tercerai berai karena tak bijak bermedia sosial. Na’udzubillahi mindzalik. Wallahulmusta’an. Semoga Allah menjaga kebersihan hati kita.
Tak perlu menyalahkan lelaki yang sakit pikiran ketika mereka dengan asiknya mengoleksi foto-foto perempuan jika kita sendiri memang yang memajang. Facebook memang sudah menjadi salah satu pasar gratis, mudah dan murah, tempat mengunduh ribuan gambar-gambar perempuan. Mulai dari ekspresi menunduk malu-malu sampai yang tak mengindahi malu. Mulai dari yang hanya terlihat mata sampai yang sangat terbuka. Dan jangan salahkan siapa-siapa ketika ada mata-mata tak sehat yang menekuri foto-foto kita.
Disini pula tempat di mana kerudung, jubah bahkan cadar kadang tak ada atsarnya, tak berjejak. Memang aneh jika aktivitas wall-wall-an disebut majlis ikhtilat. Toh tidak bertemu secara fisik. Tapi ternyata efek mentalnya tak jauh berbeda, malah jauh lebih dahsyat. Facebook menciptakan atmosfer yang akrab, dekat, dan hangat. Bahasa tulisan memang membangkitkan daya imaginasi yang lebih hebat dibanding bahasa visual.
Ketika kita mendidik anak-anak perempuan kita menuju masa takflif, salah satu poin paling penting adalah perihal interaksi dengan lawan jenis. Kita harus menumbuhkan rasa malu yang kuat pada mereka terhadap lawan jenisnya. Malu kalau auratnya terbuka, malu kalau ekspresinya dapat menggoda, malu beramahtamah dengan laki-laki tanpa suatu keperluan.
Kita ejawantahkan dengan detail bagaimana berinteraksi dengan lawan jenis itu. Kita katakan, hukum asal lelaki dan perempuan adalah terpisah, maka ketika bertinteraksi harus seperlunya saja, harus saling menjaga kemuliaan, harus menutup celah-celah setan, bersuara pun harus tegas, tak boleh berduaan, tak boleh campur baur dan seterusnya dan seterusnya.
Lantas, aktivitas facebook kita? Kita hadiahkan rentetan adab ijtima’i (pergaulan) pada anak perempuan kita, kita jaga mereka. Tapi kita demikian mudahnya iseng colek-colek akun lawan jenis, meskipun kawan akrab kita. Dimana rasa malu kita. Kita dengan santainya bercanda, tertawa, bahkan terbahak-bahak, memberikan icon menjulurkan lidah, mengerlingkan mata dalam forum campur baur. Meski dengan kawan akrab kita. Kita lupa dengan adab-adab pergaulan yang dulu sewaktu menjadi aktivis Islam di sekolah hal itu kita perjuangkan. Kita lupa apa makna seperlunya saja, kita lupa bahwa ada hijab yang tak boleh kita robek. Meski itu di dunia maya.
Teringat dengan ceramah seorang Syaikh tentang Masyarakat Ya’juj Ma’juj. Mungkin facebook ini miniatur Ya’juj Ma’juj Society, ketika semua bercampur baur tanpa ada hijab. Dajjal memang selalu menginginkan yang berkebalikan. Ketika Islam menghendaki kehidupan yang terpisah antara laki-laki dan perempuan Dajjal menciptakan atmosfer kebalikannya. Wallahu’alam.
Ya terlepas dari itu, facebook dan sistemnya memang menjadi ujian bagi kita untuk menilai dan menimbang diri sendiri, layakkah diri kita untuk berekspresi seperti yang ingin kita kerjakan. Di sini kemampuan kita menimbang apa yang akan menjadi efek dari ekspresi kita menemukan kawah candradimukanya. Kebijaksanaan kita membagi informasi, menjaga langkah perbaikan, menjaga kehormatan diri dan keluarga, terutama menjaga kemuliaan dien Islam ini benar-benar diuji.
Lagi-lagi kita tertinggal dan terpedaya, konsentrasi dan tenaga kita dibekukan masih dalam tataran konten, padahal mereka sudah melangkah jauh dalam ranah sistem. Ya Allah, Anta maulana fanshurna ‘alal kaumil kafirin.
Sumber : http://www.arrahmah.com/
===MAKNA F.A.C.E.B.O.O.K===
F - Fahamilah wahai manusia.
A - ALLAH itu MAHA BERKUASA dan
MAHA PENYAYANG.
C - Cinta pada manusia hanya
sekejap, cinta pada ALLAH kekal
abadi.
E - Esok entah kita masih
bernyawa atau pun tidak..
B - Beramallah kita pada yang
MAHA ESA karena..
O - Orang yang selalu beramal di
sayangi ALLAH..
O - Orang yang berbuat kebaikan
akan di limpah kurnia-NYA..
K - Karena ALLAH itu satu.
Friday, March 8, 2013
Menang PILKADA Tolak Ukur Kemenangan Dakwah, Benarkah?
Tuesday, February 12, 2013
self-reminder: Fadhilah Tahajjud
" Seseorang dari umatku sholat malam hari, mengobati jiwanya menuju kesucian. Sementara ia terbelenggu. Jika ia berwudhu, membasuh tangannya, maka terlepas satu ikatan. Apabila ia membasuh kepalanya, maka terbebas ia dari satu ikatan. Apabila ia mencuci kedua kakinya, maka ia terlepas dari ikatan lainnya. Lalu Allah ta'alaa akan berkata kepada mereka (para malaikat) yang berada dibalik hijab, " Lihatlah hambaKu ini ; Ia obati jiwanya, ia bermohon kepadaKu. Jadi apa saja yang diminta oleh hambaKu ini, maka baginyalah permohonannya itu. " (HR Ahmad dan Ibnu Hibban-hadist shohih)
" Sesungguhnya di malam hari ada satu waktu (sesaat), dimana jika seorang muslim meminta kebaikan dunia dan akhirat bertepatan dengan waktu tersebut, maka Allah ta'alaa akan mengabulkan permohonannya itu. Hal tersebut terjadi di setiap malam. " (HR Muslim)
" Keutamaan sholat di malam hari atas sholat di siang hari seperti keutamaan sedekah yang dikeluarkan secara sembunyi-sembunyi atas sedekah yang dikeluarkan secara terang-terangan. " (HR ath Thabrani-hadist shohih)
" Jagalah sholat malam, karena sholat itu merupakan jalan orang-orang sholih sebelum kamu, jalan yang dapat mendekatkanmu kepada Allah, penghapus kesalahan dan pengusir segala penyakit tubuh. " (Hadist Hasan)
" Barang siapa bangun di malam hari (untuk sholat malam) dan membangunkan keluarganya (istrinya) kemudian keduanya sholat dua raka'at, maka keduanya akan dicatat ke dalam golongan laki-laki dan wanita yang banyak berzikir. " (HR Abu Dawud, An Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al Hakim-hadist shohih)
" Waktu terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah pada bagian akhir suatu malam. Jadi jika kalian sanggup untuk menjadi orang-orang yang berzikir kepada Allah pada saat itu, maka lakukanlah. " (HR Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi-hadist shohih)Semoga Kita termasuk orang-orang yang gemar berzikir padaNya di waktu malam hari dengan sholat tahajjud, tatkala manusia lainnya lebih memilih untuk nyenyak dalam tidurnya
Tuesday, February 5, 2013
Valentine, Hari Seks Bebas
Tuesday, July 10, 2012
Murah Hati dan Mengutamakan Orang Lain
Wednesday, December 28, 2011
VoiCe of HeaRt

Lord...
all praise be upon You
coz You have given me a chance
to change my life before and after
all praise be upon you
coz You have given me the most precious gift
those who love me and whom i love
just b'coz of You
all praise be upon You
coz You have given me new spirit of life
to defend and fight for the truth in Your path
and strive to sacrifice more in aboveboard
all praise be upon You
coz You have taught me how to leave
all the things i loved but You hated
coz You have taught me how to start everything from nought
coz You have taught me how to respect the sincerity those who love and care about me
b'coz of You
More than words to say
my voice of heart deep inside
is more than words to say...
You alone knows all about it inside :)
Wednesday, October 12, 2011
Potret Para Pemimpin Akhir Zaman

* Para pemimpin sesat: Dari Aus yang berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:
«إِنِّي لاَ أَخَافُ عَلىَ أُمَّتيِ إِلاَّ الأَئِمَّةَ المُضَلِّينَ»
“Aku tidak takut (ujian yang akan menimpa) pada umatku, kecuali (ujian) para pemimpin sesat.” (HR. Ibnu Hibban). Sufyan as-Tsauri menggambarkan mereka dengan mengatakan: “Tidaklah kalian menjumpai para pemimpin sesat, kecuali kalian mengingkari mereka dengan hati, agar amal kalian tidak sia-sia.”
* Para pemimpin bodoh: Dari Jabir bin Abdillah bahwa Rasulullah Saw berkata kepada Ka’ab bin Ajzah:
«أَعَاذَكَ اللهَ مِنْ إمَارَةِ السُّفَهَاءِ »
“Aku memohon perlindungan untukmu kepada Allah dari kepemimpinan orang-orang bodoh.” (HR. Ahmad). Dalam hadits riwayat Ahmad dikatakan bahwa pemimpin bodoh adalah pemimpin yang tidak mengikuti petunjuk dan sunnah Rasulullah Saw. Yakni pemimpin yang tidak menerapkan syariah Islam.
* Para pemimpin penolak kebenaran, penyeru kemungkaran. Dari Ubadah bin Shamit berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:
«سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يَأْمُرُونَكُمْ بِمَا لاَ تَعْرِفُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا تُنْكِرُونَ فَلَيْسَ لاِؤلَئِكَ عَلَيْكُمْ طَاعَةٌ»
“Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang memerintah kalian dengan hukum yang tidak kalian ketahui (imani). Sebaliknya, mereka melakukan apa yang kalian ingkari. Sehingga terhadap mereka ini tidak ada kewajiban bagi kalian untuk menaatinya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah).
* Para penguasa yang memerintah dengan mengancam kehidupan dan mata pencaharian. Dari Abu Hisyam as-Silmi berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:
«سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أَئِمَّةٌ يَمْلِكُوْنَ رِقَابَكُمْ وَيُحَدِّثُوْنَكُمْ فَيَكْذِبُونَ، وَيَعْمَلُوْنَ فَيُسِيؤُونَ، لا يَرْضَوْنَ مِنْكُمْ حَتَّى تُحَسِّنُوا قَبِيْحَهُمْ وَتُصَدِّقُوْا كَذِبَهُمْ، اعْطُوْهُمُ الحَقَّ مَا رَضُوا بِهِ»
“Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang mengancam kehidupan kalian. Mereka berbicara (benjanji) kepada kalian, kemudian mereka mengingkari (janjinya). Mereka melakukan pekerjaan, lalu pekerjaan mereka itu sangat buruk. Mereka tidak senang dengan kalian hingga kalian menilai baik (menuji) keburukan mereka, dan kalian membenarkan kebohongan mereka, serta kalian memberi pada mereka hak yang mereka senangi.” (HR. Thabrani).
* Para pemimpin yang mengangkat pembantu orang-orang jahat, dan mengakhirkan shalat (mengabaikan syariah). Dari Abu Hurairah ra yang berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:
« يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أُمَرَاءُ ظَلَمَةٌ، وَوُزَرَاءُ فَسَقَةٌ، وَقُضَاةٌ خَوَنَةٌ، وَفُقَهَاءُ كَذَبَةٌ، فَمَنْ أَدْرَكَ مِنْكُمْ ذَلِكَ الزَّمَنَ فَلا يَكُونَنَّ لَهُمْ جَابِيًا وَلا عَرِيفًا وَلا شُرْطِيًّا»
“Akan ada di akhir zaman para penguasa sewenang-wenang, para pembantu (pejabat pemerintah) fasik, para hakim pengkhianat, dan para ahli hukum Islam (fuqaha’) pendusta. Sehingga, siapa saja di antara kalian yang mendapati zaman itu, maka sungguh kalian jangan menjadi pengunpul pajak, pemimpin, dan polisi.” (HR. Thabrani).
* Para pemimpin diktator (kejam). Rasulullah Saw bersabda:
«إِنَّ شَرَّ الوُلاَةِ الحُطَمَةُ»
“Sesungguhnya seburuk-buruknya para penguasa adalah penguasa al-huthamah (diktator).” (HR. Al-Bazzar). Pemimpin al-huthamah (diktator) adalah pemimpin yang menggunakan politik tangan besi terhadap rakyatnya.
Dari Abu Layla al-Asy’ari bahwa Rasulullah Saw bersabda:
«وسَيَلي أُمَرَاءُ إنْ اسْتُرْحِمُوا لَمْ يَرْحَمُوا، وإنْ سُئِلُوا الحَقَّ لَمْ يُعْطُوا، وإِنْ أُمِرُوا بالمَعْرُوفِ أَنْكَرُوا، وسَتَخَافُوْنَهُمْ وَيَتَفَرَّقَ مَلأُكُمْ حَتى لاَ يَحْمِلُوكُمْ عَلى شَيءٍ إِلاَّ احْتُمِلْتُمْ عَلَيْهِ طَوْعاً وَكَرْهاً، ادْنَى الحَقِّ أَنْ لاَ تٌّاخُذُوا لَهُمْ عَطَاءً ولا تَحْضُروا لَهُمْ في المًّلاَ»
“Dan berikutnya adalah para pemimpin jika mereka diminta untuk mengasihani (rakyat), mereka tidak mengasihani; jika mereka diminta untuk menunaikan hak (rakyat), mereka tidak memberikannya; dan jika mereka disuruh berlaku baik (adil), mereka menolak. Mereka akan membuat hidup kalian dalam ketakutan; dan memecah-belah tokoh-tokoh kalian. Sehingga mereka tidak membebani kalian dengan suatu beban, kecuali mereka membebani kalian dengan paksa, baik kalian suka atau tidak. Serendah-rendahnya hak kalian, adalah kalian tidak mengambil pemberian mereka, dan tidak kalian tidak menghadiri pertemuan mereka.” (HR. Thabrani).
* Para penguasa zindik (pura-pura iman). Dari Ma’qil bin Yasar bahwa Rasulullah Saw bersabda:
«صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَنْ تَنَالَهُمَا شَفَاعَتِي: إِمَامٌ ظَلُومٌ، وَكُلُّ غَالٍ مَارِقٍ»
“Dua golongan umatku yang keduanya tidak akan pernah mendapatkan syafa’atku: pemimpin yang bertindak lalim, dan orang yang berlebihan dalam beragama hingga sesat dari agama.” (HR. Thabrani).
Wednesday, August 17, 2011
Manusia yang Rugi dan Beruntung
'Siapa manusia yang merugi?'
Berdasarkan hadist dari Abu Hurairah ra ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
" Sungguh rugi seseorang ketika (1). Namaku disebut disampingnya tetapi dia tidak bershalawat atasku.Sungguh rugi seseorang yang (2). Bertemu dengan Ramadhan, lalu Ramadhan itu berlalu darinya sebelum dosa-dosa dirinya diampuni. Dan sungguh rugi seseorang yang (3). Mendapati kedua orang tuanya dalam keadaan renta, tetapi keduanya tidak menjadi sebab yang memasukkannya ke dalam surga..Rib'i berkata, 'Aku tidak tahu kecuali ia berkata : atau salah satu dari kedua orang tuanya'..." (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hakim)
'Lalu, siapa manusia yang beruntung?'
Berdasarkan Qs al Ashr : 1-3, bahwa Allah SWT berfirman :
" Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali:
(1). Orang-orang yang beriman (beriman = meyakini, percaya pada Allah dan apa-apa yang Dia perintahkan untuk kita imani / yakini / percaya100% tanpa keraguan sedikitpun, yakni beriman pada kitabullah, para malaikat, nabi dan rasul, hari akhir, serta Qadha' dan QadarNya~> mengimani semuanya dari hasil proses 'tafkir' / berfikir mendalam manusia yang dibimbing wahyu Allah~> hingga ia merasa wajib untuk membuktikan dan merealisasikan keimanannya pada rukun iman 6 dalam kehidupan sehari-hari dengan mentaati syari'ahNya secara kaffah, disertai sikap 'tasliman' / menerima dengan sepenuh hati~> Qs an Nisaa' : 65)
(2). Orang-orang yang mengerjakan amal sholih (amal sholih~> amal yang mendapatkan 'reward' / pahala dengan menjalankan apa-apa yang di'wajibkan' / diperintahkan oleh Allah dan apa-apa yang di'sunnahkan' oleh Allah. Sedangkan amal yang di'mubahkan' oleh Allah akan dia seleksi sebatas apa yang ia butuhkan bukan sekedar ia inginkan).
(3). Orang-orang yang saling menasihati supaya mentaati kebenaran (kebenaran = Islam~> menyeru kepada Islam (da'wah Islam) / amar ma'ruf nahi munkar).
(4). Orang-orang yang saling menasihati supaya menetapi kesabaran~> dalam ber'amar ma'ruf nahi munkar, kita sering menghadapi resiko untuk ditolak, dimarahi, dicaci, dikucilkan, diintimidasi, di anggap aneh / asing, bahkan ditangkap atau dibunuh~> semua ini tak kuasa kita jalani kecuali dengan menetapkan diri kita untuk bersabar karena Allah, seraya terus berusaha istiqamah dalam aktivitas saling menasihati supaya mentaati kebenaranNya, yakni mentaati hukum Islam.
Post Script :
1. Ternyata, kunci sukses manusia di dunia dan akhirat itu mahal, karena surga Allah di akhirat itu mahal tak ternilai oleh dunia dan alam semesta.
2. Moto kehidupan seorang muslim sejati (mu'min) : berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian~> dunia adalah tempat singgah dan berteduh kita untuk mengumpulkan bekal yang cukup untuk kita bawa ke akhirat, tujuan akhir hidup kita. Dunia ini menggoda namun hina dan fana dalam pandanganNya. Maka, jangan mudah tergoda dengan kefanaan perhiasan dunia. Bagi seorang mu'min, kehidupan dunia--dalam suka dan dukanya-- penuh dengan ujian, perjuangan dan pengorbanan.
" Ya Allah,
Tetapkanlah hamba di jalanMu, walau jalan itu amat berliku-liku dan terjal. Sering kuhadapi godaan dan hambatan serta kualami kekhilafan, kesalahan, dan dosa-dosaku padaMu dan sesamaku dalam menapaki jalanMu yang lurus. Luruskanlah hamba ketika hidupku bengkok. Meski terasa sakit....
Jadikanlah hamba manusia yang beruntung di yaumil hisab "
Monday, March 28, 2011
Saturday, February 5, 2011
Dunia Butuh Khilafah
Dunia adalah tempat di mana umat manusia,muslim dan non muslim,hidup.Dalam hidup,islam mengenal istilah khilafah.Khilafah adalah bentuk pemerintahan atau negara dalam islam (khalifah adalah kepala negaranya) yang di contohkan oleh rasulullah sebagai amirul mu'minin pertama,khulafa'ur rasyidin dan para khalifah sesudahnya hingga keruntuhannya pada tanggal 3 maret 1924 di turki. Sejak saat itu,umat manusia,terutama umat islam,bagaikan anak yang kehilangan ibunya. Dunia pun merasakan hal yang sama. Karena khilafah adalah kepemimpinan umum bagi umat manusia,yang menerapkan seluruh hukum Allah yang tercantum dalam al Qur'an dan as sunnah di segala aspek kehidupan. Dalam sejarah peradaban dunia,khilafah amat di butuhkan oleh umat manusia,bahkan pernah memimpin selama 13 abad (1300 tahun : 622-1924)
MUSLIM BUTUH KHILAFAH
Umat muslim butuh khilafah karena dengan khilafah, mereka akan mendapatkan kemuliaan dan kelapangan hidup di dunia dan mendapatkan ridho dan rahmat dari Allah SWT dengan pahala dan surga di negeri akhirat. Tanpa khilafah,amat besar kerugian yang di derita umat muslim di berbagai negeri. Dengan ketiadaan khilafah, amat besar keuntungan yang di raih para imperialis kufur di berbagai negeri muslim dan non muslim; iraq, afghanistan, mesir, kashmir, palestine, pakistan, saudi arabia, myanmar, timor leste,dan lain-lain. Dan amat merugilah kondisi kita umat muslim di dunia. Oleh karena itu, amat besar pula kebutuhan umat muslim dengan adanya khilafah. Dan tatkala khilafah kembali tegak, niscaya janji Allah akan terealisir:
"Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman dan mengerjakan amal sholih di antara kalian, bahwa Dia akan menjadikan merka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa;Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhoi untuk mereka dan Dia akan benar-benar menukar keadaan mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka akan tetap menyembahKu dengan tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Siapa saja yang tetap kafir sesudah itu,mereka itulah orang-orang yang fasik."(Qs.an nuur:55)
NON MUSLIM BUTUH KHILAFAH
Non muslim butuh khilafah karena :
1. Kehampaan spiritualitas,ketiadaan aqidah shohih yang mampu menyelesaikan problem kehidupan mereka dalam segala aspek.
Kesempitan hidup telah menjadikan sebagian manusia berbuat nekat dengan melakukan bunuh diri, pelecehan terhadap perempuan, penghancuran nilai-nilai moral, kemanusiaan, dan spiritual dalam diri mereka. Sebaliknya, mereka mendewakan individualisme, kepentingan pribadi, materialisme, dan nafsu jasadiyah. Tanpa khilafah, kehidupan macam inilah yang mereka jalani. Hanya dengan khilafah, kehampaan spiritualitas akan terpenuhi dengan adanya akidah shohih yang mampu memecahkan problem hidup manusia dalam segala aspek,dan dengan adanya masalah keimanan, moralitas, dan kemanusiaan yang senantiasa menjadi poros pengkajian dan pemikiran dunia. Hanya khilafah dengan politik luar negerinya yang bebas aktif, da'wah islam akan menyebar luar ke penjuru dunia dan mendorong manusia untuk melihat kebenaran dan keadilan Allah dengan islamNya. Jika dengan ketiadaan khilafah saja Allah mampu menerangi manusia dengan cahaya islam dengan bertebarannya para mu'allaf, terlebih lagi jika khilafah eksis kembali. Lalu ratusan ribu bahkan jutaan manusia akan berbondong-bondong masuk dalam islam tanpa paksaan:
"Jika pertolongan Allah dan kemenangan telah datang.lalu kamu menyaksikan manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya.Sesungguhnya Dia maha penerima taubat."(Qs.an nashr:1-3)
2. Hegemoni kapitalisme yang meneror dan menyiksa tidak hanya umat muslim tapi seluruh umat manusia.
Ideologi kapitalis dengan azas fashlu diin anil hayah wad daulah alias sekulerismenya telah menjadi justifikasi bagi para pendiri dan pengemban nya untuk melakukan berbagai kekejaman atas nama demokratisasi di berbagai negeri,baik muslim dan non muslim. Iraq, palestine, bosnia, kashmir, kosovo, ambon, afghanistan, lebanon, poso, chechnya, myanmar, dan belahan dunia lain adalah bukti nyata. Kapitalisme juga yang menjadi justifikasi bagi pemerintah AS dan sekutunya untuk mengeruk kekayaan negeri-negeri muslim seperti indonesia, arab saudi, iraq,dan negeri kaya lainnya seperti venezuela, timor leste, dan lain-lain. Inilah yang harus kita bayar dari perjuangan sia-sia demokrasi; dari,untuk dan oleh rakyat; dengan darah,harta karun kita yang terampas, dan harga diri yang tak ada nilainya. Kapitalisme juga yang telah menumbuhkan benih arogansi manusia 'fir'aun' abad 21 semacam George W Bush yang menyeru, "Sesungguhnya aku adalah tuhanmu yang maha tinggi,..maka kalian tidak boleh memiliki pendapat lain kecuali pendapatku,...hanya ada dua pilihan bagi kalian :' charot'jika kalian berada di belakangku atau 'stick' jika kalian berada di balik para teroris itu (umat islam yang berjuang fii sabilillah)" ..
Tuhan macam inikah yang kini di dewakan oleh hampir seluruh pemimpin dan umat muslim kita? Tuhan macam inikah yang kini mereka takuti? bukankah Allah lagi yang mereka dewakan sebagai ilah yang tidak hanya mereka sembah tapi juga dengar, taati, dan takuti? mana syahadat mereka 'laa ilaaha ilallah Muhammadur rasulullah'?...
Hanya khilafah yang akan meruntuhkan arogansi manusia semacam Bush, Obama, Husni Mubarak, dan penguasa zhalim lainnya. Hanya khilafah yang mampu menghapus imperialisme para penjajah di berbagai negeri di dunia. Hanya khilafah yang mampu merealisasikan pernyataan Umar Bin Khattab ra, "sejak kapan engkau memperbudak manusia padahal mereka telah di lahirkan oleh ibu-ibu mereka sebagai orang merdeka?"..hanya khilafah yang mampu meletakkan nilai-nilai perlindungan atas umat manusia; darah,harta,kehormatan dan kemuliaan mereka sebagai manusia yang beradab dan bermartabat.Khilafahlah yang menghalangi peperangan yang sia-sia dan menjaga hak generasi-generasi yang akan datang terhadap lingkungan yang bersih tanpa polusi. Kepemimpinan umat manusia dalam daulah khilafah akan di serahkan pada para laki-laki muslim yang hati mereka telah dihidupkan oleh keimanan. Mereka tidak menginginkan kerusakan dan kesombongan di dunia. Mereka mengetahui bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab dan amanah yang akan di mintai pertanggung jawaban oleh Allah di yaumil hisab:
" Tahanlah mereka (di tempat pemberhentian)karena sesungguhnya mereka akan di tanya"(Qs.ash shaffat:24)
Walhasil,betapa besar umat manusia butuh kepemimpinan semacam ini.
Maha benar Allah dalam firmanNya:"tiadalah kami mengutus engkau melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam " (Qs.al anbiya':107)
Sunday, January 30, 2011
Peran "Lawrence Of Arabia" di Balik Berdirinya Kerajaan Saudi

Menurut logika yang sehat, seharusnyalah Kerajaan Saudi Arabia menjadi pemimpin bagi Dunia Islam dalam segala hal yang menyangkut keIslaman. Pemimpin dalam menyebarkan dakwah Islam, sekaligus pemimpin Dunia Islam dalam menghadapi serangan kaum kuffar yang terus-menerus melakukan serangan terhadap agama Allah SWT ini dalam berbagai bentuk, baik dalam hal Al-Ghawz Al-Fikri (serangan pemikiran dan kebudayaan) maupun serangan Qital.
Seharusnyalah Saudi Arabia menjadi pelindung bagi Muslim Palestina, Muslim Afghanistan, Muslim Irak, Muslim Pattani, Muslim Rohingya, Muslim Bosnia, Muslim Azebaijan, dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Tapi yang terjadi dalam realitas sesungguhnya, mungkin masih jadi pertanyaan banyak pihak. Karena harapan itu masih jauh dari kenyataan.
Craig Unger, mantan deputi director New York Observer di dalam karyanya yang sangat berani berjudul “Dinasti Bush Dinasti Saud” (2004) memaparkan kelakuan beberapa oknum di dalam tubuh kerajaan negeri itu, bahkan di antaranya termasuk para pangeran dari keluarga kerajaan.
“Pangeran Bandar yang dikenal sebagai ‘Saudi Gatsby’ dengan ciri khas janggut dan jas rapih, adalah anggoa kerajaan Dinasti Saudi yang bergaya hidup Barat, berada di kalangan jetset, dan belajar di Barat. Bandar selalu mengadakan jamuan makan mewah di rumahnya yang megah di seluruh dunia. Kapan pun ia bisa pergi dengan aman dari Arab Saudi dan dengan entengnya melabrak batas-batas aturan seorang Muslim. Ia biasa minum Brandy dan menghisap cerutu Cohiba, ” tulis Unger.
Bandar, tambah Unger, merupakan contoh perilaku dan gaya hidup sejumlah syaikh yang berada di lingkungan kerajaan Arab Saudi. “Dalam hal gaya hidup Baratnya, ia bisa mengalahkan orang Barat paling fundamentalis sekali pun. ”
Bandar adalah putera dari Pangeran Sultan, Menteri Pertahanan Saudi. Dia juga kemenakan dari Raja Fahd dan orang kedua yang berhak mewarisi mahkota kerajaan, sekaligus cucu dari (alm) King Abdul Aziz, pendiri Kerajaan Saudi modern.
Bukan hanya Pangeran Bandar yang begitu, beberapa kebijakan dan sikap kerajaan terakdang juga agak membingungkan. Siapa pun tak kan bisa menyangkal bahwa Kerajaan Saudi amat dekat—jika tidak bisa dikatakan sekutu terdekat—Amerika Serikat. Di mulut, para syaikh-syaikh itu biasa mencaci maki Zionis-Israel dan Amerika, tetapi mata dunia melihat banyak di antara mereka yang berkawan akrab dan bersekutu dengannya.
Barangkali kenyataan inilah yang bisa menjawab mengapa Kerajaan Saudi menyerahkan penjagaan keamanan bagi negerinya—termasuk Makkah dan Madinah—kepada tentara Zionis Amerika.
Bahkan dikabarkan bahwa Saudi pula yang mengontak Vinnel Corporation di tahun 1970-an untuk melatih tentaranya, Saudi Arabian National Guard (SANG) dan mengadakan logistik tempur bagi tentaranya. Vinnel merupakan salah satu Privat Military Company (PMC) terbesar di Amerika Serikat yang bisa disamakan dengan perusahaan penyedia tentara bayaran.
Ketika umat Islam dunia melihat pasukan Amerika Serikat yang hendak mendirikan pangkalan militer utama AS dalam menghadapi invasi Irak atas Kuwait beberapa tahun lalu, maka hal itu tidak lepas dari kebijakan orang-orang yang berada dalam kerajaan tersebut.
Langkah-langkah mengejutkan yang diambil pihak Kerajaan Saudi tersebut sesungguhnya tidak mengejutkan bagi yang tahu latar belakang berdirinya Kerajaan Saudi Arabia itu sendiri. Tidak perlu susah-sudah mencari tahu tentang hal ini dan tidak perlu membaca buku-buku yang tebal atau bertanya kepada profesor yang sangat pakar.
Pergilah ke tempat penyewaan VCD atau DVD, cari sebuah film yang dirilis tahun 1962 berjudul ‘Lawrence of Arabia’ dan tontonlah. Di dalam film yang banyak mendapatkan penghargaan internasional tersebut, dikisahkan tentang peranan seorang letnan dari pasukan Inggris bernama lengkap Thomas Edward Lawrence, anak buah dari Jenderal Allenby (jenderal ini ketika merebut Yerusalem menginjakkan kakinya di atas makam Salahuddin Al-Ayyubi dan dengan lantang berkata, “Hai Saladin, hari ini telah kubalaskan dendam kaumku dan telah berakhir Perang Salib dengan kemenangan kami!”).
Film ini memang agak kontroversial, ada yang membenarkan namun ada juga yang menampiknya. Namun produser mengaku bahwa film ini diangkat dari kejadian nyata, yang bertutur dengan jujur tentang siapa yang berada di balik berdirinya Kerajaan Saudi Arabia.
Konon kala itu Jazirah Arab merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, sebuah kekhalifahan umat Islam dunia yang wilayahnya sampai ke Aceh. Lalu dengan bantuan Lawrence dan jaringannya, suatu suku atau klan melakukan pemberontakan (bughot) terhadap Kekhalifahan Turki Utsmaniyah dan mendirikan kerajaan yang terpisah, lepas, dari wilayah kekhalifahan Islam itu.
Bahkan di film itu digambarkan bahwa klanSaud dengan bantuan Lawrence mendirikan kerajaan sendiri yang terpisah dari khilfah Turki Utsmani. Sejarahwan Inggris, Martin Gilbert, di dalam tulisannya “Lawrence of Arabia was a Zionist” seperti yang dimuat di Jerusalem Post edisi 22 Februari 2007, menyebut Lawrence sebagai agen Zionisme.
Sejarah pun menyatakan, hancurnya Kekhalifahan Turki Utsmani ini pada tahun 1924 merupakan akibat dari infiltrasi Zonisme setelah Sultan Mahmud II menolak keinginan Theodore Hertzl untuk menyerahkan wilayah Palestina untuk bangsa Zionis-Yahudi. Operasi penghancuran Kekhalifahan Turki Utsmani dilakukan Zionis bersamaan waktunya dengan mendukung pembrontakan Klan Saud terhadap Kekalifahan Utsmaniyah, lewat Lawrence of Arabia.
Entah apa yang terjadi, namunhingga detik ini, Kerajaan Saudi Arabia, walau Makkah al-Mukaramah dan Madinah ada di dalam wilayahnya, tetap menjadi sekutu terdekat Amerika Serikat. Mereka tetap menjadi sahabat yang manis bagi Amerika.
Selain film ‘Lawrence of Arabia’, ada beberapa buku yang bisa menggambarkan hal ini yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Antara lain:
* Wa’du Kissinger (Belitan Amerika di Tanah Suci, Membongkar Strategi AS Menguasai Timur Tengah, karya DR. Safar Al-Hawali—mantan Dekan Fakultas Akidah Universitas Ummul Quro Makkah, yang dipecat dan ditahan setelah menulis buku ini, yang edisi Indonesianya diterbitkan Jazera, 2005)
* Dinasti Bush Dinasti Saud, Hubungan Rahasia Antara Dua Dinasti Terkuat Dunia (Craig Unger, 2004, edisi Indonesianya diterbitkan oleh Diwan, 2006)
* Timur Tengah di Tengah Kancah Dunia (George Lenczowski, 1992)
* History oh the Arabs (Philip K. Hitti, 2006)
Sebab itu, banyak kalangan yang berasumsi bawah berdirinya Kerajaan Saudi Arabia adalah akibat "pemberontakan" terhadap Kekhalifahan Islam Turki Utsmani dan diback-up oleh Lawrence, seorang agen Zionis dan bawahan Jenderal Allenby yang sangat Islamofobia. Mungkin realitas ini juga yang sering dijadikan alasan, mengapa Arab Saudi sampai sekarang kurang perannya sebagai pelindung utama bagi kekuatan Dunia Islam, wallahu a'lam
Sumber : eramuslim
'Lawrence of Arabia' was a Zionist, says historian
Source: The Jerusalem Post
February 22, 2007
Acclaimed Middle East historian Sir Martin Gilbert revealed this week that Lt.-Col. Thomas Edward Lawrence - better known as "Lawrence of Arabia" - was actually a strong Zionist.
Citing recently opened British archives, Gilbert said that Lawrence, who played a key role in Arab nationalism during and after the first World War, firmly advocated a sovereign Jewish state from the Jordan River to the Mediterranean Sea.
Lawrence is most famous for having organized Arab irregular forces to combat the Ottoman Empire during the war. He is also renowned for having adopted Arab customs and for wearing Arab-style robes, even into battle.
But he didn't believe the Arabs had a chance of building anything worthwhile in the Middle East without the presence of a Jewish state, according to Gilbert.
"He believed that the only hope for the Arabs of Palestine and the rest of the region was Jewish statehood - that if the Jews had a state here, they would provide the modernity, the 'leaven,' as he put it, with which to enable the Arabs to move into the 20th century.">
Saturday, January 22, 2011
Friday, January 14, 2011
Thursday, January 13, 2011
Mengaku Bersalah
Karena itu, Rasulullah bertanya, apakah orang ini sedang mengalami gangguan kejiwaan. "Ia tidak gila!" jawab sahabat yang hadir.
Namun, Rasulullah SAW masih juga meragukan ketulusannya. Beliaupun menyuruh salah seorang di antara yang hadir untuk mencium aroma tubuhnya. Jangan-jangan ada bau minuman keras, bisa diduga laki-laki ini sedang mabuk berat. Juga tak tercium sedikit pun bau minuman keras di tubuhnya. Untuk lebih meyakinkan, Rasulullah SAW bertanya langsung kepadanya, apakah betul Anda berzina. "Ya," jawab Ma'iz, seraya mendesak agar segera dibersihkan dirinya dari dosa zina. Dia siap menjalani hukuman rajam.
Kasus serupa terjadi pada diri wanita Ghamidiyah asal lembah Juhainah. Di hadapan Rasulullah SAW ia mengaku hamil hasil zina, dan memohon agar dijatuhi hukuman rajam seperti terjadi pada Ma'iz. Rasulullah SAW menganjurkan agar ia segera bertaubat kepada Allah, sambil menunggu lahir bayi yang di kandungnya.
Wanita itu kembali melaporkan diri setelah bayinya lahir, dan mendesak agar segera menjalani eksekusi. Rasulullah SAW masih juga menyuruhnya pulang dan memberinya kesempatan untuk menyusui sampai anaknya bisa disapih.
Wanita malang ini datang kembali sambil menggendong anaknya, di tangannya ada sepotong roti sebagai tanda bahwa sang anak benar-benar sudah disapih.
Kesempatan ini mestinya dapat dimanfaatkan oleh Ghamidiyah untuk melarikan diri. Rasulullah pun tidak akan menyuruh para sahabat mencari wanita itu, atau memasukkannya dalam daftar buronan jika benar bahwa setelah anaknya disapih ternyata ia tidak melaporkan diri. Tampaknya Rasulullah SAW sangat memahami bahwa wanita ini sungguh-sungguh bertaubat dan tidak akan mengulangi perbuatannya.
Ma'iz dan Ghamidiyah adalah sosok dua anak manusia langka di zaman sekarang ini. Keduanya datang melaporkan diri, mengakui kesalahannya, lalu minta dihukum dengan hukuman paling berat yang merenggut nyawa.
Keduanya seperti tidak yakin bahwa taubatnya diterima oleh Allah, jika hanya dengan lantunan doa dan istighfar, tanpa menjalani hukuman rajam. Keduanya memilih hukuman di dunia walaupun teramat berat, daripada di akhirat nanti dihukum dengan hukuman yang lebih dahsyat. Usai eksekusi para sahabat masih memperdebatkan, apakah taubatnya diterima oleh Allah atau tidak? Bahkan Umar bin Khattab mempertanyakan, apa layak menshalatkan jenazah orang yang berbuat dosa zina seperti ini?
"Sungguh Allah telah menerima taubatnya. Bila taubatnya dibagikan kepada seluruh umat ini, niscaya taubatnya masih tersisa," ujar Rasulullah SAW meyakinkan. (HR Muslim No 1695).
Perubahan drastis bisa terjadi pada diri seorang Muslim, manakala keyakinan akan adanya kehidupan di hari akhirat, meresap ke lubuk hati yang paling dalam. Wallahu a'lam.
(Dimuat di Republika)
Friday, January 7, 2011
Permainan Terorganisir di Dunia Fana

DUNIA dalam PANDANGAN ALLAH (ISLAM)
" Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? " (Qs al an'aam : 32)
" Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan " (Qs ali imran : 185)
Yup! Dunia itu penuh dengan permainan dan senda gurau. Dunia juga penuh dengan kesenangan yang memperdayakan.
Coba kita bayangkan!
Sejak bangun tidur hingga akan tidur kembali, kehidupan dunia fana yang kita jalani penuh dengan permainan dan senda gurau serta kesenangan yang memperdayakan.
~ Kita beraktivitas :
1. Menyalakan TV, membaca koran, majalah, media online (internet)
Apa yang kita lihat? Suguhan berupa :
- Berita, baik dan buruk
- Hiburan semacam gosip infotainment (insert,go show,dsb), musik (MTV, inbox, dahsyat, dsb), film (telenovela, sinetron, film (bolly/holly)wood, dsb), komedi (srimulat, extravaganza, opera van java, bukan empat mata, awas ada sulee...dsb), reality show (tolong, termehek-mehek, orang ke 3, dsb), ajang kompetisi bakat (indonesian idol, IMB,dsb), ajang biro jodoh mengumbar syahwat (take me/him out, dsb)
2. Pergi ke :
Pasar/mall
Apa yang kita lakukan?
- Belanja__>belanja yang dibutuhkan atau tak dibutuhkan
- Belanja plus__>window shopping alias cuci mata, nonton pertunjukkan/hiburan yang ada dalam pasar/mall, belanja sambil ngerumpi/nge-gosip
Sekolah/kampus
Apa yang kita lakukan?
- Belajar
- Belajar plus__>refreshing semisal ikut ekskul,bermain,berteman dan bersenda gurau dengan teman, dari yang halal hingga haram semisal berteman tapi mesra, berpacaran, bahkan berzina
3. Kita merayakan :
Hari keagamaan semisal idul fitri, idul adha atau tahun baru
Apa yang kita lakukan?
- Merayakan nya dengan khidmat__> zikrullah, bermajelis ta'lim, dan meningkatkan ilmu dienul Islam
- Merayakan nya dengan euforia berlebihan hingga bersikap berlebih-lebihan dan boros
- Meniup terompet, menyalakan kembang api, petasan
- Ikut 'track-track'an
- Hang out semalaman bahkan berhari-hari
- Berpesta pora
- Bahkan bermaksiyat padaNya di malam tahun baru dengan berzina, dsb
4. Kita bermain dan menonton olah raga dan permainan :
Sepak bola, berkuda, bertinju, dsb
Apa yang kita lakukan?
- Sekedar bermain dan berolah raga atau refreshing
- Bermain dan berolah raga plus__>ikut menjadi bonek mania berakibat pada fanatisme buta, permusuhan, pertikaian, ikut taruhan alias berjudi hingga melalaikan kewajiban kita pada Allah dan orang lain serta hakikat persoalan manusia dalam segala bidang(poleksosbudhankam)
SIKAP KITA?
Melihat begitu banyak aktivitas manusia diatas, bisa kita bayangkan betapa banyaknya aktivitas tersebut dipenuhi dengan senda gurau, permainan, dan kesenangan yang memperdayakan bagi sebagian para pelaku aktivitas tersebut.
Bermain dan bersenda gurau serta menikmati dunia dengan segala perhiasannnya tak mengapa asalkan tak melalaikan kita dari tujuan hidup kita di dunia sebagai seorang muslim dan mu'min.
Dalam islam, memang kita tak dilarang nonton bola via televisi atau main bola itu sendiri. Asal jangan kemudian melalaikan kewajiban yang telah dibebankan oleh agama kita. Dan diharamkan di dalam aktivitas permainan tersebut adanya sebuah kemaksiyatan pada Allah
Allah Swt, berfiman: "...sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." [TQS al-Mâidah [5]: 90]
Imam Asy Syathibi menyatakan: "Hiburan, permainan, dan bersantai adalah mubah atau boleh asal tidak terdapat suatu hal yang terlarang." Selanjutnya beliau menambahkan, "Namun demikian hal tersebut tercela dan tidak disukai oleh para ulama. Bahkan mereka tidak menyukai seorang lelaki yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia dan tempat kembalinya di akhirat kelak, karena ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan suatu hasil duniawi dan ukhrawi". Sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Al Hakim dengan sanad shahih: Setiap permainan di dunia ini adalah bathil, kecuali tiga hal; memanah, menjinakan kuda, dan bermain dengan istri... Yang dimaksud bathil di sini, adalah sia-sia atau yang semisalnya, yang tidak berguna dan tidak menghasilkan buah yang dapat dipetik (Al Muwaafaqaat, Jilid I, hlm 84).
Semua bentuk aktivitas yang melenakan dan memperdayakan kita terkategori dalam permainan yang terorganisir (lahwun munadhomun) dan telah dirancang oleh orang-orang kafir (Zionis) untuk melenakan kaum muslimin.
Hal ini bisa disimak dalam Protocol of Zion poin ke-13 yang diterbitkan Prof. Sergyei Nilus di Rusia pada 1902. Intinya, "Zionisme merencanakan hendak mengundang masyarakat melalui surat-surat kabar waktu itu, untuk mengikuti berbagai lomba yang sudah diprogram. Diharapkan kesenangan baru yang diciptakan itu secara perlahan akan melenakan kaum muslimin dari konflik-konflik kaum muslimin dengan bangsa Yahudi."
0leh karena itu, hendaknya kita jangan terpedaya oleh tipu daya musuh-musuh Allah dalam melenakan dan memperdayakan manusia, termasuk diri kita sebagai muslim dan mu'min.
Alangkah baiknya kita senantiasa fokus pada tujuan penciptaan diri kita oleh Allah dan pada aktivitas yang semakin mendekatkan diri kita pada Allah. Termasuk membentengi diri kita dengan mengkaji Islam untuk kita amalkan dalam kehidupan ber-individu, bermasyarakat, dan bernegara.Serta aktif dalam kegiatan muhasabah, dan da'wah islam/amar ma'ruf nahi munkar
" Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."(Qs ad dzariyat (51) : 55)
" 1. Demi Masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan menasehati supaya menetapi kesabaran. " (QS. Al 'Ashr: 1-3)
Sumber :
-Majelis Taqarrub Ilallah (MTI) DPD I HTI Jatim
Ahad, 2 Januari 2011
di Masjid Mu'awanah
Jl Jemur Handayani I/1 Surabaya
-Referensi Islam

